Kuala Stabes [#1]

Sepoi angin laut berhembus di Dermaga Kuala sore itu, di sebuah bangku panjang dermaga seorang lelaki tua paruh baya duduk gelisah. Matanya memandang jauh, kosong, deburan ombak di bawah kakinya menyapa namun tak juga ia hiraukan. Wancik Munzir, panggilan lelaki itu, termenung memikirkan setiap kejadian yang melibatkan dirinya akhir – akhir ini. Sebuah pertanyaan besar menggema di kepalanya, mengapa setiap yang ia lakukan belakangan ini selalu salah. Lupa mengontrol Supri untuk melakukan pemolesan mold release wax berakibat perahu jukung berbahan fiber produksi mereka melekat pada cetakan dan tak bisa dilepaskan, sehingga terpaksa Bang Asep memotong bagian tengah perahu supaya bisa ditarik paksa. Salah melakukan perhitungan pada dudukan gading – gading perahu sehingga lagi – lagi  Bang Asep terpaksa membongkar perahu yang seharusnya sudah selesai. Kemudian, yang baru saja terjadi, sebetulnya hanya kejadian kecil tapi berakibat fatal, sangat fatal. Wancik Munzir lupa mematikan kran air kamar mandi sehingga air meluber dan membanjiri gudang persediaan material. Akibatnya, dua gulung woven roving dan satu gulung chopped strand mat fiberglass kuyup terendam air. Dua kesalahan sekaligus di sini, membiarkan gulungan serat kaca di lantai dan lupa mematikan kran air. Wancik Tonga tengadah, ia melihat gelayut rendah mendung bergeser perlahan. Titik air ada yang bercecer dari arakan awan itu, memercik di mukanya.

“Cik harusnya paham, wancik itu sudah tua, sudahlah minta ia pulang ke Jakarta, ia bisa banyak bermain bersama cucunya, sudah. Ia tak cakap lagi bekerja”

“Kau tak paham Fik, Cik bisa bangun usaha ini berkat wancik, ia yang dulu mendorong Cik untuk berani berusaha sendiri, Ia pula yang dulu kasih pinjam modal sama Cik”

“Ah itu cakap Cik saja, Cik sendiri paham itu cuma jalan yang dikasih Tuhan pada Cik melalui Wancik. Berfikirlah sehat Cik, jika terus – terusan wancik buat salah bangkrut kita”

“Aku belum temukan waktunya Fik, belum”

“Atau kita pindahkan saja Wancik ke kantor, minta beliau urus surat menyurat kita”

“Mana mau dia Fik, berpuluh tahun ia bekerja di belakang meja mengurus usahanya, dari nol Fik, sampai menjadi besar, jauh lebih besar dari usaha kita ini”

“Aku tahu Cik, paham. Tapi ini sekarang tentang kita, usaha kita bukan lagi usaha Munzir Mustopa. Usaha wancik sudah turun ke anaknya, kenapa ia tak pensiun total, urus badan sendiri saja ia sudah tak kuat”

“Cukup Fik, nanti kita bicarakan lagi”

Fikri bungkam, tapi mukanya tetap masam menghitung kerugian akibat kesalahan wancik beberapa hari terakhir. Fikri Paham sepaham – pahamnya jika wanciknya itu pengusaha sukses, bahkan hingga saat ini usaha galangan kapalnya masih menjadi salah satu galangan paling ramai di Indonesia. Tapi mengapa saat memutuskan pensiun ia malah memilih untuk menyingkir kemari. Daerah pesisir yang sepi dan sunyi, hanya nelayan dan petani yang ramai di sini. Mengapa wanciknya malah meminta ciknya untuk mempekerjakannya di gudang kecil mereka ini, gudang yang memproduksi perahu jukung berbahan fiberglass dengan kapastias maksimal hanya 15 – 20 jukung per bulan. Fikri berlalu, ia kembali ke gudang dan berharap tak ada kesalahan lagi yang dibuat wanciknya.

 

Arif menghela nafas panjang, kejadian seperti ini jauh dari perkiraannya saat pertama kali memutuskan untuk menerima permintaan wanciknya. Arif berharap banyak masukan yang bisa didapat dari pengalaman puluhan tahun wanciknya, tapi kenyataan berbanding terbalik. Wancik Munzir seharusnya pensiun total. Arif terkenang obrolan bersama wanciknya beberapa waktu lalu. Sebuah permintaan sederhana yang dianggap Arif sebagai gurauan.

“Wancik sudah terlalu lelah dengan semua hingar bingar kota Rif. Wancik suka di sini, laut dekat, pantai bersih, gunung dekat, udara bersih, malam senyap cuma ada suara jangkrik”

“Jika Wancik memang kerasan di sini dan mau kerja di tempat seperti ini Saya tidak keberatan menerima Wancik, sungguh”

“Tapi Wancik tak mau kau taruh di kantor Rif, wancik ingin banyak bergerak” Wancik berseloroh sambil meregangkan tangannya, senyumnya lebar diiringi tawa keduanya.

“Kebetulan Wancik. Fikri ingin aku fokuskan di marketing, supaya kita bisa ambil pembeli dari luar daerah. Nah Wancik bisa ambil posisi Fikri di pengawas produksi, nanti Fikri yang jelaskan sedikit kerjanya”

“Baguslah kalau begitu”

 

Bersambung…..

 

catatan kaki:

– cik : kakak termuda. Panggilan anak bungsu untuk kakak di atasnya. Beda dengan panggilan Encik/Encek

-Wancik : Paman. Adik lelaki ibu atau bapak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s