Kebun Rambutan

Kebun rambutan ini semakin mengecil setiap tahun, bukan karena aku yang bertumbuh besar tapi karena selalu saja ada bangunan baru yang mengharuskan beberapa pohon rambutan merelakan kehidupan mereka untuk beton – beton itu. Tahun kemarin kos – kosan sepuluh pintu dibangun di sisi timur kebun ini, tahun ini sebuah rumah type 36 menjadi penghuni baru sisi barat kebun yang berluas kira – kira 1 hektar. Rumah dan kos – kosan itu melengkapi beberapa bangunan lain yang sudah lebih dulu ada sebelumnya, sebuah rumah yang bersisian dengan si rumah baru dan ruko yang berada di sisi selatan yang berhadapan langsung dengan jalan raya. Kebun rambutan ini bukan kebun milik keluarga kami, aku hanya suka melewatinya. Sejak ayah mengajak kami pindah ke sini aku sudah merasa memiliki hubungan spesial dengan kebun rambutan yang berbatasan langsung dengan halaman rumah kami ini. Pertama kali pindah saat kelas 2 SD, keluarga kami di sambut dengan buah – buahnya yang matang memerah, aku tak peduli siapa yang memiliki kebun ini aku berlarian menghambur, memanjat, memetik dan memakan setiap buah yang bisa di raih oleh tanganku. Sekitar seminggu kemudian aku baru mengetahui pemilik kebun ini, orang – orang sekitar memanggilnya dengan sebutan kakek, seorang pria paruh baya berambut perak berperawakan kecil. Ia terkekeh ketika melihat aku memanggul sekantong rambutan sambil berlari pulang. Ia menghampiriku di beranda rumah, tempat aku menumpahkan isi kantong kresekku. Aku yang saat itu sendirian di rumah tidak ambil pusing pada keberadaannya, toh aku rasa seorang kakek tidak akan mampu membahayakanku. Sambil tertawa dia mengatakan akan memanggil polisi untuk menangkap pencuri. Keningku berkerut berusaha mencerna perkataannyam aku menoleh ke kanan kiri, memastikan tidak ada orang lain di sekitar kami apalagi pencuri. Mata si kakek kemudian melirik ke arah buah rambutan yang berserakan di beranda rumah, sesaat kemudian aku baru menyadari bahwa akulah si pencuri yang dimaksud si kakek.

Bukan tanpa alasan ayahku mengajak kami pindah kemari, sebuah kabupaten kecil dengan akses transportasi yang belum terlalu memadai, bayangkan setelah pukul 5 sore jangan harap akan bertemu dengan angkutan umum lagi. Bahkan pasar tradisionalnya masih menggunakan sistem “hari pasaran”. Dalam 10 tahun kedepan, kabupaten ini akan menjadi salah satu kabupaten termaju di provinsi ini, begitu menurut ayah, Ibu dan kami anak – anaknya hanya bisa mengiyakan walaupun itu artinya ibu dan ayah harus bersiap satu jam lebih pagi untuk menuju kantor masing – masing di Kota Palembang. Dari ketiga anak, aku yang paling bisa beradaptasi di sini, aku suka di sini, sepi dan banyak lapangan terbuka tempat bermain walaupun aku harus bermain sendirian. Dua tahun sejak kepindahan, Kakak pertamaku mulai tidak kerasan, Ia yang sudah berada di kelas satu SMA akhirnya dititipkan ke rumah nenek di Bandung dan melanjutkan sekolah di sana. Dua tahun sejak itu giliran kakak perempuanku yang tidak betah. Ayah dan ibu sepakat memindahkan sekolahnya ke Palembang dengan satu syarat, tanpa ngekos atau tinggal di rumah kerabat artinya kakak perempuanku harus bolak – balik sekolah rumah sama seperti ayah dan ibu. Jadilah setiap hari, kecuali sabtu dan minggu, sejak pukul setengah enam pagi hingga lima sore aku menjadi penghuni tunggal di rumah. Rumah, halaman hingga kebun rambutan menjadi medan pertempuranku setiap hari, kejadian seperti itu berlangsung hingga kakak perempuanku menyelesaikan kuliahnya.

