Kuala Stabes [#1]

Sepoi angin laut berhembus di Dermaga Kuala sore itu, di sebuah bangku panjang dermaga seorang lelaki tua paruh baya duduk gelisah. Matanya memandang jauh, kosong, deburan ombak di bawah kakinya menyapa namun tak juga ia hiraukan. Wancik Munzir, panggilan lelaki itu, termenung memikirkan setiap kejadian yang melibatkan dirinya akhir – akhir ini. Sebuah pertanyaan besar menggema di kepalanya, mengapa setiap yang ia lakukan belakangan ini selalu salah. Lupa mengontrol Supri untuk melakukan pemolesan mold release wax berakibat perahu jukung berbahan fiber produksi mereka melekat pada cetakan dan tak bisa dilepaskan, sehingga terpaksa Bang Asep memotong bagian tengah perahu supaya bisa ditarik paksa. Salah melakukan perhitungan pada dudukan gading – gading perahu sehingga lagi – lagi  Bang Asep terpaksa membongkar perahu yang seharusnya sudah selesai. Kemudian, yang baru saja terjadi, sebetulnya hanya kejadian kecil tapi berakibat fatal, sangat fatal. Wancik Munzir lupa mematikan kran air kamar mandi sehingga air meluber dan membanjiri gudang persediaan material. Akibatnya, dua gulung woven roving dan satu gulung chopped strand mat fiberglass kuyup terendam air. Dua kesalahan sekaligus di sini, membiarkan gulungan serat kaca di lantai dan lupa mematikan kran air. Wancik Tonga tengadah, ia melihat gelayut rendah mendung bergeser perlahan. Titik air ada yang bercecer dari arakan awan itu, memercik di mukanya.

“Cik harusnya paham, wancik itu sudah tua, sudahlah minta ia pulang ke Jakarta, ia bisa banyak bermain bersama cucunya, sudah. Ia tak cakap lagi bekerja”

“Kau tak paham Fik, Cik bisa bangun usaha ini berkat wancik, ia yang dulu mendorong Cik untuk berani berusaha sendiri, Ia pula yang dulu kasih pinjam modal sama Cik”

“Ah itu cakap Cik saja, Cik sendiri paham itu cuma jalan yang dikasih Tuhan pada Cik melalui Wancik. Berfikirlah sehat Cik, jika terus – terusan wancik buat salah bangkrut kita”

“Aku belum temukan waktunya Fik, belum”

“Atau kita pindahkan saja Wancik ke kantor, minta beliau urus surat menyurat kita”

“Mana mau dia Fik, berpuluh tahun ia bekerja di belakang meja mengurus usahanya, dari nol Fik, sampai menjadi besar, jauh lebih besar dari usaha kita ini”

“Aku tahu Cik, paham. Tapi ini sekarang tentang kita, usaha kita bukan lagi usaha Munzir Mustopa. Usaha wancik sudah turun ke anaknya, kenapa ia tak pensiun total, urus badan sendiri saja ia sudah tak kuat”

“Cukup Fik, nanti kita bicarakan lagi”

Fikri bungkam, tapi mukanya tetap masam menghitung kerugian akibat kesalahan wancik beberapa hari terakhir. Fikri Paham sepaham – pahamnya jika wanciknya itu pengusaha sukses, bahkan hingga saat ini usaha galangan kapalnya masih menjadi salah satu galangan paling ramai di Indonesia. Tapi mengapa saat memutuskan pensiun ia malah memilih untuk menyingkir kemari. Daerah pesisir yang sepi dan sunyi, hanya nelayan dan petani yang ramai di sini. Mengapa wanciknya malah meminta ciknya untuk mempekerjakannya di gudang kecil mereka ini, gudang yang memproduksi perahu jukung berbahan fiberglass dengan kapastias maksimal hanya 15 – 20 jukung per bulan. Fikri berlalu, ia kembali ke gudang dan berharap tak ada kesalahan lagi yang dibuat wanciknya.

 

Arif menghela nafas panjang, kejadian seperti ini jauh dari perkiraannya saat pertama kali memutuskan untuk menerima permintaan wanciknya. Arif berharap banyak masukan yang bisa didapat dari pengalaman puluhan tahun wanciknya, tapi kenyataan berbanding terbalik. Wancik Munzir seharusnya pensiun total. Arif terkenang obrolan bersama wanciknya beberapa waktu lalu. Sebuah permintaan sederhana yang dianggap Arif sebagai gurauan.

