Penggalan #1

“Aku gak pernah dan kayaknya gak akan pernah bisa cinta sama kamu”  Rena tidak meneruskan kata – katanya. Ia menyesap kopinya yang mulai dingin berharap cairan hitam itu mampu mendorong dahak yang mulai menggumpal di tenggorokannya, matanya mulai berkaca – kaca. Dorongan emosional terkadang mampu menciutkan ruang dan menghentikan waktu, Rena merasa beranda ini menyempit, jarak Ia dan Desta menjadi lebih dekat dan semakin canggung. Kedua tangan Rena menggenggam erat mug hitam kopinya. Desta masih terdiam, Ia merasa kawanan awan comulunimbus yang tebal dan hitam baru saja meneriakkan gelegar petir langsung ke telinganya, suara derit kursi kayu tempat Ia duduk seperti sedang bersahutan dengan gemerisik daun pohon angsana di seberang beranda, menggunjingkan dirinya. Hari ini minggu, bukan hari kerja, bukan April mop bukan hari ulang tahunnya ataupun Rena, bukan hari jadi perkawinan mereka, Desta coba merunut semua kemungkinan bahwa ini hanyalah lelucon, atau mimpi atau sebuah kejutan dari Rena. Tapi Desta tidak menemukan alasan apapun.

***

Mata desta mengerjap, sinar matahari yang menelusup masuk dari tirai jendela kamara tidurnya menerpa langsung wajahnya. sisi ranjang Rena sudah kosong, tidak ada suara gemericik air dari kamar mandi. Desta berdiri dan menuju dapur, Ia hafal kebiasaan istrinya di hari minggu. Lima tahun menikah, hampir setiap minggu pagi Rena selalu “berperang” di dapur, sekedar menyiapkan sarapan pagi atau mencoba resep kue. Minggu pagi adalah satu – satunya waktu dimana Rena bisa merasa menjadi “ibu rumah tangga” selain itu, semua urusan rumah Bik Romlah yang atur dari sarapan pagi, menyiapkan pakaian kerja kedua majikannya, meyiapkan makan malam dan beres – beres rumah. Pagi minggu itu dapur kosong, sarapan sudah sedia di meja tapi tidak ada Rena di sana. Bik Romlah yang muncul dari pantry menyapa Desta dan berlalu ke ruang tengah. Pintu belakang terbuka, sepoi angin pagi masuk ditemani gemerisik daun pohon angsana di seberang beranda belakang rumah ini. Desta menemui istrinya duduk sendirian di beranda belakang, duduk di kursi kayu memeluk kedua kakinya sambil menggenggam mug hitam.

“Pagi sayang”

Rena menoleh dan tersenyum melihat Desta menghampiri dan mengecup kening serta ubun – ubunnya.

“Pagi, tumben hari minggu bangun jam segini? udah sarapan?”

“Minggu pagi itu biasanya istriku tercinta yang nyiapin sarapan, kok hari ini Bik Romlah?”

Rena hanya tersenyum dan mengalihkan pandangannya dari tatapan genit Desta yang kemudian memeluk dan kembali mencium ubun – ubunnya untuk kemudian berlalu ke dapur.

***

“Kamu yakin ini ide bagus?”

“As I notice, yes”

“As you notice? what are you, dumb? Desta? Hey, as I notice he isn’t your kind of guy”

“Dunia aja bisa berubah Wit, masa aku gak bisa”

“Rena, are you sure you wanna spent the rest of your life with the man who doesn’t even know what coldplay is?”

“Sahabatku Deswita yang cantik, usia kita sudah hampir tiga puluh dan kamu masih berfikir kayak anak usia belasan, oh c’mon give me a break! he figured it out what coldplay is, anyway”

Rena menghisap rokoknya menuang air putih dan meminum habis isi gelasnya, Ia menatap Deswita.

“He is a good looking guy you know, having a good position in a good firm, my parents like him for we’ve been friend since high school, what else? aku gak peduli dia gak tau coldplay, bahkan kalo dia gak tau Jacko pun aku rela”

“I see that you just cooking in up, honey. Aku cuma takut kamu terlalu terburu – buru, 27 and single bla bla bla”

“Hey, it isn’t about that. yes I am a single 27 years old girl, so what?”

“Sorry, I didn’t mean it, though”

Deswita membenamkan kepalanya ke dalam bantal. Sesaat kemudian ia bangkit menyalakan laptop dan memutar lagu  twisted logic Coldplay.

“……

Created, then drilled and invaded
If somebody made it
Someone will mess it up

…..”