Aku lupa kapan terakhir berlari – lari di tengah rimbun kebun ini. Sejak SMA aku sudah jarang berada di rumah, bukan pindah sekolah seperti kakak – kakakku, Tapi lebih karena masa puber yang menyodok – nyodok ingin ditampilkan, ingin mendapat ruang lebih, ingin mendapat kesempatan dipertunjukkan. Jadilah masa SMA aku habiskan di lapangan bola, organisasi siswa intra sekolah dan beberapa kegiatan luar sekolah lain. Ayah suka aku aktif dan ketergantunganku bermain di kebun rambutan berkurang drastis. Aku akui terkadang godaan untuk menyambangi dahan – dahan rapuh pohon rambutan yang mulai tua kadang muncul, hanya saja ego seorang siswa SMA memberikan batasan itu. Kini sudah delapan tahun aku tidak lagi tinggal serumah dengan ayah dan ibu, aku sudah pindah ke kota lain, bukan karena bosan atau tidak betah di kabupaten kecil itu. Tapi panggilan pekerjaan mengharuskan aku berada di seberang lautan. Sedikit banyak ramalan ayah memang terbukti, kabupaten ini berkembang pesat. Setidaknya sejak masuk kuliah aku bisa melihat sendiri perkembangan kabupaten ini, cepat, meninggalkan kabupaten – kabupaten lain, walau harus diakui juga perkembangan ini terasa sangat instan terkesan karbitan, prematur, semakin aku dewasa, semakin aku tidak menyukainya.

Untuk ke delapan kalinya aku menjalani “ritual” mudik lebaran, kerinduan menyesap udara kampung sudah tidak setebal dulu lagi. Tahun – tahun pertama bekerja aku sangat menyukai mudik, kembali ke kampung dengan tradisinya, meresapi kesederhanaan orang – orangnya, berbaur dengan kesahajaan adatnya. Delapan tahun berlalu, kampung ini semakin “kering”. Delapan tahun dan kampung ini berusaha menjadi lebih kota dari kota sendiri. Beberapa tahun yang lalu sepanjang jalan masih dipenuhi dengan pepohonan dan semak. Kini, hutan jenis baru telah menghuni sepanjang jalan, hutan berbatang beton tiga lantai yang menyapa dengan lambaian lembar rolling door-nya. Aku terpaksa tinggal di kota besar karena pekerjaan, aku tetap merindui kerimbunan hutan, cicit burung yang terbang bebas dan menggoda dengan tarian mereka dari atas dahan. Tetap menghasrati hamparan rawa sebagai tempat memancing. Sayangnya para developer itu tidak sependapat denganku, dan pemerintah mengamini hal itu. Hektaran rawa yang menjadi tempat resapan air ditimbun, pemukiman dibangun di atasnya. Bukan hanya satu perumahan, developer lain dapat dipastikan segera menyusul. Kabupaten ini sangat potensial dengan segala kekayaan alamnya, itu kata mereka.

Ayah benar, kabupaten ini maju pesat sampai aku menyadari bahwa salah satu alasan kepindahan kami kemari kurang lebih sama dengan kedatangan para developer itu. Delapan tahun meninggalkan kampung ini, kini aku berdiri diantara pohon – pohon rambutan itu. Memandangi rimbunnya, menghirup aroma kematian dari daun – daun yang mulai menguning, dahan – dahan yang mulai keropos dan akar yang mulai mengering. Dua puluh tiga tahun aku menjadi penghuni kampung ini, menghidupi semua urat dan nadinya, kini aku sadar aku menjadi salah satu racun yang menggerogotinya. Tinggal menungu waktu saja untuk kebun rambutan ini berubah menjadi hutan beton, bergabung bersama hutan beton tiga lantai lain yang telah mulai berdiri beberapa tahun sebelumnya. Mungkin delapan tahun kemudian aku tidak akan melihat lagi satupun dari pohon – pohon rambutan ini. Saat kabupaten kecil ini mulai menyebut dirinya kota.

Kwek kwek kwek

Kwek – kwek – kwek berteriak si bebek, nyaring suaranya, mengalihkan semua perhatian padanya.

kwek – kwek – kwek si bebek mengingat, berusaha mengingat apa gerangan yang terjadi.

kwek – kwek – kwek, kemarin, baru saja kemarin si bebek dengan gagah berkeliling, diperkenalkan sebagai bebek kota kepada semua tempat yang ia singgahi, bertemu dengan bebek – bebek lain yang terlihat malu – malu, tampak minder melihat Si Bebek yang rapi dan bersih layaknya bebek kota. Baru saja kemarin Si Bebek dielu – elukan, di elus tangan – tangan yang tidak ia kenal.

Kwek – kwek – kwek perlahan suara Si Bebek melemah. Si Bebek masih belum menyadari apa yang terjadi.

