Obrolan #1

Pembicaraan ini terjadi antara dua orang temen kantor, tempatnya di kantin. Disarikan dan ditulis ulang dari yang saya ingat 🙂

Temen 1 :Mengutuk, membenci, menghujat itu sudah menjadi kepandaian semua orang, kalo tidak mau disebut sebagai salah satu sifat dasar manusia. Mengutuk macet tapi sendirinya nyetir mobil yang ditumpangi sendirian. Macem bawa badan selebar jalan tapi marah sama bis yang dimuati lebih dari empat puluh orang. Gak kalah lucu pemerintahnya, panjang lebar ngomong mengatasi macet tapi regulasi penjualan kendaraan bermotor bukannya diperketat tapi dipermudah, malah menaikkan target penjualan setiap tahun. Ambivalen!. Kota asalmu juga, lucu, tiap tahun ribut banjir makin tinggi tapi daerah resapan ditimbun buat jadi perumahan.

Temen 2 :surprise, surprise, kaya yang ngomong paling bersih sendiri aja, kamu sadar gak semua yang kamu pake itu produknya kapitalis tapi ngakunya anti kapitalisme, anti kemapanan? knock knock knock.. rokokmu itu, memang merek lokal tapi tau kan klo sembilan puluh persen sahamnya sudah dimiliki asing? trus di kamar apartemenmu, air galon yang kamu minum tiap hari itu sudah bertentangan dengan UUD 45 apalagi dengan paham marxismu itu, tau? just admit that liberal economic system suits you, fits you exactly like a gear, baamm just like that, tolong garemnya dong. Bicara menolak tapi secara sadar  mengiyakan, apa itu namanya? bukan paradoks tapi munafik. and just like you said, mengutuk, menghujat, membenci itu sudah sifat dasar manusia, termasuk kamu.

Temen 1 : Aku sadar, sadar sesadar sadarnya yang kamu bilang tentang aku itu benar, i admit that! but, i lived inside the system without the ability to fight back, to resist and I have no allies. so the only thing i could do is spread the words, share the thought. build awareness around me setidaknya kalo kesadaran orang – orang di sekitarku sudah membaik, perlahan akan ada resistensi dari mereka minimal untuk hal – hal kecil, mengkritisi kebijakan pemerintah misalnya. Enak juga mi ayamnya.

Temen 2 : resistensi, resistensi, ujung – ujungnya ngomongin resureksi iya kan? serius, omonganmu sekarang makin gak bermutu. Nah sekarang klo kamu mau membangun kesadaran orang – orang di sekitar kamu trus apa yang sudah kamu lakukan selain ngoceh? dari dulu kamu selalu bilang kesadaran sosial muncul dari keadaan sosial terus apa lagi? perjuangan yang kamu elu elukan itu sekedar propaganda kosong teman, sekedar pengen eksis dibilang cerdas dan progresif, iya kan? akui saja.

Temen 1 : wo … wo woo… who the hell are you to judge me? ini tentang prinsip sodaraku, sikap hidup, hasilnya tidak terlihat dalam waktu sekejap.

Temen 2 :Benar! butuh waktu lama tapi setidaknya ada aksi nyata yang kamu lakuin selain ngomong sana ngomong sini, contoh, Ernesto Guevara tergugah hatinya setelah melihat kenyataan kondisi ekopol Amerika selatan saat perjalanannya mengelilingi benua itu, setelah itu ia menjadi orang yang sama sekali berbeda dari sebelumnya sampe mampu membangun perlawanan di sepanjang amerika latin dan sampe sekarang dikenal sebagai tokoh revolusioner. Mao pun seperti itu, dan kalo mau tau aslinya prinsip, tuh liat perseteruan dia dengan Liu Shaoqi soal garis revolusi itu baru soal prinsip, nah kamu? sekedar berteori kosong ngaku punya prinsip, prinsip yang mana? teori aja dapetnya dari buku.

Temen 1 : Ya kan setidaknya tidak manut saja, ada sikap kritis, percaya gak, dari obrolan kecil seperti ini saja, revolusi bisa terjadi kawan. yakinlah.

Temen 2 : Revolusi mbahmu, revolusi itu muncul dari tindakan sobat, T I N D A K A N. Revolusi tidak terjadi dari kasur. Revolusi dulu kebiasaan buruk lo, revolusi dulu diri lo baru ngomongin revolusi yang laen.