“Wancik sudah terlalu lelah dengan semua hingar bingar kota Rif. Wancik suka di sini, laut dekat, pantai bersih, gunung dekat, udara bersih, malam senyap cuma ada suara jangkrik”

“Jika Wancik memang kerasan di sini dan mau kerja di tempat seperti ini Saya tidak keberatan menerima Wancik, sungguh”

“Tapi Wancik tak mau kau taruh di kantor Rif, wancik ingin banyak bergerak” Wancik berseloroh sambil meregangkan tangannya, senyumnya lebar diiringi tawa keduanya.

“Kebetulan Wancik. Fikri ingin aku fokuskan di marketing, supaya kita bisa ambil pembeli dari luar daerah. Nah Wancik bisa ambil posisi Fikri di pengawas produksi, nanti Fikri yang jelaskan sedikit kerjanya”

“Baguslah kalau begitu”

 

Bersambung…..

 

catatan kaki:

– cik : kakak termuda. Panggilan anak bungsu untuk kakak di atasnya. Beda dengan panggilan Encik/Encek

-Wancik : Paman. Adik lelaki ibu atau bapak

[Outline #1]

“Kamu makin cantik”

“Dan Kamu makin tua”

Keduanya tersenyum, tubuh keduanya makin merapat berpelukan dalam kamar tidur yang hening. Sepuluh tahun menikah dan belum memiliki keturunan tidak meyurutkan cinta keduanya. Pasangan yang berpaut usai lima belas tahun itu masih tetap setia, saling membangunkan saat subuh, siapapun yang bangun lebih dulu selalu menyiapkan sarapan untuk pasangannya. Perasaan keduanya tetap sama seperti saat pertama kali mereka mengucapkan ijab dan kabul.

Mata pasangan itu terpejam, perlahan mereka larut masuk ke alam mimpi masing – masing. Jauh masuk ke dalam kenyataan mimpi.

***

“Rum, sini ini kenalin Kak Tyo yang Bantuin mama di perkebunan. Ini Ningrum, anak bontot tante Yo masih kelas tiga SMP tapi sudah sok dewasa dah gak mau lagi di peluk – peluk” Tawa renyah Ibu Surtini diiringi langkah tergopoh Ningrum dengan wajahnya yang cemberut

“Rum, Kak Tyo ini pinter loh, klo kamu ada tugas matematika, biologi apa aja deh tar minta ajarin dia aja. Kalo dia gak mau tar bagian kebun dia mama potong” lagi – lagi Ibu Surtini tertawa lebar.

“Asal jangan cuma bisa ngajarin masalah alat reproduksi manusia aja ma” Ketus ningrum sambil berlalu.

Ibu Surtini menggeleng

“ya begitu itu nak kelakuannya, tante sampe ampun, guru – guru privat gak ada yang sanggup sama ningrum”

Tyo tertawa

“Oiya, jadi gimana kebun yang di Batuputu? kabarnya ada beberapa pohon yang patah kena angin kenceng kemaren y?”

………………

***

kak krmh ada pr

sender: Ningrum

pr apa?

sender: Tyo

matik

sender: Ningrum

Jam 7 krmh

sender: Tyo

 

“Rum, kalo tiap hari kamu minta kak Tyo ke rumah, nanti lama – lama dia minta mama bayar per jam. Lebih – lebih dari guru privat”

“Kan dulu mama yang nyuruh, kalo dia minta bayar gak pa pa, biar sekalian ningrum minta ajarin maen gitar”

. . . . . . . . . . . . . .

“Jadi lanjut SMA ke Jogja?”

“Iyalah, selesai ujian langsung berangkat”

“Kenapa gak SMA di sini aja rum?”

“yeee takut kangen y?”

“Dasar anak kecil, orang ngomong serius. Di sana siapa yang ngurusin kamu? bangun aja masih diteriakin dari pintu weee…”

“Bilang aja Kak Tyo takut kalo kangen kejauhan”

“koplak!”