Advertisements

Penggalan #3

Aku tidak sedang bahagia, tidak sedang berbunga – bunga apalagi sedang jatuh cinta! jauh! bahkan aku menganggap setiap lagu berbahasa romantis yang berputar di playlist komputerku sebagai sindiran! personal assault, personal harrasment, bahkan mungkin personal insult! separah itukah? mungkin, karena ini persoalan personal maka hanya saya yang bisa tau rasanya.

Semua berawal dari rasa kesepian, tepat rasa kesepian! kamu kesepian dan aku kesendirian -hedeh- mungkin kamu hanya memasang tanda “lonely” di pintu apartemenmu, tapi untuk aku, tanda “alone” sudah setahun lebih bahkan mungkin sudah mulai berdebu menggantung di semua celah yang memungkinkan untuk dilihat orang lain. Pintu, jendela, jika saja kecoak mengerti bahasa manusia, mungkin aku juga akan memasang tanda kesendirian di setiap celah yang ada di dinding untuk mengabarkan bahwa saya sudah terlalu lama sendirian dan rela menerima para kecoak untuk bepesta bersama – sama. huh sounds desperate eehh, mau bagaimana lagi, terakhir memiliki pasangan setahun yang lalu (kurang lebih, mungkin lebih, tapi saya tidak mau terdengar terlalu lama :p) itupun hubungan jarak jauh, bukan cuma pisah kota atau selat, kami terpisah pulau terpisah negara! dengan kesempatan bertemu hanya satu tahun sekali, satu tahun sekali, bisa dibayangkan sepeti apa hubungan kami?

Sementara kamu, juga berhubungan jarak jauh tapi hanya terpisah selat, itulah kenapa aku ibaratkan kamu hanya memasang tanda “lonely”. Aku tau bagaimana rasanya terpisah dari pasangan, tapi kalian memiliki kesempatan bertemu yang lebih banyak dan lebih mudah, liburan akhir pekan saja sudah cukup untuk kalian saling bertemu. Empat puluh lima menit perjalanan udara dan kalian sudah bisa saling bergandeng, saling mendekap aaaahh aku iri membayangkannya.

Maafkan aku Tuhan, sekali lagi aku ingin bilang -mungkin- saat itu Engkau sedang iseng dan mempertemukan kami berdua, dua orang dengan status berhubungan jarak jauh, dalam sebuah acara yang mengharuskan kami berdua tampil sebagai orang yang berada dalam spotlight. Aku dan dia berada dalam satu meja, sebagai dua orang keynote speaker dalam sebuah workshop. Adalah hal yang wajar jika selesai acara para panitia menjamu para pembicara dalam perjamuan yang informal, yang artinya, ada banyak kesempatan untuk saling bicara, melempar wacana, berbagi ide bahkan bercanda, dan di sela – sela itu semua kita sempat berbagi kontak pribadi, maksudku bukan hanya nomor ponsel atau alamat twitter, tapi kontak melalui tatapan mata, beberapa kali.

Jauh setelah acara, kita tidak saling kontak walaupun aku akui sesekali aku suka melihat – lihat garis masa twitter-mu, suka membaca postingan di blog-mu, dan aku akui kamu adalah orang yang sangat menarik perhatianku -tepokjidat- kita berdua berada di satu kota, kita berdua sama – sama mempunyai pasangan di seberang lautan. Aku sempat berpikir iseng, ya seandainya kamu juga memiliki pikiran yang sama, why dont we take this chance?

Jadi, mau mulai…

Jadi, mau mulai dari mana?

maksudmu?

[menarik nafas] gw kenal lu kelewat baik, bahkan jadwal toilet lu gw hapal di luar kepala. sudahlah, langsung saja ke pokok permasalahan

[dahi mengernyit] tapi aku benar – benar gk paham maksudmu

[berdiri, berjalan menuju jendela, menatap sesaat keluar sambil menyipitkan mata kemudian membalikkan badan sambil bersender ke kusen jendela] setiap kali lu minta gw kemari, pasti ada hal yang pengen lu ceritain. tapi selalu aja lu gk berani mulai cerita.

[membuang pandangan ke luar jendela, seketika tatapannya terlihat kosong]

ceritain ajalah, toh bukan setahun dua tahun gw dengerin cerita lu, gk ada satupun masalah yang luput dari pendengaran gw, sekarang atau besok tetep aja lu bakal cerita

[menunduk, memijat dahinya menarik nafas dalam] aku takut kamu bosan dengerin cerita yang sama, cerita yang berulang, aku cuma butuh temen di sini, itu saja

lu buang – buang waktu gw, gw siap klo lu mau cerita, kapan aja  [mengambil sweaternya di punggung kursi kemudian berjalan keluar, menutup pintu dengan keras]

***

Dua orang laki – laki itu masih belum beranjak dari tempatnya, sejak sore mereka berada di sana hingga sekarang saat para pelayan mulai mengepel lantai dan menyusun kursi – kursi ke atas meja. Tempat itu akan segera tutup.