Ramai di sekitar si Bebek, ia dikerubut bebek – bebek lain, wajah mereka terlihat ngeri, malah ada yang bergegas berlalu, bersahut – sahutan suara bebek lain.

Nguing – nguing – nguing samar Si Bebek mendengar suara itu mendekat, Si Bebek akrab dengan suara itu.

Biasanya Si Bebek dan rekan lain sesama Bebek akan minggir jika mendengar suara itu. Bebek mengerti jika suara itu datang dari para kuda pengawal, di belakang kuda pengawal biasanya berderet kuda – kuda gagahdan bertubuh besar. Jika mereka lewat, tandanya bagi Si Bebek dan bebek lain untuk menyingkir dari jalan, gerombolan kuda berpengawal itu adalah pemilik jalan, mereka berkuasa penuh atasnya.

Nguing – nguing – nguing, tapi kali ini tidak ada gerombolan kuda gagah bertubuh besar. Bebek – bebek lain masih mengerubuti.

Nguing -nguing – nguing suara itu semakin jelas mendekati si Bebek, semakin dekat tetap tak ada gerombolan kuda gagah. Aaahh Si Bebek mahfum, itu bukan suara kuda pengawal melainkan rekannya, kuda pengangkut.

Kwek – kwek – kwek kali ini Si Bebek merintih tatkala tangan – tangan berseragam cokelat mengangkat dirinya, apa ini? Si Bebek mencoba bergerak, tapi ia tak mampu merasakan dirinya sendiri. Tubuh Si Bebek kini ditunggangkan ke kuda pengangkut.

Kwek – kwek – kwek  Si Bebek perlahan melihat semua, lambat – lambat akhirnya menyadari yang terjadi. Dari atas kuda pengangkut Si Bebek dapat melihat cairan merah kental menggenang di bawah kaki – kaki kuda berkaki sepuluh yang besarnya berpuluh kali kuda pengangkut ini.

Kwek – kwek – kwek Si Bebek sadar, tadi ia terjerembab menyusruk masuk ke bawah kuda berkaki sepuluh yang berlari cukup kencang setelah sebelumnya ia bersenggolan dengan bebek lain.

Kini Si Bebek melihat kulitnya tak lagi mulus, tulang – tulangnya tak lagi satu, kakinya tak lagi bulat sempurna.

Kwek – kwek – kwek Si Bebek tertegun menyadari semua, tertegun melihat sebuah kantong oranye dengan resleting di bagian atas membujur di samping dirinya, cairan merah kental tetes menetes di sekitarnya.

 

Arus Balik Mudik 2012

Penggalan #2

Surau ini adalah simbol kampung kami, dengan luas hanya sekitar 4X5 m surau ini tepat berada di sebelah barat alun – alun desa dan berhadap – hadapan dengan kantor kelurahan. Atapnya terbuat dari seng yang mulai mengarat dengan paku yang mulai merenggang. Adzan maghrib baru saja usai, langit masih menumpahkan titik – titik airnya ke bumi setelah menyerang bumi dengan hujannya sejak ashar tadi. Seorang pemuda  berteduh di muka surau. Ia hanya mengenakan kaos oblong hitam dengan jeans biru belel dan sendal jepit, rambutnya sedikit melewati telinga dan menyandang sebuah ransel besar berwarna hitam. Seorang bapak paruh baya terlihat berjalan pelan ke arah surau, payung warna – warninya tampak meriah pada suasana sore yang kelabu. Saat tiba di muka surau sang bapak meletakkan payungnya dan membersihkan sisa – sisa air hujan yang menetes di peci putihnya. Pandangan ke dua orang ini pun bertemu, sang pemuda mencoba tersenyum sambil menggigil menahan dinginnya cuaca.

“Tidak sekalian sholat nak?” sang lelaki paruh baya menegur.

“Enggak pak, cuma numpang neduh” jawab sang pemuda sekenanya sambil menghisap dalam kreteknya.

“Ya udah sekalian aja sholat dulu, siapa tau abis sholat ujannya reda” lelaki itu meneruskan

setengah terpaksa, sang pemuda mengikuti langkah sang lelaki paruh baya ke arah dalam surau, setelah meletakkan ranselnya ia menuju sisi samping luar surau yang terdapat pancuran air, pancuran ini digunakan sebagai tempat berwudhu bagi orang – orang yang hendak sholat, terkadang anak – anak kecil kampung suka mandi di pancuran ini saat tengah hari.

lelaki paruh baya yang mengajak si pemuda untuk sholat  masih berada di dalam surau bersana jemaah lain, hujan terlihat belum hendak  reda, malah semakin deras air tertumpah, seekor katak sawah tampak berlompat – lompat melewati saluran air yang mulai kewalahan menerima debit air.