.      .     .     .     .     .     .     .    .    .     .    .    .

hei anak kecil koplak, aku lagi di Jogja

sender: Tyo

ngapain?

sender: Ningrum

eh kmren yg triak2 ditelp nyrh kjogja siapa y?!

dijgja cm mmpir kok, mau ke sby bntr lg jlan

sender: Tyo

yeee gitu ya, awas kalo gak mampir!

sender: Ningrum

hahaha bcnda, gk kmn2 kok di jogja aja

sender: Tyo

aseek, plg sklah jemput y

sender: Ningrum

Males!

sender: Tyo

gitu y! y udah gk usah mampir

sender: Ningrum

haha udah ddpan sklh kok :p

sender: Tyo

>:D< (y)

sender: Ningrum

.              .                      .                     .                      .                      .                        .                .

“Kapan masuk sekolah?”

“minggu depan, semester akhir tar lagi lulus, gak berasa ya kak”

“Kuliah di mana? tetep di jogja?”

“maunya sih ke luar, boleh gak?

“Lah kok nanya saya, yang bayarin emakmu, yang kuliah kamu kok nanya saya”

“Ke Australi aah, biar makin jauh dari orang yang nyebelin”

“siapa?”

“nih yang di samping”

. . . . . . . .               . . . . . . .               . . . . . . .               . . . . . . .                 . . . . .. .           . . . . . . .

“Ma, kalo ningrum pacaran sama kak tyo gimana ya?”

“walah ningrum, usia kamu sama dia itu beda jauh, lah pacar kamu sekarang emang kenapa”

“Masih kelakuan abege banget ma, males”

“lah kamu juga kan masih SMA, rum. Gimana sih”

“cuma nanya sih ma”

“Lagian juga Tyo kan nganggep kamu udah adek sendiri, dia juga kalo nyari pacar ya yang sama – sama dewasa, yang siap nikah”

“cuma nanya maaaa, dah gak usah dibahas”

…………  ………….. ……….. ….. …………. ….. …………… ………. ….. ………………

anakkecilbawel

BUZZ!!!

BUZZ!!

wwooooiiiiiiiiii makkhhlukkk aneehhhh

Arestyo_profarm

wwooii

anakkecilbawel

paggeeeee dah sarapan blom?

Arestyo_profarm

sarapan palamu peyang, jam berapa ini?!

anakkecilbawel

stgh 7

Arestyo_profarm

kurangin 2 jam dodol

anakkecilbawel

oiya lupa :p dah tdr lg sna eh blm tdr y?

Arestyo_profarm

-_-‘

……………………….    ………………..   ………………………………   ……………………..   …………….   ……………   ……….

“Saya terima nikahnya, Ningrum binti Adiwiguna dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai”

“Bagaimana saksi – saksi?”

“sah”

“Sah”

“Alhamdulillah…..”

*****

“Pagi sayang, subuh, bangun “

Tyo mengerjap, tubuhnya masih lemah. Penyakit hati yang ia idap kembali kumat kemarin, semua urusan kebun terpaksa diserahkan ke mandor kepala, Pak Rahmat, orang kepercayaan Tyo. Ningrum membawa sebaskom air hangat untuk menyeka tubuh suaminya yang belum kuat berdiri.

“mau sarapan apa?”

senyum Tyo mengulas simpul, mata keduanya bertemu. Rasa cinta itu masih menggebu di hati keduanya. Ningrum mengecup pelan dahi suaminya. Mata lelaki 66 tahun itu berkaca – kaca

*****

“Kamu makin keriput”

“Tapi kamu masih cinta kan”

tubuh pasangan itu merapat seperti kedua mata mereka, mencoba untuk terlelap. Mata yang merapat dan cinta mereka yang makin tak terhingga. Subuh nanti salah satu dari mereka akan menyiapkan sarapan dan membangunkan pasangannya dengan kecupan lembut di dahi. Tidak mudah untuk tetap menjaga cinta selama 38 tahun menikah dan tetap tak mendapat keturunan.

—-

“Pagi sayang, mau sarapan apa?”

Tyo mengecup lembut dahi Ningrum, tubuh istrinya dingin. Tyo memejamkan mata, duduk terkulai lemas di samping kasur menggenggam tangan istrinya yang mulai kaku. Ningrum wafat dalam pelukannya, dengan senyum manis yang selalu Tyo ingat sejak pertama menikah.

Dingin angin subuh berdesir di antara daun – daun cendana yang tumbuh mengitari rumah. Rumah mereka yang dibangun di tengah kebun cendana yang sunyi semakin lengang, jangkrik mengeriyap nyaring, memberitakan kedukaan. Langit di ufuk timur mulai memerah.