“sudahlah, gw pulang.”

lelaki pertama bangkit, meninggalkan beberapa lembar uang di atas kertas tagihan kemudian berjalan menuju tempat parkir. Lelaki kedua seolah tidak menghiraukan kejadian itu, pandangannya tak lepas dari novel grafis epileptik 2 karangan David B. Seorang pelayan kemudian menghampirinya, mereka bercakap sebentar lalu lelaki itu berdiri, memberesi barang – barangnya dan berjalan keluar.

***

i  slept with her

hah?! dia?  lu serius?  dan?

not that kind of uhhhmm you know just bla bla bla

aah yea i got it, but … tetep aja … tolol ….

yah tolol dan saya menikmati semua ketololan yang kami buat

phhewww no string attached eh?

yap sort of way

hahahahahaha jadi itu yang mau lu ceritain?

not exactly, ada hal lain

apa?

……………

kyaknya bakal nyambung besok lagi nih ceritanya

……………

hhhmmmm gw siap denger klo lu udah punya versi lengkapnya

***

wow kjdianya wkt msh sm pcrnya?

Pengirim:  bena rizky

+6285510642xxx

Dikirim:

00:15:23

13-09-2011

#

bbrp kali

Pengirim:  Alfa

+6285758590xxx

Dikirim:

00:17:55

13-09-2011

#

lu msh waras kan ?

Pengirim:  bena rizky

+6285510642xxx

Dikirim:

00:18:02

13-09-2011

#

mksd mu? gk ush ngmong moral ben, kt sm2 bejat

Pengirim:  Alfa

+6285758590xxx

Dikirim:

00:20:19

13-09-2011

#

look whose talking ?! heelloooo  gw cpk bsk krj gw tdr bye

Pengirim:  bena rizky

+6285510642xxx

Dikirim:

00:25:34

13-09-2011

###

ben kayaknya kita mesti berenti deh ngomong soal ini.

emang kenapa pa?

tar ada yang ngerasa – ngerasa gitu, dikirain kita ngomongin dia

dia? ooo dia? terserah lu, yang punya cerita kan situ. jadi gak kelar nih ceritanya?

gak usah deh

sayang banget pa, ceritanya udah kemana – mana lagi.

sinopsis udah kemana – mana mumpung blm selesai, udahan sekarang aja.

hedewwww  [lanjut maen PS]

dan akhirnya cerita ini tidak pernah terselesaikan. karena ada yang merasa terganggu uuhhmm lebih tepat merasa “gw banget” dengan cerita ini.

The END

PS : lagian ini cuma cerita dadakan gara – gara cerita aslinya gagal diteruskan –“

dan dua orang tokoh ini bukanlah homo sodara2 sekalian!

Lingkaran

Pada sebuah lingkaran, terdapat tiga buah jarum yang secara konstan selalu berotasi dengan titik sumbu pada bagian tengah lingkaran. Jarum berbentuk panjang tipis bergerak paling aktif dan cepat di antara yang lain. Pada tiap satu putaran yang dilalui jarum panjang tipis tersebut, jarum panjang yang berbentuk lebih tebal menempuh jarak satu perenampuluh bagian lingkaran itu. Sementara, satu jarum lain yang lebih pendek dari dua rekannya tampak bergerak paling malas. Ia hanya bergerak satu perduabelas bagian dari total lingkar jelajah, setelah jarum panjang yang tebal berputar penuh satu lingkaran atau setelah jarum panjang yang tipis menempuh jarak enampuluh putaran!
Selain ketiga jarum itu, pada lingkaran tersebut juga terdapat angka satu hingga duabelas yang secara berurutan dan serasi mengambil tempat dengan jarak yang sama sepanjang garis bujur lingkaran. Disetiap jeda antar angka berjejer empat buah garis yang membagi ruang itu menjadi lima bagian sama rata.

