Latah bahasa #1

Celaka … celaka … kebiasaan mengganti PIN ATM tidak selamanya berdampak baik! Kartu saya ditelan tanpa basa basi oleh mesin ATM di kawasan Salemba pagi ini. Sudah menjadi kebiasaan bagi saya untuk selalu mengubah PIN ATM tiap satu bulan sekali, tapi pagi ini seolah – olah pikiran saya dikosongkan dan tanpa sadar memasukkan PIN lama tiga kali berturut turut sambil mengutuk mesin ATM yang tidak juga menerima akses kartu saya. Setelah tanda peringatan muncul dan kartu tertelan, saya tersadar baru saja kemarin malam melakukan penggantian PIN pada mesin di kawasan tempat saya tinggal.  Apa mau dikata, satu – satunya kartu ATM tersisa yang saya miliki lenyap karena kebodohan diri sendiri, untung saja di kantong masih ada selembar uang kertas sepuluh ribuan dan hanya butuh  dua kali naik angkot untuk tiba di apartemen.

Saat berada di dalam angkot kepala saya terus memikirkan ATM … ATM … ATM … anjungan tunai mandiri … automated teller machine … anjungan tunai mandiri … automated teller machine, betapa saya kagum dengan para pakar bahasa yang menemukan istilah yang pas sebagai padanan kata automated teller machine sehingga singkatan ATM tetap digunakan dalam bahasa Indonesia. Bayangkan saja jika saya yang disuruh mencari padanan katanya, mungkin yang terpikirkan adalah Mesin Kasir Otomatis, sehingga kita menyingkatnya menjadi MKO hehehe Jadi jika suatu saat kita bertemu orang asing dan mereka bertanya soal ATM kita akan kebingungan karena terbiasa dengan istilah MKO hahaha. Bukan perkara gampang menemukan padanan kata yang pas seperti itu, sayangnya sampai saat ini saya tidak mengetahui siapa orang yang berhasil memadankan dan membakukan istilah tersebut.

Dibalik kekaguman terhadap padanan kata itu, ada keresahan yang saya alami. Betapa saat ini kita, terutama kelas menengah yang hidup di kota – kota besar, sangat gemar menyelipkan istilah – istilah asing atau kosakata asing dalam percakapan sehari – hari. Bukan hal yang aneh lagi jika kita mendengan ada yang berkata – kata

“Harganya sih affordable

atau

“kayaknya proyek yang lu ajuin itu gak feasible

atau…

“sayangnya sampe saat ini belum available di sini”

apa susahnya mengganti kata affordable dengan terjangkau, feasible dengan kata layak dan available menjadi tersedia? Memang sudah rahasia umum jika penguasaan bahasa asing masih menjadi gengsi tersendiri di negeri kita, maklum saja jangankan bahasa internasional lain seperti Mandarin, Jerman atau Rusia, penguasaan Bahasa Inggris saja di Indonesia masih tergolong rendah. Jadi dengan menyelipkan sedikit kosakata asing seperti menjadi tanda bahwa yang berbicara fasih berbahasa asing.  Tapi sayangnya ternyata pengguna kosakata asing itupun ternyata penguasaan bahasa asingnya masih rendah, bahkan ada beberapa yang Bahasa Indonesia-nya saja masih kalang kabut hehehe. Sekedar menaikkan gengsi itu saja, sungguh di sayangkan ckckck.

Memang kita sadari atau tidak, dalam percakapan sehari – haripun kita tidak menggunakan Bahasa Indonesia dengna baik dan benar,bahkan dalam penulisan blog inipun saya akui tidak sepenuhnya berbahasa dengan baik dan benar. Begitu banyak terselip kata – kata daerah dan kosakata asing yang sudah seperti terbakukan ke dalam bahasa pergaulan sehari – hari. Namun, jika saja kita tidak awas dalam berbahasa, ada ketakutan dalam diri saya bahwa suatu hari Bahasa Indonesia akan semakin memudar, bukan saja karena kita terlalu latah berbahasa asing namun juga karena kebanggaan terhadap Bahasa Indonesia yang makin menurun. Mungkin ini salah satu penyakit laten pada diri bangsa ini, entah ada kaitannya atau tidak dengan lamanya penjajah bercokol di negeri kita, bangsa ini pengidap penyakit (maaf harus menggunakan bahasa asing hihihi) inferiority complex akut bin parah! selalu saja beranggapan diri ini tidak sesuai dengan standar masyarakat dunia. Segala sesuatu yang datang dari luar selalu dianggap lebih baik daripada apa yang dimiliki. Bukan sekali dua kali saya mengalami harus malu diajak teman yang terlalu antusias untuk ngobrol dengan “bule”, seolah – olah orang asing yang mereka lihat itu berderajat lebih tinggi dan pasti lebih dalam segala hal dibanding diri mereka sendiri, mental bangsa – bangsa jajahan, dan saya harus cengar cengir menerjemahkan pertanyaan – pertanyaan konyol mereka hahaha.

Syukurlah belakangan ini pemerintah sepertinya cukup tanggap dalam hal ini, makin banyak kosakata asli Indonesia yang diperkenalkan sebagai padanan kosakata asing. Misal unduh untuk kata download dan unggah untuk kata upload, cukup geli jika dulu kita sering mendengar ada teman yang minta fotonya di unggah ke jejaring sosial dengan menggunakan kata upload

“tolong aplotin (upload) foto kita kemaren ya” 🙂

sebetulnya kata – kata macam unggah dan unduh sudah ada sejak dulu dalam kosakata kita namun penggunaannya belum maksimal.

Kalo berkhayal atau memikirkan sesuatu dalam perjalan memang membuat waktu terasa berjalan sangat cepat. Angkot yang membawa saya sudah berada di depan kawasan apartemen tempat saya tinggal (bukan punya sendiri, biaya bulanan juga dibayarin hehehe), tersisa lima ribu rupiah di kantong cukuplah buat indomie rebus malam ini, besok ngantor nebeng temen terus minta anterin ke bank buat tarik uang tunai dan berharap dalam minggu ini punya waktu luang buat ngurusin ATM ke Palembang pphheewwwww

Di dalam unit, saya teringat sebuah proyek dari national geographic yang sangat ingin saya ikuti hingga saat ini. JIka saya tidak salah, proyek tersebut menelusuri punahnya sebuah bahasa di salah satu bagian afrika, saya lupa nama proyeknya. Bahasa saja bisa punah ckckck saya bergidik ngeri jika suatu hari nanti ternyata proyek tersebut dilakukan di Indonesia, meneliti punahnya Bahasa Indonesia hhiiiiii, semoga saja tidak akan pernah terjadi. wallahu’alam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s