****

Para pelayat telah lama meninggalkan rumah, beberapa orang tampak sibuk membereskan halaman depan rumah. Tyo merebahkan badan di kasur kamarnya, matanya terpejam, Ia mendekap erat foto Ningrum. Perlahan komposisi Moonlight Sonata dari Beethoven yang di putar Tyo mengalun di dalam kamar itu. Komposisi itu adalah kesukaan Ningrum, Ia suka mendengarkannya di teras belakang rumah setiap sore sambil menuggu suaminya pulang. Tiap sore pula seteko teh hangat menemani Tyo dan Ningrum di teras belakang, menyatukan cinta dan semua harapan mereka.

Moonlight sonata terus mengalun pelan, Tyo seperti merasakan kehadiran istrinya, mendekap hangat tubuhnya yang renta. Menggenggam tangannya yang keriput dengan erat. Bulir air mata Tyo menetes, sebaris doa keluar semoga Tuhan menyatukan mereka kembali dalam hadiratnya kelak, dan tetap bisa menyatukan cinta mereka nanti di surga-Nya.

Obrolan #1

Pembicaraan ini terjadi antara dua orang temen kantor, tempatnya di kantin. Disarikan dan ditulis ulang dari yang saya ingat 🙂

Temen 1 :Mengutuk, membenci, menghujat itu sudah menjadi kepandaian semua orang, kalo tidak mau disebut sebagai salah satu sifat dasar manusia. Mengutuk macet tapi sendirinya nyetir mobil yang ditumpangi sendirian. Macem bawa badan selebar jalan tapi marah sama bis yang dimuati lebih dari empat puluh orang. Gak kalah lucu pemerintahnya, panjang lebar ngomong mengatasi macet tapi regulasi penjualan kendaraan bermotor bukannya diperketat tapi dipermudah, malah menaikkan target penjualan setiap tahun. Ambivalen!. Kota asalmu juga, lucu, tiap tahun ribut banjir makin tinggi tapi daerah resapan ditimbun buat jadi perumahan.

Temen 2 :surprise, surprise, kaya yang ngomong paling bersih sendiri aja, kamu sadar gak semua yang kamu pake itu produknya kapitalis tapi ngakunya anti kapitalisme, anti kemapanan? knock knock knock.. rokokmu itu, memang merek lokal tapi tau kan klo sembilan puluh persen sahamnya sudah dimiliki asing? trus di kamar apartemenmu, air galon yang kamu minum tiap hari itu sudah bertentangan dengan UUD 45 apalagi dengan paham marxismu itu, tau? just admit that liberal economic system suits you, fits you exactly like a gear, baamm just like that, tolong garemnya dong. Bicara menolak tapi secara sadar  mengiyakan, apa itu namanya? bukan paradoks tapi munafik. and just like you said, mengutuk, menghujat, membenci itu sudah sifat dasar manusia, termasuk kamu.

Temen 1 : Aku sadar, sadar sesadar sadarnya yang kamu bilang tentang aku itu benar, i admit that! but, i lived inside the system without the ability to fight back, to resist and I have no allies. so the only thing i could do is spread the words, share the thought. build awareness around me setidaknya kalo kesadaran orang – orang di sekitarku sudah membaik, perlahan akan ada resistensi dari mereka minimal untuk hal – hal kecil, mengkritisi kebijakan pemerintah misalnya. Enak juga mi ayamnya.

Temen 2 : resistensi, resistensi, ujung – ujungnya ngomongin resureksi iya kan? serius, omonganmu sekarang makin gak bermutu. Nah sekarang klo kamu mau membangun kesadaran orang – orang di sekitar kamu trus apa yang sudah kamu lakukan selain ngoceh? dari dulu kamu selalu bilang kesadaran sosial muncul dari keadaan sosial terus apa lagi? perjuangan yang kamu elu elukan itu sekedar propaganda kosong teman, sekedar pengen eksis dibilang cerdas dan progresif, iya kan? akui saja.

Temen 1 : wo … wo woo… who the hell are you to judge me? ini tentang prinsip sodaraku, sikap hidup, hasilnya tidak terlihat dalam waktu sekejap.