###

Kursi rotan dengan motif anyaman bambu di teras rumah itu, masih betah menyangga tubuh redi yang telah membenamkan dirinya di sana sejak setengah jam lalu. Sepatu kanvas berwarna cokelat lusuh itu belum diikat namun telah menghuni sepasang kaki redi yang bergoyang – goyang pelan. Asap kembali mengepul, rokok kretek dengan kemasan hijau kekuning – kuningan yang dihisap redi makin memendek. Telepon seluler CDMA redi tiba – tiba bergetar.
“halo”
“………”
“masih dirumah…”
“……….”
“ooo…. Ya udah, tar aku liat lagi deh”
Sebuah percakapan telepon yang dingin dan terkesan tanpa intonasi berlangsung singkat. Redi masih belum beranjak dari kursi rotan itu.
Dari kejauhan terdengar raungan sepedamotor bermesin dua tak mendekat. Redi dapat melihat jelas kedatangan motor itu dari tempat duduknya yang berada di bagian teras rumah sederhana ini. Sang pengendara motor membuka helm dan menyapa redi setelah mematikan mesin dan memarkir motornya. Percakapan terjadi antara redi dan sang pengendara motor, namun obrolan tersebut tidak berlangsung lama. Sang pengendara motor kembali meraungkan kendaraannya dan berlalu setelah menyalakan clacksound dua kali sebagai salam.
Kursi rotan itu masih tidak bergeming. Satu jam sudah pemuda berkacamata minus itu terduduk di atasnya. Andai saja sang kursi adalah makhluk bernyawa dan dapat bicara, mungkin saja telah terjadi percakapan panjang antar mereka berdua. Namun, rekan setia bagi si kursi adalah meja yang terletak tepat di samping kanannya. Meja itu terbuat dari kayu dengan taplak meja dari bahan lateks berwarna kuning gading. Kombinasi tiga benda mati ini merupakan ornamen yang menjadi ciri khas kediaman keluarga Bapak Rafik. Sebuah keluarga ideal yang lahir dari rahim orde baru.
Bayangan yang dihasilkan matahari kini sudah lebih pendek dari subyek aslinya. Jalan yang tadi ramai dipadati pelalu lalang dengan berbagai seragam kini mulai lengang. Bahkan, sebagian anak – anak kecil berseragam putih merah sudah mulai melalui jalan depan rumahnya dari arah yang berlawanan. Redi dan kursi rotan itu masih berdiam diri. Wangi parfum yang ia semprotkan sehabis mandi mulai kehilangan intensitas aroma. Sesaat malah bulir kecil keringat mulai keluar dari pori – pori redi. Rambut redi kini tidak lagi lembab.

***
Adzan ketiga hari ini telah berkumandang lima belas menit yang lalu, adik perempuan redi berseragam putih abu – abu baru saja pulang. Sambil berlalu ia mengucapkan salam dan dijawab dengan lirih oleh Redi. Samar di dalam rumah bercat hijau muda ini mulai terdengar suara televisi. Tidak ada yang berubah di bagian teras, tubuh redi masih tertahan di atas kursi rotan bermotif anyaman bambu itu. Tetap dengan meja kayu bertaplak lateks warna kuning gading. Sudah sejak beberapa jam yang lalu tidak ada lagi asap yang terkepul. Cuaca yang tidak lagi terik mulai mengundang para penjaja makanan keliling mendorong gerobak mereka melalui setapak – setapak perkampungan menjaring rezeki dari penduduk yang mulai berkumpul dan beraktifitas bersama.
“kak udah makan blom?” ringan suara itu berbas basi menanyakan salah satu perkara “keharusan” bagi manusia sebagai makhluk hidup.
“blom, knapa?” datar dan tanpa tekanan.
“bagi duit sih kak, buat jajan” intonasi bergeser kearah bujukan manja adik kepada kakak
Selembar sepuluh ribuan berpindah dari dompet redi ke penguasaan sang adik.
Ufuk barat perlahan mulai jingga, rona gelayut sinar matahari diantara awan – awan kelabu membentuk berkas sinar kemerahan. Kedua orangtua redi telah berada dirumah. Walau hanya pegawai negeri sipil, kedua orangtua redi termasuk tipikal orang yang rajin, rajin cari penghasilan tambahan maksudnya. Tak heran, ketika banyak pegawai negeri lain sudah berada dirumah saat matahari baru sedikit tergelincir dari titik kulminasinya. Kedua orangtua redi memilih untuk tidak berada di rumah, mereka memilih tetap berada di kantor atau mendatangi rumah rekan kerja sambil menawarkan bisnis sampingan yang membutuhkan banyak downline sebagai kaki – kaki dalam piramida bisnis berantai. Tapi sayangnya janji dari upline mereka belum terbukti.
Redi dan kursi tetap mesra, masih berbagi ruang dan waktu. Adzan maghrib terdengar lantang. Sang ayah berteriak memanggil redi masuk. Kepatuhan anak terhadap ayah akhirnya mampu memisahkan cerita romantis redi dan kursi rotan bermotif anyaman bunga. Dengan sedikit kesal redi kembali menanggalkan sepatu cokelat lusuh dari kakinya dan masuk ke dalam rumah.
“gulungan listrik tuh diberesin” nada tegas dan intimidatif dari sang ayah mengembalikan tubuh redi ke arah teras, namun kali ini bukan untuk membenamkan dirinya kembali ke atas kursi rotan. Setengah hati redi menggulung kembali kabel yang sejak siang tadi digunakan untuk mengisi tenaga telepon seluler GSM miliknya. Dengan menenteng gulungan listrik redi melewati sang ayah yang menatap nanar anaknya, selintas sang ayah melirik kearah telepon selular GSM redi yang sedari tadi tidak lepas dari genggaman si anak. Sekilas terbaca “facebook.com”.