Advertisements

Latah bahasa #1

Celaka … celaka … kebiasaan mengganti PIN ATM tidak selamanya berdampak baik! Kartu saya ditelan tanpa basa basi oleh mesin ATM di kawasan Salemba pagi ini. Sudah menjadi kebiasaan bagi saya untuk selalu mengubah PIN ATM tiap satu bulan sekali, tapi pagi ini seolah – olah pikiran saya dikosongkan dan tanpa sadar memasukkan PIN lama tiga kali berturut turut sambil mengutuk mesin ATM yang tidak juga menerima akses kartu saya. Setelah tanda peringatan muncul dan kartu tertelan, saya tersadar baru saja kemarin malam melakukan penggantian PIN pada mesin di kawasan tempat saya tinggal.  Apa mau dikata, satu – satunya kartu ATM tersisa yang saya miliki lenyap karena kebodohan diri sendiri, untung saja di kantong masih ada selembar uang kertas sepuluh ribuan dan hanya butuh  dua kali naik angkot untuk tiba di apartemen.

Saat berada di dalam angkot kepala saya terus memikirkan ATM … ATM … ATM … anjungan tunai mandiri … automated teller machine … anjungan tunai mandiri … automated teller machine, betapa saya kagum dengan para pakar bahasa yang menemukan istilah yang pas sebagai padanan kata automated teller machine sehingga singkatan ATM tetap digunakan dalam bahasa Indonesia. Bayangkan saja jika saya yang disuruh mencari padanan katanya, mungkin yang terpikirkan adalah Mesin Kasir Otomatis, sehingga kita menyingkatnya menjadi MKO hehehe Jadi jika suatu saat kita bertemu orang asing dan mereka bertanya soal ATM kita akan kebingungan karena terbiasa dengan istilah MKO hahaha. Bukan perkara gampang menemukan padanan kata yang pas seperti itu, sayangnya sampai saat ini saya tidak mengetahui siapa orang yang berhasil memadankan dan membakukan istilah tersebut.

Dibalik kekaguman terhadap padanan kata itu, ada keresahan yang saya alami. Betapa saat ini kita, terutama kelas menengah yang hidup di kota – kota besar, sangat gemar menyelipkan istilah – istilah asing atau kosakata asing dalam percakapan sehari – hari. Bukan hal yang aneh lagi jika kita mendengan ada yang berkata – kata

“Harganya sih affordable

atau

“kayaknya proyek yang lu ajuin itu gak feasible

atau…

“sayangnya sampe saat ini belum available di sini”

apa susahnya mengganti kata affordable dengan terjangkau, feasible dengan kata layak dan available menjadi tersedia? Memang sudah rahasia umum jika penguasaan bahasa asing masih menjadi gengsi tersendiri di negeri kita, maklum saja jangankan bahasa internasional lain seperti Mandarin, Jerman atau Rusia, penguasaan Bahasa Inggris saja di Indonesia masih tergolong rendah. Jadi dengan menyelipkan sedikit kosakata asing seperti menjadi tanda bahwa yang berbicara fasih berbahasa asing.  Tapi sayangnya ternyata pengguna kosakata asing itupun ternyata penguasaan bahasa asingnya masih rendah, bahkan ada beberapa yang Bahasa Indonesia-nya saja masih kalang kabut hehehe. Sekedar menaikkan gengsi itu saja, sungguh di sayangkan ckckck.

Memang kita sadari atau tidak, dalam percakapan sehari – haripun kita tidak menggunakan Bahasa Indonesia dengna baik dan benar,bahkan dalam penulisan blog inipun saya akui tidak sepenuhnya berbahasa dengan baik dan benar. Begitu banyak terselip kata – kata daerah dan kosakata asing yang sudah seperti terbakukan ke dalam bahasa pergaulan sehari – hari. Namun, jika saja kita tidak awas dalam berbahasa, ada ketakutan dalam diri saya bahwa suatu hari Bahasa Indonesia akan semakin memudar, bukan saja karena kita terlalu latah berbahasa asing namun juga karena kebanggaan terhadap Bahasa Indonesia yang makin menurun. Mungkin ini salah satu penyakit laten pada diri bangsa ini, entah ada kaitannya atau tidak dengan lamanya penjajah bercokol di negeri kita, bangsa ini pengidap penyakit (maaf harus menggunakan bahasa asing hihihi) inferiority complex akut bin parah! selalu saja beranggapan diri ini tidak sesuai dengan standar masyarakat dunia. Segala sesuatu yang datang dari luar selalu dianggap lebih baik daripada apa yang dimiliki. Bukan sekali dua kali saya mengalami harus malu diajak teman yang terlalu antusias untuk ngobrol dengan “bule”, seolah – olah orang asing yang mereka lihat itu berderajat lebih tinggi dan pasti lebih dalam segala hal dibanding diri mereka sendiri, mental bangsa – bangsa jajahan, dan saya harus cengar cengir menerjemahkan pertanyaan – pertanyaan konyol mereka hahaha.