Temen 2 :Benar! butuh waktu lama tapi setidaknya ada aksi nyata yang kamu lakuin selain ngomong sana ngomong sini, contoh, Ernesto Guevara tergugah hatinya setelah melihat kenyataan kondisi ekopol Amerika selatan saat perjalanannya mengelilingi benua itu, setelah itu ia menjadi orang yang sama sekali berbeda dari sebelumnya sampe mampu membangun perlawanan di sepanjang amerika latin dan sampe sekarang dikenal sebagai tokoh revolusioner. Mao pun seperti itu, dan kalo mau tau aslinya prinsip, tuh liat perseteruan dia dengan Liu Shaoqi soal garis revolusi itu baru soal prinsip, nah kamu? sekedar berteori kosong ngaku punya prinsip, prinsip yang mana? teori aja dapetnya dari buku.

Temen 1 : Ya kan setidaknya tidak manut saja, ada sikap kritis, percaya gak, dari obrolan kecil seperti ini saja, revolusi bisa terjadi kawan. yakinlah.

Temen 2 : Revolusi mbahmu, revolusi itu muncul dari tindakan sobat, T I N D A K A N. Revolusi tidak terjadi dari kasur. Revolusi dulu kebiasaan buruk lo, revolusi dulu diri lo baru ngomongin revolusi yang laen.

Pulau Pisang #1

Dingin, sampe subuh tadi Jakarta disiram air dari langit habis – habisan. Kata orang Februari memang puncak curah hujan, buat sebagian yang lain puncak kegalauan soalnya gak ada pasangan yang ngasih coklat pas tanggal empat belas hehehe. Hari ini baru tanggal tiga, dompet temen kantor masih tebel, keliatan dari roman mukanya waktu masuk ke kubikel masing – masing, plong, trus paper cup rame serakan di atas meja. Kalo tanggal mulai belasan dijamin kubikel pagi begini masih pada kosong, rame ngumpul deket mesin potokopi di seberang pantry ngaduk minuman panas racikan sendiri, entah kopi item, teh manis nyaris gak keliatan paper cup (Indonesianya apa y?) cafe yang isinya racikan kopi ala eropa kayak pagi ini. Kalopun ada paper cup nangkring di kubikel pagi pagi paling punya Adisti, tiap pagi dia emang selalu nenteng paper cup yang isinya coklat panas dari cafe deket kantor. Kalo aku pribadi, selalu bawa termos kopi sendiri lebih hemat dan panas sepanjang hari hehe.

Kantor ini isinya belasan orang, dijamin semuanya saling kenal, dari yang duduk paling pojok sampe yang posisinya paling strategis. Posisi strategis ditentukan dari sudut pandang menghadap Adisti, itu saja titik hehehe aku gak perlu jelasin maksud sudut pandangnya tapi yang jelas sepanjang hari kerja gak bakal terasa capek kalo bisa liat Adisti terus, dan posisi itu dimiliki oleh, beruntunglah orang itu, saya hahaha. Sebetulnya tidak ada yang terlalu istimewa dari Adisti, tapi berhubung cewek di kantor ini cuma tiga orang dan dua selain Adisti kadang – kadang lebih laki dari para lelaki di kantor maka ratu ruangan ini jelas jatuh secara mutlak ke Adisti. Dua orang cewek lagi selain Adis adalah Lupi dan Fie, terkadang bingung kalo harus membedakan cara memanggil dua makhluk ini, satu teriakan “ppiiii..” dijamin dua – duanya noleh, dan bukan kebetulan pula kalo keduanya lulus dari kampus yang sama dan sama – sama penggila kegiatan luar ruangan.

“buat elo” amplop coklat lebar yang di lemparkan lupi meleset, mulus mendarat di muka Rodi yang kebetulan lewat.

satu lagi makhluk ghaib yang bekerja di sini, dari nama saja kita bisa kenali kalo dia sudah gentayangan sejak jaman Belanda masih menjajah Indonesia.

“gue?” Rodi membolak balik amplo itu

“bukan ente bung, buat Tyo” Lupi menarik amplop besar itu dan menyerahkan ke pada yang bernama Tyo, hoho itulah aku. Makhluk paling kecil di sini, tapi dengan keberuntungan selebar langit hehehe

“Mantap” mukaku langsung sumringah begitu melihat isi amplop

“Pulau Pisang, Lampung, jatah Lo” senyum Lupi masih kalah cantik dibanding senyum pantai dari leaflet yang aku pegang.