_______

ditulis akhir 2008 saat facebook menjadi hip dimana – mana. diposting pertama kali di blog pribadi bulan agustus 2009.

Rumah

Ruslan masih berdiri mematung di depan gerbang rumah itu, dari sejak di bangun hingga akhirnya sekarang berpenghuni, rumah ini memang tidak pernah membuka gerbang depannya selebar ini, atau mungkin baru kali ini Ruslan melihatnya. Rumah ini terletak di pinggiran bukit dekat perkebunan tempat bapak dan emak Ruslan bekerja. Sejak rumah ini dibangun, Ruslan sedikit berterimakasih, separuh jalan setapak dari rumah menuju sekolahnya kini berbalut aspal. Ruslan dapat melihat seekor anjing dengan tinggi setengah tubuh orang dewasa dengan bulu berwarna hitam kecoklatan menatapnya tajam dari balik kandang. Ruslan juga bisa melihat mang Gani, yang bekerja sebagai tukang kebun, sibuk menyiram bunga di halaman yang luas itu. Ruslan akhirnya melanjutkan perjalanannya menuju sekolah, langkahnya ringan dijalan beraspal itu.

Hingga lepas adzan isya, bayangan rumah yang ia lihat tadi pagi masih membekas di benak Ruslan, belum pernah ia melihat rumah sebesar itu. Ruslan membayangkan ia dapat bermain petak umpet, gobak sodor bahkan bermain bola di halaman rumah itu. Belum lagi pagar yang tinggi menjulang, semuanya terbuat dari kayu dan batu. Ruslan membandingkan dengan rumahnya, andaikan rumahnya dibongkar habis dan dijadikan pagar, Ruslan yakin rumahnya tidak mampu mengisi penuh satu sisi saja dari keseluruhan pagar rumah ini. Malam sudah terlalu larut untuk anak seusianya, Ruslan menguap dan terlelap berselimut sarung.

***

Hari ini minggu, dan bukan hari libur bagi anak – anak seusia Ruslan di kampung ini. Mereka akan ikut orangtuanya ke perkebunan, membantu orangtua mereka mengangkat karung berisi pucuk – pucuk teh, membantu menimbang dan mengangkut karung – karung itu ke truk milik perkebunan. Setelah itu, anak – anak seperti Ruslan tidak tahu lagi kemana karung – karung itu dibawa. Di tempat penimbangan, Ruslan melihat seorang bapak yang berada di teras rumah besar itu kemarin pagi. Bapak itu berperawakan tambun berkulit bersih, sangat menonjol berada diantara pemetik teh yang sedang bicara padanya. Ruslan melihat bapaknya sedang bicara kepada bapak bertubuh tambun itu, Ruslan menghampiri, ia kemudian dikenalkan pada bapak bertubuh tambun itu. Fuad, begitu namanya.

Dari cerita bapak, Ruslan baru tahu kalau ternyata pak Fuad adalah pemilik rumah besar bepagar tinggi di pinggir bukit, bukan hanya itu, ternyata pak Fuad juga adalah pemilik perkebunan ini, dan rumah besar itu adalah rumah peristirahatan untuk pak Fuad dan keluarganya. Istilah ini aneh bagi Ruslan, bukankah rumah memang tempat beristirahat untuk para penghuninya? Ia, bapak, emak dan kakak – kakaknya selalu beristirahat di rumah setelah pulang sekolah atau bekerja. Ruslan semakin tidak mengerti ketika bapaknya bilang bahwa pak Fuad memiliki beberapa rumah lain selain di sini, bahkan ada beberapa lagi di luar kota. Otak kecil Ruslan mencoba mencerna, untuk apa pak Fuad memiliki rumah sebanyak itu? apakah di antara rumah – rumah itu ada rumah untuk bekerja? apakah ada rumah tempat bermain? karena rumah pak Fuad yang di dekat perkebunan ini hanya rumah peristirahatan. Tanpa sadar Ruslan kembali terlelap berbalut sarung, tak terasa sudah pukul sepuluh malam, ia harus sekolah besok pagi.

