Penggalan #2

Surau ini adalah simbol kampung kami, dengan luas hanya sekitar 4X5 m surau ini tepat berada di sebelah barat alun – alun desa dan berhadap – hadapan dengan kantor kelurahan. Atapnya terbuat dari seng yang mulai mengarat dengan paku yang mulai merenggang. Adzan maghrib baru saja usai, langit masih menumpahkan titik – titik airnya ke bumi setelah menyerang bumi dengan hujannya sejak ashar tadi. Seorang pemuda  berteduh di muka surau. Ia hanya mengenakan kaos oblong hitam dengan jeans biru belel dan sendal jepit, rambutnya sedikit melewati telinga dan menyandang sebuah ransel besar berwarna hitam. Seorang bapak paruh baya terlihat berjalan pelan ke arah surau, payung warna – warninya tampak meriah pada suasana sore yang kelabu. Saat tiba di muka surau sang bapak meletakkan payungnya dan membersihkan sisa – sisa air hujan yang menetes di peci putihnya. Pandangan ke dua orang ini pun bertemu, sang pemuda mencoba tersenyum sambil menggigil menahan dinginnya cuaca.

“Tidak sekalian sholat nak?” sang lelaki paruh baya menegur.

“Enggak pak, cuma numpang neduh” jawab sang pemuda sekenanya sambil menghisap dalam kreteknya.

“Ya udah sekalian aja sholat dulu, siapa tau abis sholat ujannya reda” lelaki itu meneruskan

setengah terpaksa, sang pemuda mengikuti langkah sang lelaki paruh baya ke arah dalam surau, setelah meletakkan ranselnya ia menuju sisi samping luar surau yang terdapat pancuran air, pancuran ini digunakan sebagai tempat berwudhu bagi orang – orang yang hendak sholat, terkadang anak – anak kecil kampung suka mandi di pancuran ini saat tengah hari.

lelaki paruh baya yang mengajak si pemuda untuk sholat  masih berada di dalam surau bersana jemaah lain, hujan terlihat belum hendak  reda, malah semakin deras air tertumpah, seekor katak sawah tampak berlompat – lompat melewati saluran air yang mulai kewalahan menerima debit air.

Si pemuda duduk di pintu surau, menyalakan batang terakhir kreteknya. Matanya memicing menatap langit yang gelap, kepulan asap terhembus keluar dari mulut dan hidungnya. Ia tertunduk menahan kantuk, ia belum beristirahat secara layak sejak menginjakkan kaki di kampung ini sore tadi. Perjalanan menggunakan kereta ekonomi selama lebih kurang tujuh jam dilanjutkan dengan bus kurang lebih satu jam  benar – benar menguras energinya. perjalannya bahkan belum usai, ia mesti berjalan sekitar setengah jam lagi untuk sampai ke tujuan, sebuah rumah bercat putih di di ujung selatan kampung ini, sayang setengah perjalan menuju rumah bercat putih ia dihentikan hujan dan harus berteduh di surau kecil ini bersama orang – orang yang tak ia kenal.  Cuaca semakin dingin, adzan isya mulai diperdengarkan.