Jalan #1

Cuaca siang itu sangat terik, sangat terik! mungkin perlu penekanan dengan tanda kutip, cetak miring dan garis bawah untuk menegaskan bahwa siang itu matahari mengerahkan sedikit tenaga ekstra untuk membuat siapapun yang berdiri tanpa pelindung di luar ruangan akan merasa seperti sedang di sangrai hidup – hidup. Saya bersama beberapa orang lain sedang berdiri menunggu bis AKDP yg biasa melewati jalan lintas di daerah Lampung Selatan ini. Saya sedang berada di daerah Masgar, sekitar 60 menit dari Kota Tanjung Karang, Lampung. Lima belas menit berdiri, sebuah bis AKDP tampak di kejauhan, tangan perempuan berjilbab di depan saya melambai bis pun memelankan lajunya dan berhenti tepat di depan kami. Suasan di dalam bis sudah penuh sesak, isinya rata – rata adalah orang keturunan Jawa yang sudah menetap sebagai transmigran di Lampung, maka tak heran klo percakapan di dalam bis di dominasi dengan logat totok bahasa Jawa. Yang tersisa kosong hanyalah lorong tengah antara kursi penumpang, empat orang yang baru saja naik, termasuk saya, mengisi lorong tersebut, berdiri sambil memegang batang besi bulat yang memanjang sepanjang atap bis.

Sekitar lima menit berjalan, bis masuk ke sebuah SPBU, mengantri di belakang pick up colt diesel. Seorang penjaja es berteriak – teriak menjajakan es krim produksi rumahan yang di kemas dalam gelas plastik sambil bergelantungan di pintu bis, seorang bapak berteriak dari balik pintu memanggil tukang es, segelas es krim bertukar tempat dengan selembar dua ribuan dari tangan si bapak. Sejenak hanya terdengar obrolan – obrolan dari para penumpang dan desah nafas ibu – ibu yang tertidur di pojok belakang bis, tiba – tiba pundak saya disentuh dengan tepukan pelan, saya menoleh ke belakang, seorang pemuda usia belasan meminta izin untuk lewat, ia kemudian berdiri di depan pintu bis tanpa turun, memanggil si tukang es yang mulai berjalan menjauh. Selintas saya melihat ke arah si pemuda, jeans hipster sedikit melorot dengan tutup kantong belakang dengan ukuran yang menurut saya sangat ekstrim, jaket hoodie berwarna dasar hitam dengan pola berulang berwarna hijau. Saya sebentar tertegun dan membayangkan diri saya dalam pakaian itu, saya bisa membayangkan betapa tersiksanya saya, bayangkan, dengan t-shirt tipis, jeans dengan potongan regular fit dan sendal jepit seperti ini saja saya sudah mengutuk – ngutuk hari dengan panasnya yang tidak bersahabat, apalagi jika saya harus menggunakan tambahan jaket hoodie yang entah terbuat dari bahan apa, sangat tidak terbayang jika ternyata jaket tersebut terbuat dari bahan polyester yang sangat tidak bersahabat bagi cuaca tropis. Plus celana hipster yang sangat ketat di bagian bawah, gerah dan pasti risih. Saya tersadar saat si pemuda sudah berbalik badan dan memegang segelas es krim produksi rumahan itu. Ia kembali meminta izin lewat menuju kursinya.

Mata saya tertuntun untuk melihat si pemuda, saya bisa melihat ia bersama seorang teman, saya tidak bisa jelas melihat pakaian sang teman, tapi dari kesamaan gaya rambut mereka yang menyembul di balik sandaran kursi bis, saya bisa menebak klo gaya berpakaian mereka serupa. Gaya rambut mereka berpotongan seperti Andhika (vokalis Kangen Band) berwarna sedikit kemerahan, entah warna tersebut dihasilkan dari pewarna rambut atau akibat dari terjemur matahari. Mereka berbincang – bincang, tertawa kecil. Bis yang kami tumpangi kembali berjalan, si ibu di pojok terbangun karena bis menghentak lubang yang ada di jalan keluar SPBU. Perhatian saya masih tertuju ke arah si pemuda bersama temannya, terlihat sangat percaya diri dengan semua atribut yang melekat pada tubuhnya, tidak perduli banyak yang beranggapan gaya itu sering diasosiasikan dengan gaya dandanan yang norak atau kampungan.

Irama monoton laju mesin yang sesekali di selingi suara derak dan decit tiba – tiba berganti, sang supir menyalakan tape dek yang dipasang tepat di atas kepalanya. Saya tau lagu ini, saya tau siapa penyanyinya, saya tau video klip musiknya bahkan saya sangat jelas mampu mengingat wajah sang vokalis. Sekilas saya melihat si pemuda bersama temannya menggoyang – goyangkan kepala tanda mereka menyukai dan sangat familiar dengan musik yang diputar si sopir. Musik berirama mendayu dengan lirik yang seadanya dan komposisi musik secukupnya. Musik yang juga diasosiasikan dengan gaya dandan si pemuda, juga di asosiasikan sebagai musik kampungan. Bahkan banyak musisi – musisi lain yang menilai musik seperti ini hanyalah sampah, musik tak layak dengar dan sebagainya, belum lagi para analis yang menilai bahwa musik seperti ini dibuat hanya utuk memenuhi keinginan industri. Okelah saya tidak ingin terlalu jauh bicara tentang musik ini itu dan tetek bengeknya, saya bukan musisi, hanya penikmat yang tidak fanatis terhadap satu aliran musik saja. Saya hanya merasa kasian kepada orang – orang seperti si pemuda, dicap kampungan (dengan konotasi yang jelek, walaupun pada dasarnya memang orang kampung, sayapun juga orang kampung) bahkan sekarang diberi label alay dengan segala definisinya (sejauh yang saya baca tidak ada definisi positif untuk alay) siapa kita yang berhak untuk menilai orang lain? atas dasar apa kita boleh menilai perilaku seseorang? atas dasar apa kita bisa mengatakan bahwa kita jauh lebih superior dibanding orang – orang tersebut?

Tiba di terminal rajabasa, saya kembali melihat beberapa orang dengan dandanan persis seperti pemuda di dalam bis tadi. Tiba – tiba saja rasanya tubuh saya seperti berada di dalam oven membayangkan pakaian mereka di cuaca yang seterik ini. Tapi mereka terlihat santai, berjalan melintasi terminal yang gersang sambil membawa beberapa tas dengan ukuran lumayan besar. Ingin rasanya saya tawarkan minuman botol ber-ion milik saya kepada mereka, saya takut mereka dehidrasi 🙂 tentu saja niat itu tidak saya lakukan. Mata saya melirik jam tangan, pukul empat lewat dua puluh sore hari, saya harus bergegas. Bis yang akan membawa saya menyebrang selat sunda menuju tempat penugasan yang baru di daerah Jakarta Timur akan berangkat pukul lima sore ini. Semua yang berawal akan berakhir, dan setiap akhir akan membawa awal baru. Semoga.