Bapak

Adzan ashar baru saja berkumandang, Galih sudah sejak tadi berada di masjid, ia sedang bergembira bapaknya baru saja pulang. Walau tidak banyak oleh – oleh yang dibawa bapak untuknya, ia tetap saja bergembira sangat bergembira. Setidaknya ia bisa menyelusup diantara emak dan bapak saat tidur malam nanti, aroma tubuh bapak selalu bisa membuat ia tertidur pulas, sudah hampir tiga tahun hidungnya tidak mencium bau bapak yang bekerja ke kota, tapi ia masih sangat ingat bau itu. Bahkan dulu saat bapaknya berangkat merantau, emaknya sengaja tidak mencuci satu sarung bapak yang digunakan untuk menyelimuti si anak semata wayang mereka. Bau sang bapak selalu membuat anak – anak merasa aman begitu kepercayaan masyarakat sekitar. Tapi Galih tidak menemui bapaknya diantara para jemaah lain sore ini, dulu sebelum berangkat ke kota, bapak selalu berada diantara orang – orang di shaf depan.

Seusai sholat galih menemui bapaknya masih berada di rumah, masih duduk di muka jendela, masih dengan posisi semula saat ia berangkat ke masjid. Apakah bapak tidak sholat ke masjid? apakah bapak sholat di rumah? apakah bapak tidak mendengar suara adzan? apakah bapak tidak melihat Galih berangkat ke masjid? banyak pertanyaan yang berputar di kepala bocah berusia delapan tahun itu. Galih menghampiri bapak, bapak tersenyum dan mengangkat Galih ke pangkuannya. Saat itu, galih menyadari ada yang berbeda dari bapak, mata bapak tidak lagi berbinar seperti dulu, tidak ada cahaya yang dulu selalu menghangatkan Galih. Walaupun bapak tersenyum, Galih bisa merasakan ada kegetiran di balik senyum itu, dan Galih semakin merasa asing dengan Bapak.

“sholat dulu pak”

Suara emak pelan mengingatkan bapak dari belakang punggungnya, bapak menoleh dan menyahut kemudian menurunkan Galih dari pangkuannya. Bapak berjalan ke belakang, sesaat kemudian kembali masuk dan menggelar sejadah. Galih memerhatikan itu semua, Galih seperti kehilangan kegembiraan, kehilangan niat untuk menyelusup di antara bapak dan emak nanti malam, Galih melihat bapak sholat, tapi tidak melihat seperti sholat bapak dulu. Bahkan dulu sebelum bapak pergi, Galih ingat bapak yang selalu mengingatkan emak dan dirinya untuk sholat, tapi hari ini, saat kembali dari kota emak yang mengingatkan bapak. Mungkin bapak masih lelah setelah perjalanan jauh dari kota, Galih berharap mudah – mudahan maghrib nanti ia bisa menemui bapak kembali di barisan shaf terdepan.

“mak, galih maen sama fahri ya, salamoalaekom”

Galih pamit dengan salam sekenanya, menemui Fahri yang sudah menunggu di bawah. Rumah kampung sini rata – rata rumah kayu berbentuk panggung, hanya beberapa rumah saja yang dibangun dari bata atau batako seperti rumah pak lurah atau rumah pak Idris juragan sapi di kampung ini. Galih bercerita ke Fahri tentang kepulangan bapaknya, tentang oleh – oleh dan beberapa barang asing yang di bawa bapak dari kota. Galih dan Fahri kemudian hanyut bermain bersama teman – teman sebaya mereka di lapangan balai kampung.

Bapak telah kembali duduk di muka jendela, menatap keluar dengan tatapan kosong. Emak datang membawakan segelas kopi panas dan sepiring gorengan pisang. Bapak menatap dalam ke arah emak, menatap dengan penuh rasa cinta kepada wanita yang akhirnya memberikan keturunan setelah sepuluh tahun menikah. Tidak terasa ada tetesan tetesan kecil mengalir dari mata bapak, emak tersenyum dan menyodorkan kopi ke hadapan bapak.

“Maaf Inah, tiga tahun seperti percuma, sebelum berangkat aku banyak berjanji padamu, pada galih. Aku berjanji saat pulang kau tidak akan lagi menyadap getah – getah damar, kau tidak akan lagi berpanas – panas ke ladang”

hening

“Aku berjanji akan mengajak serta galih dan kau ke kota, galih akan bersekolah di tempat yang bagus, akan menjadi orang yang lebih pintar dari anak – anak lain dikampung ini, aku gagal nah, aku gagal sebagai bapak, aku gagal sebagai suami”

Tetesan bulir air mata kini juga membasahi pipi emak, wanita itu sesungguhnya rapuh, namun ia harus bisa sedikit bertahan untuk tidak ikut dalam kesedihan suaminya.