Si pemuda duduk di pintu surau, menyalakan batang terakhir kreteknya. Matanya memicing menatap langit yang gelap, kepulan asap terhembus keluar dari mulut dan hidungnya. Ia tertunduk menahan kantuk, ia belum beristirahat secara layak sejak menginjakkan kaki di kampung ini sore tadi. Perjalanan menggunakan kereta ekonomi selama lebih kurang tujuh jam dilanjutkan dengan bus kurang lebih satu jam  benar – benar menguras energinya. perjalannya bahkan belum usai, ia mesti berjalan sekitar setengah jam lagi untuk sampai ke tujuan, sebuah rumah bercat putih di di ujung selatan kampung ini, sayang setengah perjalan menuju rumah bercat putih ia dihentikan hujan dan harus berteduh di surau kecil ini bersama orang – orang yang tak ia kenal.  Cuaca semakin dingin, adzan isya mulai diperdengarkan.

Penggalan #1

“Aku gak pernah dan kayaknya gak akan pernah bisa cinta sama kamu”  Rena tidak meneruskan kata – katanya. Ia menyesap kopinya yang mulai dingin berharap cairan hitam itu mampu mendorong dahak yang mulai menggumpal di tenggorokannya, matanya mulai berkaca – kaca. Dorongan emosional terkadang mampu menciutkan ruang dan menghentikan waktu, Rena merasa beranda ini menyempit, jarak Ia dan Desta menjadi lebih dekat dan semakin canggung. Kedua tangan Rena menggenggam erat mug hitam kopinya. Desta masih terdiam, Ia merasa kawanan awan comulunimbus yang tebal dan hitam baru saja meneriakkan gelegar petir langsung ke telinganya, suara derit kursi kayu tempat Ia duduk seperti sedang bersahutan dengan gemerisik daun pohon angsana di seberang beranda, menggunjingkan dirinya. Hari ini minggu, bukan hari kerja, bukan April mop bukan hari ulang tahunnya ataupun Rena, bukan hari jadi perkawinan mereka, Desta coba merunut semua kemungkinan bahwa ini hanyalah lelucon, atau mimpi atau sebuah kejutan dari Rena. Tapi Desta tidak menemukan alasan apapun.

***

Mata desta mengerjap, sinar matahari yang menelusup masuk dari tirai jendela kamara tidurnya menerpa langsung wajahnya. sisi ranjang Rena sudah kosong, tidak ada suara gemericik air dari kamar mandi. Desta berdiri dan menuju dapur, Ia hafal kebiasaan istrinya di hari minggu. Lima tahun menikah, hampir setiap minggu pagi Rena selalu “berperang” di dapur, sekedar menyiapkan sarapan pagi atau mencoba resep kue. Minggu pagi adalah satu – satunya waktu dimana Rena bisa merasa menjadi “ibu rumah tangga” selain itu, semua urusan rumah Bik Romlah yang atur dari sarapan pagi, menyiapkan pakaian kerja kedua majikannya, meyiapkan makan malam dan beres – beres rumah. Pagi minggu itu dapur kosong, sarapan sudah sedia di meja tapi tidak ada Rena di sana. Bik Romlah yang muncul dari pantry menyapa Desta dan berlalu ke ruang tengah. Pintu belakang terbuka, sepoi angin pagi masuk ditemani gemerisik daun pohon angsana di seberang beranda belakang rumah ini. Desta menemui istrinya duduk sendirian di beranda belakang, duduk di kursi kayu memeluk kedua kakinya sambil menggenggam mug hitam.

“Pagi sayang”

Rena menoleh dan tersenyum melihat Desta menghampiri dan mengecup kening serta ubun – ubunnya.

“Pagi, tumben hari minggu bangun jam segini? udah sarapan?”

“Minggu pagi itu biasanya istriku tercinta yang nyiapin sarapan, kok hari ini Bik Romlah?”

Rena hanya tersenyum dan mengalihkan pandangannya dari tatapan genit Desta yang kemudian memeluk dan kembali mencium ubun – ubunnya untuk kemudian berlalu ke dapur.

***

“Kamu yakin ini ide bagus?”