“Ssiiaapp berangkat Bu Bos!”

kata kata dari Lupi udah gk ku gubris lagi, pikiranku langsung terbang ke Pulau Pisang. hoho macem castaway ke pedalaman, biar masih deket – deket dan gak terlalu eksotis tetap saja kesempatan mengasingkan diri ke Pulau terpencil jadi macem berkah untuk kami. Makhluk – makhluk yang biasa bebas dan karena jatah mesti masuk ke dalam kubikel di lantai dua puluh ditengah belantara Jakarta.

Amplop itu berisi penugasan seperti biasa, apa yang mesti dilakuin, apa yang mesti diambil apa yang mesti disiapkan siapa kontak selama di sana dan kepada siapa mesti ngelapor sekaligus dengan detil akomodasi dan segala tetek bengeknya. Mataku tiba – tiba melotot melihat tanggal pemberangkatan, 28 Juni 2013.

“Tidak secepaat itu anaaak mudaaa” Lupi terkekeh “Masih empat bulan lagi, jangan seneng dulu hahaha”

gak biasanya penugasan dengan masa tunda selama ini, biasanya paling lama dua bulan untuk persiapan tapi ini empat bulan hheewww

Tunggu dikau pulau pisang, kita akan segera berjumpa hehehe

Kebun Rambutan

Kebun rambutan ini semakin mengecil setiap tahun, bukan karena aku yang bertumbuh besar tapi karena selalu saja ada bangunan baru yang mengharuskan beberapa pohon rambutan merelakan kehidupan mereka untuk beton – beton itu. Tahun kemarin kos – kosan sepuluh pintu dibangun di sisi timur kebun ini, tahun ini sebuah rumah type 36 menjadi penghuni baru sisi barat kebun yang berluas kira – kira 1 hektar. Rumah dan kos – kosan itu melengkapi beberapa bangunan lain yang sudah lebih dulu ada sebelumnya, sebuah rumah yang bersisian dengan si rumah baru dan ruko yang berada di sisi selatan yang berhadapan langsung dengan jalan raya. Kebun rambutan ini bukan kebun milik keluarga kami, aku hanya suka melewatinya. Sejak ayah mengajak kami pindah ke sini aku sudah merasa memiliki hubungan spesial dengan kebun rambutan yang berbatasan langsung dengan halaman rumah kami ini. Pertama kali pindah saat kelas 2 SD, keluarga kami di sambut dengan buah – buahnya yang matang memerah, aku tak peduli siapa yang memiliki kebun ini aku berlarian menghambur, memanjat, memetik dan memakan setiap buah yang bisa di raih oleh tanganku. Sekitar seminggu kemudian aku baru mengetahui pemilik kebun ini, orang – orang sekitar memanggilnya dengan sebutan kakek, seorang pria paruh baya berambut perak berperawakan kecil. Ia terkekeh ketika melihat aku memanggul sekantong rambutan sambil berlari pulang. Ia menghampiriku di beranda rumah, tempat aku menumpahkan isi kantong kresekku. Aku yang saat itu sendirian di rumah tidak ambil pusing pada keberadaannya, toh aku rasa seorang kakek tidak akan mampu membahayakanku. Sambil tertawa dia mengatakan akan memanggil polisi untuk menangkap pencuri. Keningku berkerut berusaha mencerna perkataannyam aku menoleh ke kanan kiri, memastikan tidak ada orang lain di sekitar kami apalagi pencuri. Mata si kakek kemudian melirik ke arah buah rambutan yang berserakan di beranda rumah, sesaat kemudian aku baru menyadari bahwa akulah si pencuri yang dimaksud si kakek.