“sudahlah pak, kehidupan kita di sini juga masih bagus, Galih masih bisa bersekolah bersama anak – anak yang lain. Yang terpenting kami masih memiliki Bapak di sini, Bapak mungkin hanya mantan pekerja pabrik di kota, tapi tidak akan pernah menjadi mantan bapak untuk galih. Galih sangat mencintaimu pak, ia selalu bercerita tentang mimpi – mimpinya bersama bapak, emak yakin kegembiraan terbesar Galih adalah bisa berkumpul kembali bersama Bapak dan emak di sini, di kampung ini, di rumah kita sendiri”

“salamelekoomm”

Sedikit berlari Galih menaiki tangga kayu dan masuk ke rumah, bocah kecil sedikit ingusan itu melihat emak dan bapak sedang tersenyum ke arahnya. Bapak memanggil dirinya, dan Galih dapat melihat ada cahaya kembali benderang di mata bapak, bapak memeluk Galih dan emak erat, lebih erat dari yang pernah bapak lakukan kemudian mencium satu – satu kening kedua orang yang ia cintai itu.

Hujan turun sebentar lagi

“Aku bisa mencium baunya, mak”

Itu kata – kata terakhir yang bisa diingat oleh Emak sebelum Tayak pergi meninggalkan kampung itu di satu sore yang mendung. Setelah pertengkaran hebat, Emak tidak bisa lagi membendung keinginan kuat anaknya untuk merantau, pergi meninggalkan kampung tempat ia dibesarkan, meninggalkan sahabat – sahabatnya, meninggalkan Vina, gadis seberang rumah yang jelas – jelas menaruh hati padanya. Meninggalkan sepetak sawah yang Bapak berikan untuknya.

Bapak sudah tidak lagi bicara padanya sejak pertama kali Tayak menyatakan keinginan untuk merantau, Bapak tidak pernah setuju. Sebagai orangtua, Bapak selalu berharap Tayak mau melanjutkan menggarap sawah yang sudah menjadi sumber penghasilan keluarga ini turun temurun. Bapak selalu berharap suatu hari Tayak mengenalkan seorang gadis untuk dipinang, seorang gadis dari kampung mereka sehingga Bapak bisa dengan jelas mengetahui asal – usulnya.

“Hujan turun sebentar lagi”

Suara Bapak mengisi kekosongan, ia kembali bicara kepada Tayak, Bapak tidak sanggup lagi untuk bungkam, ia terlalu mencintai anak bungsunya itu, Bapak terlalu mengkhawatirkan keadaanya nanti. Merantau jauh ke kota, berada di tempat yang asing, bising dan tidak bersahabat bagi pendatang. Meskipun Bapak tahu hujan tidak akan menyurutkan langkah Tayak, tetap saja Bapak berharap kali ini Tayak akan sedikit menunda kepergiannya.

“Tidak Pak, meskipun mendung sudah menggelayut, hujan tidak akan turun sore ini, aku bisa mencium baunya”

Bapak dan Emak sangat mengenal tabiat Tayak, pantang surut langkah jika tekad sudah membulat, tabiat keturunan dari Bapaknya. Tayak mengucapkan salam, mencium tangan kedua orangtuanya, mengangkat ransel dengan mantap dan melangkah pergi. Namun, kali ini Bapak benar, belum hilang tubuhnya di ujung jalan, air dari langit tumpah, ruah sejadi – jadinya. Emak bisa melihat tayak terus berjalan, dan sesekali berlari kemudian menghilang di balik belokan, emak menatap bapak yang memejamkan mata, sebuah doa terbang ke langit dan air mata emak turun bersama hujan sore itu.

Satu

Tekad lelaki itu telah bulat. ia berjalan menuju pintu, pada punggungnya terpanggul sebuah ransel besar, sepertinya ia hendak bepergian jauh. saat itu jarum pendek jam dinding kamarnya masih menunjuk angka empat.

###

Gemericik air sungai yang terdengar jelas dari rumah Fahri seolah menjadi irama buaian yang meninabobo-kan bocah kecil ingusan itu. Seorang lelaki tampak bergegas berjalan melewati halaman rumahnya. Tak lama kemudian terdengar lantang suara adzan membangunkan semua penghuni kampung untuk mengucapkan rasa syukur, sekaligus bentuk kepatuhan menghadap sang khalik. Di bagian lain kampung itu seorang bocah kecil lain baru saja melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Ia memakai sarung kotak – kotak dengan peci bulat berwarna kelabu, langkahnya mantap menuju ke arah surau yang berada di bagian tengah kampung mereka, dekat alun – alun desa. Anak itu adalah Galih sahabat Fahri.