“As I notice, yes”

“As you notice? what are you, dumb? Desta? Hey, as I notice he isn’t your kind of guy”

“Dunia aja bisa berubah Wit, masa aku gak bisa”

“Rena, are you sure you wanna spent the rest of your life with the man who doesn’t even know what coldplay is?”

“Sahabatku Deswita yang cantik, usia kita sudah hampir tiga puluh dan kamu masih berfikir kayak anak usia belasan, oh c’mon give me a break! he figured it out what coldplay is, anyway”

Rena menghisap rokoknya menuang air putih dan meminum habis isi gelasnya, Ia menatap Deswita.

“He is a good looking guy you know, having a good position in a good firm, my parents like him for we’ve been friend since high school, what else? aku gak peduli dia gak tau coldplay, bahkan kalo dia gak tau Jacko pun aku rela”

“I see that you just cooking in up, honey. Aku cuma takut kamu terlalu terburu – buru, 27 and single bla bla bla”

“Hey, it isn’t about that. yes I am a single 27 years old girl, so what?”

“Sorry, I didn’t mean it, though”

Deswita membenamkan kepalanya ke dalam bantal. Sesaat kemudian ia bangkit menyalakan laptop dan memutar lagu  twisted logic Coldplay.

“……

Created, then drilled and invaded
If somebody made it
Someone will mess it up

…..”

Penggalan #3

Aku tidak sedang bahagia, tidak sedang berbunga – bunga apalagi sedang jatuh cinta! jauh! bahkan aku menganggap setiap lagu berbahasa romantis yang berputar di playlist komputerku sebagai sindiran! personal assault, personal harrasment, bahkan mungkin personal insult! separah itukah? mungkin, karena ini persoalan personal maka hanya saya yang bisa tau rasanya.

Semua berawal dari rasa kesepian, tepat rasa kesepian! kamu kesepian dan aku kesendirian -hedeh- mungkin kamu hanya memasang tanda “lonely” di pintu apartemenmu, tapi untuk aku, tanda “alone” sudah setahun lebih bahkan mungkin sudah mulai berdebu menggantung di semua celah yang memungkinkan untuk dilihat orang lain. Pintu, jendela, jika saja kecoak mengerti bahasa manusia, mungkin aku juga akan memasang tanda kesendirian di setiap celah yang ada di dinding untuk mengabarkan bahwa saya sudah terlalu lama sendirian dan rela menerima para kecoak untuk bepesta bersama – sama. huh sounds desperate eehh, mau bagaimana lagi, terakhir memiliki pasangan setahun yang lalu (kurang lebih, mungkin lebih, tapi saya tidak mau terdengar terlalu lama :p) itupun hubungan jarak jauh, bukan cuma pisah kota atau selat, kami terpisah pulau terpisah negara! dengan kesempatan bertemu hanya satu tahun sekali, satu tahun sekali, bisa dibayangkan sepeti apa hubungan kami?

Sementara kamu, juga berhubungan jarak jauh tapi hanya terpisah selat, itulah kenapa aku ibaratkan kamu hanya memasang tanda “lonely”. Aku tau bagaimana rasanya terpisah dari pasangan, tapi kalian memiliki kesempatan bertemu yang lebih banyak dan lebih mudah, liburan akhir pekan saja sudah cukup untuk kalian saling bertemu. Empat puluh lima menit perjalanan udara dan kalian sudah bisa saling bergandeng, saling mendekap aaaahh aku iri membayangkannya.

Maafkan aku Tuhan, sekali lagi aku ingin bilang -mungkin- saat itu Engkau sedang iseng dan mempertemukan kami berdua, dua orang dengan status berhubungan jarak jauh, dalam sebuah acara yang mengharuskan kami berdua tampil sebagai orang yang berada dalam spotlight. Aku dan dia berada dalam satu meja, sebagai dua orang keynote speaker dalam sebuah workshop. Adalah hal yang wajar jika selesai acara para panitia menjamu para pembicara dalam perjamuan yang informal, yang artinya, ada banyak kesempatan untuk saling bicara, melempar wacana, berbagi ide bahkan bercanda, dan di sela – sela itu semua kita sempat berbagi kontak pribadi, maksudku bukan hanya nomor ponsel atau alamat twitter, tapi kontak melalui tatapan mata, beberapa kali.

Jauh setelah acara, kita tidak saling kontak walaupun aku akui sesekali aku suka melihat – lihat garis masa twitter-mu, suka membaca postingan di blog-mu, dan aku akui kamu adalah orang yang sangat menarik perhatianku -tepokjidat- kita berdua berada di satu kota, kita berdua sama – sama mempunyai pasangan di seberang lautan. Aku sempat berpikir iseng, ya seandainya kamu juga memiliki pikiran yang sama, why dont we take this chance?