Bukan tanpa alasan ayahku mengajak kami pindah kemari, sebuah kabupaten kecil dengan akses transportasi yang belum terlalu memadai, bayangkan setelah pukul 5 sore jangan harap akan bertemu dengan angkutan umum lagi. Bahkan pasar tradisionalnya masih menggunakan sistem “hari pasaran”. Dalam 10 tahun kedepan, kabupaten ini akan menjadi salah satu kabupaten termaju di provinsi ini, begitu menurut ayah, Ibu dan kami anak – anaknya hanya bisa mengiyakan walaupun itu artinya ibu dan ayah harus bersiap satu jam lebih pagi untuk menuju kantor masing – masing di Kota Palembang. Dari ketiga anak, aku yang paling bisa beradaptasi di sini, aku suka di sini, sepi dan banyak lapangan terbuka tempat bermain walaupun aku harus bermain sendirian. Dua tahun sejak kepindahan, Kakak pertamaku mulai tidak kerasan, Ia yang sudah berada di kelas satu SMA akhirnya dititipkan ke rumah nenek di Bandung dan melanjutkan sekolah di sana. Dua tahun sejak itu giliran kakak perempuanku yang tidak betah. Ayah dan ibu sepakat memindahkan sekolahnya ke Palembang dengan satu syarat, tanpa ngekos atau tinggal di rumah kerabat artinya kakak perempuanku harus bolak – balik sekolah rumah sama seperti ayah dan ibu. Jadilah setiap hari, kecuali sabtu dan minggu, sejak pukul setengah enam pagi hingga lima sore aku menjadi penghuni tunggal di rumah. Rumah, halaman hingga kebun rambutan menjadi medan pertempuranku setiap hari, kejadian seperti itu berlangsung hingga kakak perempuanku menyelesaikan kuliahnya.

Aku lupa kapan terakhir berlari – lari di tengah rimbun kebun ini. Sejak SMA aku sudah jarang berada di rumah, bukan pindah sekolah seperti kakak – kakakku, Tapi lebih karena masa puber yang menyodok – nyodok ingin ditampilkan, ingin mendapat ruang lebih, ingin mendapat kesempatan dipertunjukkan. Jadilah masa SMA aku habiskan di lapangan bola, organisasi siswa intra sekolah dan beberapa kegiatan luar sekolah lain. Ayah suka aku aktif dan ketergantunganku bermain di kebun rambutan berkurang drastis. Aku akui terkadang godaan untuk menyambangi dahan – dahan rapuh pohon rambutan yang mulai tua kadang muncul, hanya saja ego seorang siswa SMA memberikan batasan itu. Kini sudah delapan tahun aku tidak lagi tinggal serumah dengan ayah dan ibu, aku sudah pindah ke kota lain, bukan karena bosan atau tidak betah di kabupaten kecil itu. Tapi panggilan pekerjaan mengharuskan aku berada di seberang lautan. Sedikit banyak ramalan ayah memang terbukti, kabupaten ini berkembang pesat. Setidaknya sejak masuk kuliah aku bisa melihat sendiri perkembangan kabupaten ini, cepat, meninggalkan kabupaten – kabupaten lain, walau harus diakui juga perkembangan ini terasa sangat instan terkesan karbitan, prematur, semakin aku dewasa, semakin aku tidak menyukainya.

Untuk ke delapan kalinya aku menjalani “ritual” mudik lebaran, kerinduan menyesap udara kampung sudah tidak setebal dulu lagi. Tahun – tahun pertama bekerja aku sangat menyukai mudik, kembali ke kampung dengan tradisinya, meresapi kesederhanaan orang – orangnya, berbaur dengan kesahajaan adatnya. Delapan tahun berlalu, kampung ini semakin “kering”. Delapan tahun dan kampung ini berusaha menjadi lebih kota dari kota sendiri. Beberapa tahun yang lalu sepanjang jalan masih dipenuhi dengan pepohonan dan semak. Kini, hutan jenis baru telah menghuni sepanjang jalan, hutan berbatang beton tiga lantai yang menyapa dengan lambaian lembar rolling door-nya. Aku terpaksa tinggal di kota besar karena pekerjaan, aku tetap merindui kerimbunan hutan, cicit burung yang terbang bebas dan menggoda dengan tarian mereka dari atas dahan. Tetap menghasrati hamparan rawa sebagai tempat memancing. Sayangnya para developer itu tidak sependapat denganku, dan pemerintah mengamini hal itu. Hektaran rawa yang menjadi tempat resapan air ditimbun, pemukiman dibangun di atasnya. Bukan hanya satu perumahan, developer lain dapat dipastikan segera menyusul. Kabupaten ini sangat potensial dengan segala kekayaan alamnya, itu kata mereka.