Fahri terbangun setelah sang ibu berkali kali menarik kakinya. Ia memang tidak pernah bisa bangun sendiri untuk melaksanakan sholat subuh. Fahri bergegas mencuci muka, mengambil air wudhu, mengambil sarung dan kopiah hitamnya kemudian ia bergegas berlari kecil menuju surau. Di tengah perjalanan ia berhenti, ia melihat keramaian yang tak lazim di halaman rumah guru bahasa inggris mereka, rumah ibu isna. Pada birunya kegelapan langit subuh ia melihat sang sahabat, Galih sudah berdiri diantara keramaian yang sebagian besar merupakan bapak – bapak separuh baya yang bersiap menuju surau. Belum sempat Fahri menghampiri sang sahabat, dari jauh terdengar suara sirene polisi mengaung ngaung di sunyinya udara subuh kampung itu. serentak semua kepala menolehkan mukanya menuju ke arah sirene, dan keramaian itu memberikan jalan kepada sebuah mobil ambulans dan beberapa mobil polisi yang memasuki pekarangan rumah yang berada dekat dengan alun – alun desa itu.

Sehabis sholat subuh, Galih dan Fahri bergegas kembali ke rumah ibu Isna. mereka ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Setibanya di rumah itu mereka hanya menemui beberapa orang berpakaian seragam coklat dengan perut sedikit buncit berlalu – lalang di sekitar rumah itu, tidak ada siapa – siapa lagi. Pita berwarna kuning dari plastik tampak dilingkarkan pada seluruh bagian rumah itu, plastik itu bertuliskan dengan bahasa inggris, Galih dan Fahri yang baru duduk di kelas empat SD itu hanya berfikir bahwa itu adalah dekorasi baru untuk rumah ibu Isna, dan karena ibu Isna adalah guru bahasa inggris maka pita itu juga menggunakan bahasa inggris pula. Mereka pun memutuskan pulang dan berharap dapat bertemu dengan ibu Isna di sekolah pagi ini.

Bingkisan berwarna biru

Hujan deras sepanjang hari ini membuat jalanan di daerah rumah Tio tergenang, setapak kecil bertanah merah basah. Hujan sudah tidak terlalu deras, Tio, lelaki kecil kelas lima sekolah dasar itu berlari kecil melompati genangan – genangan air, menyusur jalan kampung menuju sebuah rumah bercat putih di tengah kampungnya. Ia terlihat tergesa, air hujan tidak menyurutkan semangatnya.

Rumah yang ia tuju tepat berada di seberang kantor kelurahan, bercat putih dengan pagar kayu setinggi lutut. Taman bunga mengisi hampir seluruh bagian depan halaman rumah itu. Rumah itu lengang, pintunya tertutup, tirai – tirai jendela yang biasanya terbuka kini rapat tertutup. Tio mematung berdiri di depan pintu pagar rumah itu, ia berharap ada seorang gadis kecil duduk menonton hujan di depan jendela.

Astri, begitulah nama si gadis kecil teman sekolah Tio. Mereka sering berangkat sekolah bersama, bermain bersama, mengaji bersama. Kemarin pagi, di sekolah Astri bercerita bahwa keluarganya akan pindah ke kota hari ini. Seperti sebuah cerita epik perpisahan pangeran dan putrinya, Tio mendengar cerita itu dengan hati yang patah berteman hujan yang sejak subuh sudah mengguyur. Bagi Tio, Astri bukan lagi sekedar sahabat, bukan hanya teman sekolah yang cerdas atau teman yang pintar mengaji, Astri sudah merasuk menjadi sebagian jiwanya, separuh hidup yang membuat ia selalu berlari riang di pagi hari menuju sekolah. Semangat sore menuju surau kampung untuk mengaji demi dapat terus bersama dengan Astri.

Tio memberanikan diri membuka pagar dan melangkah masuk. Lelaki kecil itu mengetuk pintu, memberi salam. Hingga salam ketiga masih tidak ada jawaban dari dalam rumah. Tio terhenyak, terduduk di depan pintu rumah bercat putih itu, ia tidak paham apa yang ia rasakan, ia tidak mengerti arti cinta, ia tidak tahu arti kehilangan. Ia hanya paham bahwa mulai maghrib nanti ia akan berjalan sendiri ke surau, besok pagi ia akan berlari – lari sendiri menuju sekolah, ia akan sendirian menyebebrangi sungai dengan rakit kecil yang mereka buat berdua.

Tetesan air hujan yang membasahi badannya tidak cukup untuk membasuh semua ingatan bersama Astri. Tio berharap tadi pagi ia masih akan bertemu Astri, Tio berharap masih ada kesempatan bagi mereka untuk bertemu sebelum kepindahan keluarga Astri, berharap masih ada waktu untuknya memberikan bingkisan kecil berwarna biru ini.

“Aku sisipkan rindu untukmu di sini”

Lirih suara Tio terbawa hujan.