Kebun Rambutan

Kebun rambutan ini semakin mengecil setiap tahun, bukan karena aku yang bertumbuh besar tapi karena selalu saja ada bangunan baru yang mengharuskan beberapa pohon rambutan merelakan kehidupan mereka untuk beton – beton itu. Tahun kemarin kos – kosan sepuluh pintu dibangun di sisi timur kebun ini, tahun ini sebuah rumah type 36 menjadi penghuni baru sisi barat kebun yang berluas kira – kira 1 hektar. Rumah dan kos – kosan itu melengkapi beberapa bangunan lain yang sudah lebih dulu ada sebelumnya, sebuah rumah yang bersisian dengan si rumah baru dan ruko yang berada di sisi selatan yang berhadapan langsung dengan jalan raya. Kebun rambutan ini bukan kebun milik keluarga kami, aku hanya suka melewatinya. Sejak ayah mengajak kami pindah ke sini aku sudah merasa memiliki hubungan spesial dengan kebun rambutan yang berbatasan langsung dengan halaman rumah kami ini. Pertama kali pindah saat kelas 2 SD, keluarga kami di sambut dengan buah – buahnya yang matang memerah, aku tak peduli siapa yang memiliki kebun ini aku berlarian menghambur, memanjat, memetik dan memakan setiap buah yang bisa di raih oleh tanganku. Sekitar seminggu kemudian aku baru mengetahui pemilik kebun ini, orang – orang sekitar memanggilnya dengan sebutan kakek, seorang pria paruh baya berambut perak berperawakan kecil. Ia terkekeh ketika melihat aku memanggul sekantong rambutan sambil berlari pulang. Ia menghampiriku di beranda rumah, tempat aku menumpahkan isi kantong kresekku. Aku yang saat itu sendirian di rumah tidak ambil pusing pada keberadaannya, toh aku rasa seorang kakek tidak akan mampu membahayakanku. Sambil tertawa dia mengatakan akan memanggil polisi untuk menangkap pencuri. Keningku berkerut berusaha mencerna perkataannyam aku menoleh ke kanan kiri, memastikan tidak ada orang lain di sekitar kami apalagi pencuri. Mata si kakek kemudian melirik ke arah buah rambutan yang berserakan di beranda rumah, sesaat kemudian aku baru menyadari bahwa akulah si pencuri yang dimaksud si kakek.

Bukan tanpa alasan ayahku mengajak kami pindah kemari, sebuah kabupaten kecil dengan akses transportasi yang belum terlalu memadai, bayangkan setelah pukul 5 sore jangan harap akan bertemu dengan angkutan umum lagi. Bahkan pasar tradisionalnya masih menggunakan sistem “hari pasaran”. Dalam 10 tahun kedepan, kabupaten ini akan menjadi salah satu kabupaten termaju di provinsi ini, begitu menurut ayah, Ibu dan kami anak – anaknya hanya bisa mengiyakan walaupun itu artinya ibu dan ayah harus bersiap satu jam lebih pagi untuk menuju kantor masing – masing di Kota Palembang. Dari ketiga anak, aku yang paling bisa beradaptasi di sini, aku suka di sini, sepi dan banyak lapangan terbuka tempat bermain walaupun aku harus bermain sendirian. Dua tahun sejak kepindahan, Kakak pertamaku mulai tidak kerasan, Ia yang sudah berada di kelas satu SMA akhirnya dititipkan ke rumah nenek di Bandung dan melanjutkan sekolah di sana. Dua tahun sejak itu giliran kakak perempuanku yang tidak betah. Ayah dan ibu sepakat memindahkan sekolahnya ke Palembang dengan satu syarat, tanpa ngekos atau tinggal di rumah kerabat artinya kakak perempuanku harus bolak – balik sekolah rumah sama seperti ayah dan ibu. Jadilah setiap hari, kecuali sabtu dan minggu, sejak pukul setengah enam pagi hingga lima sore aku menjadi penghuni tunggal di rumah. Rumah, halaman hingga kebun rambutan menjadi medan pertempuranku setiap hari, kejadian seperti itu berlangsung hingga kakak perempuanku menyelesaikan kuliahnya.