Ayah benar, kabupaten ini maju pesat sampai aku menyadari bahwa salah satu alasan kepindahan kami kemari kurang lebih sama dengan kedatangan para developer itu. Delapan tahun meninggalkan kampung ini, kini aku berdiri diantara pohon – pohon rambutan itu. Memandangi rimbunnya, menghirup aroma kematian dari daun – daun yang mulai menguning, dahan – dahan yang mulai keropos dan akar yang mulai mengering. Dua puluh tiga tahun aku menjadi penghuni kampung ini, menghidupi semua urat dan nadinya, kini aku sadar aku menjadi salah satu racun yang menggerogotinya. Tinggal menungu waktu saja untuk kebun rambutan ini berubah menjadi hutan beton, bergabung bersama hutan beton tiga lantai lain yang telah mulai berdiri beberapa tahun sebelumnya. Mungkin delapan tahun kemudian aku tidak akan melihat lagi satupun dari pohon – pohon rambutan ini. Saat kabupaten kecil ini mulai menyebut dirinya kota.

Kwek kwek kwek

Kwek – kwek – kwek berteriak si bebek, nyaring suaranya, mengalihkan semua perhatian padanya.

kwek – kwek – kwek si bebek mengingat, berusaha mengingat apa gerangan yang terjadi.

kwek – kwek – kwek, kemarin, baru saja kemarin si bebek dengan gagah berkeliling, diperkenalkan sebagai bebek kota kepada semua tempat yang ia singgahi, bertemu dengan bebek – bebek lain yang terlihat malu – malu, tampak minder melihat Si Bebek yang rapi dan bersih layaknya bebek kota. Baru saja kemarin Si Bebek dielu – elukan, di elus tangan – tangan yang tidak ia kenal.

Kwek – kwek – kwek perlahan suara Si Bebek melemah. Si Bebek masih belum menyadari apa yang terjadi.

Ramai di sekitar si Bebek, ia dikerubut bebek – bebek lain, wajah mereka terlihat ngeri, malah ada yang bergegas berlalu, bersahut – sahutan suara bebek lain.

Nguing – nguing – nguing samar Si Bebek mendengar suara itu mendekat, Si Bebek akrab dengan suara itu.

Biasanya Si Bebek dan rekan lain sesama Bebek akan minggir jika mendengar suara itu. Bebek mengerti jika suara itu datang dari para kuda pengawal, di belakang kuda pengawal biasanya berderet kuda – kuda gagahdan bertubuh besar. Jika mereka lewat, tandanya bagi Si Bebek dan bebek lain untuk menyingkir dari jalan, gerombolan kuda berpengawal itu adalah pemilik jalan, mereka berkuasa penuh atasnya.

Nguing – nguing – nguing, tapi kali ini tidak ada gerombolan kuda gagah bertubuh besar. Bebek – bebek lain masih mengerubuti.

Nguing -nguing – nguing suara itu semakin jelas mendekati si Bebek, semakin dekat tetap tak ada gerombolan kuda gagah. Aaahh Si Bebek mahfum, itu bukan suara kuda pengawal melainkan rekannya, kuda pengangkut.

Kwek – kwek – kwek kali ini Si Bebek merintih tatkala tangan – tangan berseragam cokelat mengangkat dirinya, apa ini? Si Bebek mencoba bergerak, tapi ia tak mampu merasakan dirinya sendiri. Tubuh Si Bebek kini ditunggangkan ke kuda pengangkut.

Kwek – kwek – kwek  Si Bebek perlahan melihat semua, lambat – lambat akhirnya menyadari yang terjadi. Dari atas kuda pengangkut Si Bebek dapat melihat cairan merah kental menggenang di bawah kaki – kaki kuda berkaki sepuluh yang besarnya berpuluh kali kuda pengangkut ini.

Kwek – kwek – kwek Si Bebek sadar, tadi ia terjerembab menyusruk masuk ke bawah kuda berkaki sepuluh yang berlari cukup kencang setelah sebelumnya ia bersenggolan dengan bebek lain.

Kini Si Bebek melihat kulitnya tak lagi mulus, tulang – tulangnya tak lagi satu, kakinya tak lagi bulat sempurna.

Kwek – kwek – kwek Si Bebek tertegun menyadari semua, tertegun melihat sebuah kantong oranye dengan resleting di bagian atas membujur di samping dirinya, cairan merah kental tetes menetes di sekitarnya.

 

Arus Balik Mudik 2012