Jadi, mau mulai…

Jadi, mau mulai dari mana?

maksudmu?

[menarik nafas] gw kenal lu kelewat baik, bahkan jadwal toilet lu gw hapal di luar kepala. sudahlah, langsung saja ke pokok permasalahan

[dahi mengernyit] tapi aku benar – benar gk paham maksudmu

[berdiri, berjalan menuju jendela, menatap sesaat keluar sambil menyipitkan mata kemudian membalikkan badan sambil bersender ke kusen jendela] setiap kali lu minta gw kemari, pasti ada hal yang pengen lu ceritain. tapi selalu aja lu gk berani mulai cerita.

[membuang pandangan ke luar jendela, seketika tatapannya terlihat kosong]

ceritain ajalah, toh bukan setahun dua tahun gw dengerin cerita lu, gk ada satupun masalah yang luput dari pendengaran gw, sekarang atau besok tetep aja lu bakal cerita

[menunduk, memijat dahinya menarik nafas dalam] aku takut kamu bosan dengerin cerita yang sama, cerita yang berulang, aku cuma butuh temen di sini, itu saja

lu buang – buang waktu gw, gw siap klo lu mau cerita, kapan aja  [mengambil sweaternya di punggung kursi kemudian berjalan keluar, menutup pintu dengan keras]

***

Dua orang laki – laki itu masih belum beranjak dari tempatnya, sejak sore mereka berada di sana hingga sekarang saat para pelayan mulai mengepel lantai dan menyusun kursi – kursi ke atas meja. Tempat itu akan segera tutup.

“sudahlah, gw pulang.”

lelaki pertama bangkit, meninggalkan beberapa lembar uang di atas kertas tagihan kemudian berjalan menuju tempat parkir. Lelaki kedua seolah tidak menghiraukan kejadian itu, pandangannya tak lepas dari novel grafis epileptik 2 karangan David B. Seorang pelayan kemudian menghampirinya, mereka bercakap sebentar lalu lelaki itu berdiri, memberesi barang – barangnya dan berjalan keluar.

***

i  slept with her

hah?! dia?  lu serius?  dan?

not that kind of uhhhmm you know just bla bla bla

aah yea i got it, but … tetep aja … tolol ….

yah tolol dan saya menikmati semua ketololan yang kami buat

phhewww no string attached eh?

yap sort of way

hahahahahaha jadi itu yang mau lu ceritain?

not exactly, ada hal lain

apa?

……………

kyaknya bakal nyambung besok lagi nih ceritanya

……………

hhhmmmm gw siap denger klo lu udah punya versi lengkapnya

***

wow kjdianya wkt msh sm pcrnya?

Pengirim:  bena rizky

+6285510642xxx

Dikirim:

00:15:23

13-09-2011

#

bbrp kali

Pengirim:  Alfa

+6285758590xxx

Dikirim:

00:17:55

13-09-2011

#

lu msh waras kan ?

Pengirim:  bena rizky

+6285510642xxx

Dikirim:

00:18:02

13-09-2011

#

mksd mu? gk ush ngmong moral ben, kt sm2 bejat

Pengirim:  Alfa

+6285758590xxx

Dikirim:

00:20:19

13-09-2011

#

look whose talking ?! heelloooo  gw cpk bsk krj gw tdr bye

Pengirim:  bena rizky

+6285510642xxx

Dikirim:

00:25:34

13-09-2011

###

ben kayaknya kita mesti berenti deh ngomong soal ini.

emang kenapa pa?

tar ada yang ngerasa – ngerasa gitu, dikirain kita ngomongin dia

dia? ooo dia? terserah lu, yang punya cerita kan situ. jadi gak kelar nih ceritanya?

gak usah deh

sayang banget pa, ceritanya udah kemana – mana lagi.

sinopsis udah kemana – mana mumpung blm selesai, udahan sekarang aja.

hedewwww  [lanjut maen PS]

dan akhirnya cerita ini tidak pernah terselesaikan. karena ada yang merasa terganggu uuhhmm lebih tepat merasa “gw banget” dengan cerita ini.

The END

PS : lagian ini cuma cerita dadakan gara – gara cerita aslinya gagal diteruskan –“

dan dua orang tokoh ini bukanlah homo sodara2 sekalian!