Aku lupa kapan terakhir berlari – lari di tengah rimbun kebun ini. Sejak SMA aku sudah jarang berada di rumah, bukan pindah sekolah seperti kakak – kakakku, Tapi lebih karena masa puber yang menyodok – nyodok ingin ditampilkan, ingin mendapat ruang lebih, ingin mendapat kesempatan dipertunjukkan. Jadilah masa SMA aku habiskan di lapangan bola, organisasi siswa intra sekolah dan beberapa kegiatan luar sekolah lain. Ayah suka aku aktif dan ketergantunganku bermain di kebun rambutan berkurang drastis. Aku akui terkadang godaan untuk menyambangi dahan – dahan rapuh pohon rambutan yang mulai tua kadang muncul, hanya saja ego seorang siswa SMA memberikan batasan itu. Kini sudah delapan tahun aku tidak lagi tinggal serumah dengan ayah dan ibu, aku sudah pindah ke kota lain, bukan karena bosan atau tidak betah di kabupaten kecil itu. Tapi panggilan pekerjaan mengharuskan aku berada di seberang lautan. Sedikit banyak ramalan ayah memang terbukti, kabupaten ini berkembang pesat. Setidaknya sejak masuk kuliah aku bisa melihat sendiri perkembangan kabupaten ini, cepat, meninggalkan kabupaten – kabupaten lain, walau harus diakui juga perkembangan ini terasa sangat instan terkesan karbitan, prematur, semakin aku dewasa, semakin aku tidak menyukainya.

Untuk ke delapan kalinya aku menjalani “ritual” mudik lebaran, kerinduan menyesap udara kampung sudah tidak setebal dulu lagi. Tahun – tahun pertama bekerja aku sangat menyukai mudik, kembali ke kampung dengan tradisinya, meresapi kesederhanaan orang – orangnya, berbaur dengan kesahajaan adatnya. Delapan tahun berlalu, kampung ini semakin “kering”. Delapan tahun dan kampung ini berusaha menjadi lebih kota dari kota sendiri. Beberapa tahun yang lalu sepanjang jalan masih dipenuhi dengan pepohonan dan semak. Kini, hutan jenis baru telah menghuni sepanjang jalan, hutan berbatang beton tiga lantai yang menyapa dengan lambaian lembar rolling door-nya. Aku terpaksa tinggal di kota besar karena pekerjaan, aku tetap merindui kerimbunan hutan, cicit burung yang terbang bebas dan menggoda dengan tarian mereka dari atas dahan. Tetap menghasrati hamparan rawa sebagai tempat memancing. Sayangnya para developer itu tidak sependapat denganku, dan pemerintah mengamini hal itu. Hektaran rawa yang menjadi tempat resapan air ditimbun, pemukiman dibangun di atasnya. Bukan hanya satu perumahan, developer lain dapat dipastikan segera menyusul. Kabupaten ini sangat potensial dengan segala kekayaan alamnya, itu kata mereka.

Ayah benar, kabupaten ini maju pesat sampai aku menyadari bahwa salah satu alasan kepindahan kami kemari kurang lebih sama dengan kedatangan para developer itu. Delapan tahun meninggalkan kampung ini, kini aku berdiri diantara pohon – pohon rambutan itu. Memandangi rimbunnya, menghirup aroma kematian dari daun – daun yang mulai menguning, dahan – dahan yang mulai keropos dan akar yang mulai mengering. Dua puluh tiga tahun aku menjadi penghuni kampung ini, menghidupi semua urat dan nadinya, kini aku sadar aku menjadi salah satu racun yang menggerogotinya. Tinggal menungu waktu saja untuk kebun rambutan ini berubah menjadi hutan beton, bergabung bersama hutan beton tiga lantai lain yang telah mulai berdiri beberapa tahun sebelumnya. Mungkin delapan tahun kemudian aku tidak akan melihat lagi satupun dari pohon – pohon rambutan ini. Saat kabupaten kecil ini mulai menyebut dirinya kota.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s