Penggalan #3

Aku tidak sedang bahagia, tidak sedang berbunga – bunga apalagi sedang jatuh cinta! jauh! bahkan aku menganggap setiap lagu berbahasa romantis yang berputar di playlist komputerku sebagai sindiran! personal assault, personal harrasment, bahkan mungkin personal insult! separah itukah? mungkin, karena ini persoalan personal maka hanya saya yang bisa tau rasanya.

Semua berawal dari rasa kesepian, tepat rasa kesepian! kamu kesepian dan aku kesendirian -hedeh- mungkin kamu hanya memasang tanda “lonely” di pintu apartemenmu, tapi untuk aku, tanda “alone” sudah setahun lebih bahkan mungkin sudah mulai berdebu menggantung di semua celah yang memungkinkan untuk dilihat orang lain. Pintu, jendela, jika saja kecoak mengerti bahasa manusia, mungkin aku juga akan memasang tanda kesendirian di setiap celah yang ada di dinding untuk mengabarkan bahwa saya sudah terlalu lama sendirian dan rela menerima para kecoak untuk bepesta bersama – sama. huh sounds desperate eehh, mau bagaimana lagi, terakhir memiliki pasangan setahun yang lalu (kurang lebih, mungkin lebih, tapi saya tidak mau terdengar terlalu lama :p) itupun hubungan jarak jauh, bukan cuma pisah kota atau selat, kami terpisah pulau terpisah negara! dengan kesempatan bertemu hanya satu tahun sekali, satu tahun sekali, bisa dibayangkan sepeti apa hubungan kami?

Sementara kamu, juga berhubungan jarak jauh tapi hanya terpisah selat, itulah kenapa aku ibaratkan kamu hanya memasang tanda “lonely”. Aku tau bagaimana rasanya terpisah dari pasangan, tapi kalian memiliki kesempatan bertemu yang lebih banyak dan lebih mudah, liburan akhir pekan saja sudah cukup untuk kalian saling bertemu. Empat puluh lima menit perjalanan udara dan kalian sudah bisa saling bergandeng, saling mendekap aaaahh aku iri membayangkannya.

Maafkan aku Tuhan, sekali lagi aku ingin bilang -mungkin- saat itu Engkau sedang iseng dan mempertemukan kami berdua, dua orang dengan status berhubungan jarak jauh, dalam sebuah acara yang mengharuskan kami berdua tampil sebagai orang yang berada dalam spotlight. Aku dan dia berada dalam satu meja, sebagai dua orang keynote speaker dalam sebuah workshop. Adalah hal yang wajar jika selesai acara para panitia menjamu para pembicara dalam perjamuan yang informal, yang artinya, ada banyak kesempatan untuk saling bicara, melempar wacana, berbagi ide bahkan bercanda, dan di sela – sela itu semua kita sempat berbagi kontak pribadi, maksudku bukan hanya nomor ponsel atau alamat twitter, tapi kontak melalui tatapan mata, beberapa kali.

Jauh setelah acara, kita tidak saling kontak walaupun aku akui sesekali aku suka melihat – lihat garis masa twitter-mu, suka membaca postingan di blog-mu, dan aku akui kamu adalah orang yang sangat menarik perhatianku -tepokjidat- kita berdua berada di satu kota, kita berdua sama – sama mempunyai pasangan di seberang lautan. Aku sempat berpikir iseng, ya seandainya kamu juga memiliki pikiran yang sama, why dont we take this chance?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s