Syukurlah belakangan ini pemerintah sepertinya cukup tanggap dalam hal ini, makin banyak kosakata asli Indonesia yang diperkenalkan sebagai padanan kosakata asing. Misal unduh untuk kata download dan unggah untuk kata upload, cukup geli jika dulu kita sering mendengar ada teman yang minta fotonya di unggah ke jejaring sosial dengan menggunakan kata upload

“tolong aplotin (upload) foto kita kemaren ya” 🙂

sebetulnya kata – kata macam unggah dan unduh sudah ada sejak dulu dalam kosakata kita namun penggunaannya belum maksimal.

Kalo berkhayal atau memikirkan sesuatu dalam perjalan memang membuat waktu terasa berjalan sangat cepat. Angkot yang membawa saya sudah berada di depan kawasan apartemen tempat saya tinggal (bukan punya sendiri, biaya bulanan juga dibayarin hehehe), tersisa lima ribu rupiah di kantong cukuplah buat indomie rebus malam ini, besok ngantor nebeng temen terus minta anterin ke bank buat tarik uang tunai dan berharap dalam minggu ini punya waktu luang buat ngurusin ATM ke Palembang pphheewwwww

Di dalam unit, saya teringat sebuah proyek dari national geographic yang sangat ingin saya ikuti hingga saat ini. JIka saya tidak salah, proyek tersebut menelusuri punahnya sebuah bahasa di salah satu bagian afrika, saya lupa nama proyeknya. Bahasa saja bisa punah ckckck saya bergidik ngeri jika suatu hari nanti ternyata proyek tersebut dilakukan di Indonesia, meneliti punahnya Bahasa Indonesia hhiiiiii, semoga saja tidak akan pernah terjadi. wallahu’alam.

Jalan #1

Cuaca siang itu sangat terik, sangat terik! mungkin perlu penekanan dengan tanda kutip, cetak miring dan garis bawah untuk menegaskan bahwa siang itu matahari mengerahkan sedikit tenaga ekstra untuk membuat siapapun yang berdiri tanpa pelindung di luar ruangan akan merasa seperti sedang di sangrai hidup – hidup. Saya bersama beberapa orang lain sedang berdiri menunggu bis AKDP yg biasa melewati jalan lintas di daerah Lampung Selatan ini. Saya sedang berada di daerah Masgar, sekitar 60 menit dari Kota Tanjung Karang, Lampung. Lima belas menit berdiri, sebuah bis AKDP tampak di kejauhan, tangan perempuan berjilbab di depan saya melambai bis pun memelankan lajunya dan berhenti tepat di depan kami. Suasan di dalam bis sudah penuh sesak, isinya rata – rata adalah orang keturunan Jawa yang sudah menetap sebagai transmigran di Lampung, maka tak heran klo percakapan di dalam bis di dominasi dengan logat totok bahasa Jawa. Yang tersisa kosong hanyalah lorong tengah antara kursi penumpang, empat orang yang baru saja naik, termasuk saya, mengisi lorong tersebut, berdiri sambil memegang batang besi bulat yang memanjang sepanjang atap bis.

Sekitar lima menit berjalan, bis masuk ke sebuah SPBU, mengantri di belakang pick up colt diesel. Seorang penjaja es berteriak – teriak menjajakan es krim produksi rumahan yang di kemas dalam gelas plastik sambil bergelantungan di pintu bis, seorang bapak berteriak dari balik pintu memanggil tukang es, segelas es krim bertukar tempat dengan selembar dua ribuan dari tangan si bapak. Sejenak hanya terdengar obrolan – obrolan dari para penumpang dan desah nafas ibu – ibu yang tertidur di pojok belakang bis, tiba – tiba pundak saya disentuh dengan tepukan pelan, saya menoleh ke belakang, seorang pemuda usia belasan meminta izin untuk lewat, ia kemudian berdiri di depan pintu bis tanpa turun, memanggil si tukang es yang mulai berjalan menjauh. Selintas saya melihat ke arah si pemuda, jeans hipster sedikit melorot dengan tutup kantong belakang dengan ukuran yang menurut saya sangat ekstrim, jaket hoodie berwarna dasar hitam dengan pola berulang berwarna hijau. Saya sebentar tertegun dan membayangkan diri saya dalam pakaian itu, saya bisa membayangkan betapa tersiksanya saya, bayangkan, dengan t-shirt tipis, jeans dengan potongan regular fit dan sendal jepit seperti ini saja saya sudah mengutuk – ngutuk hari dengan panasnya yang tidak bersahabat, apalagi jika saya harus menggunakan tambahan jaket hoodie yang entah terbuat dari bahan apa, sangat tidak terbayang jika ternyata jaket tersebut terbuat dari bahan polyester yang sangat tidak bersahabat bagi cuaca tropis. Plus celana hipster yang sangat ketat di bagian bawah, gerah dan pasti risih. Saya tersadar saat si pemuda sudah berbalik badan dan memegang segelas es krim produksi rumahan itu. Ia kembali meminta izin lewat menuju kursinya.

Mata saya tertuntun untuk melihat si pemuda, saya bisa melihat ia bersama seorang teman, saya tidak bisa jelas melihat pakaian sang teman, tapi dari kesamaan gaya rambut mereka yang menyembul di balik sandaran kursi bis, saya bisa menebak klo gaya berpakaian mereka serupa. Gaya rambut mereka berpotongan seperti Andhika (vokalis Kangen Band) berwarna sedikit kemerahan, entah warna tersebut dihasilkan dari pewarna rambut atau akibat dari terjemur matahari. Mereka berbincang – bincang, tertawa kecil. Bis yang kami tumpangi kembali berjalan, si ibu di pojok terbangun karena bis menghentak lubang yang ada di jalan keluar SPBU. Perhatian saya masih tertuju ke arah si pemuda bersama temannya, terlihat sangat percaya diri dengan semua atribut yang melekat pada tubuhnya, tidak perduli banyak yang beranggapan gaya itu sering diasosiasikan dengan gaya dandanan yang norak atau kampungan.

Irama monoton laju mesin yang sesekali di selingi suara derak dan decit tiba – tiba berganti, sang supir menyalakan tape dek yang dipasang tepat di atas kepalanya. Saya tau lagu ini, saya tau siapa penyanyinya, saya tau video klip musiknya bahkan saya sangat jelas mampu mengingat wajah sang vokalis. Sekilas saya melihat si pemuda bersama temannya menggoyang – goyangkan kepala tanda mereka menyukai dan sangat familiar dengan musik yang diputar si sopir. Musik berirama mendayu dengan lirik yang seadanya dan komposisi musik secukupnya. Musik yang juga diasosiasikan dengan gaya dandan si pemuda, juga di asosiasikan sebagai musik kampungan. Bahkan banyak musisi – musisi lain yang menilai musik seperti ini hanyalah sampah, musik tak layak dengar dan sebagainya, belum lagi para analis yang menilai bahwa musik seperti ini dibuat hanya utuk memenuhi keinginan industri. Okelah saya tidak ingin terlalu jauh bicara tentang musik ini itu dan tetek bengeknya, saya bukan musisi, hanya penikmat yang tidak fanatis terhadap satu aliran musik saja. Saya hanya merasa kasian kepada orang – orang seperti si pemuda, dicap kampungan (dengan konotasi yang jelek, walaupun pada dasarnya memang orang kampung, sayapun juga orang kampung) bahkan sekarang diberi label alay dengan segala definisinya (sejauh yang saya baca tidak ada definisi positif untuk alay) siapa kita yang berhak untuk menilai orang lain? atas dasar apa kita boleh menilai perilaku seseorang? atas dasar apa kita bisa mengatakan bahwa kita jauh lebih superior dibanding orang – orang tersebut?

Tiba di terminal rajabasa, saya kembali melihat beberapa orang dengan dandanan persis seperti pemuda di dalam bis tadi. Tiba – tiba saja rasanya tubuh saya seperti berada di dalam oven membayangkan pakaian mereka di cuaca yang seterik ini. Tapi mereka terlihat santai, berjalan melintasi terminal yang gersang sambil membawa beberapa tas dengan ukuran lumayan besar. Ingin rasanya saya tawarkan minuman botol ber-ion milik saya kepada mereka, saya takut mereka dehidrasi 🙂 tentu saja niat itu tidak saya lakukan. Mata saya melirik jam tangan, pukul empat lewat dua puluh sore hari, saya harus bergegas. Bis yang akan membawa saya menyebrang selat sunda menuju tempat penugasan yang baru di daerah Jakarta Timur akan berangkat pukul lima sore ini. Semua yang berawal akan berakhir, dan setiap akhir akan membawa awal baru. Semoga.