Penggalan #1

“Aku gak pernah dan kayaknya gak akan pernah bisa cinta sama kamu”¬† Rena tidak meneruskan kata – katanya. Ia menyesap kopinya yang mulai dingin berharap cairan hitam itu mampu mendorong dahak yang mulai menggumpal di tenggorokannya, matanya mulai berkaca – kaca. Dorongan emosional terkadang mampu menciutkan ruang dan menghentikan waktu, Rena merasa beranda ini menyempit, jarak Ia dan Desta menjadi lebih dekat dan semakin canggung. Kedua tangan Rena menggenggam erat mug hitam kopinya. Desta masih terdiam, Ia merasa kawanan awan comulunimbus yang tebal dan hitam baru saja meneriakkan gelegar petir langsung ke telinganya, suara derit kursi kayu tempat Ia duduk seperti sedang bersahutan dengan gemerisik daun pohon angsana di seberang beranda, menggunjingkan dirinya. Hari ini minggu, bukan hari kerja, bukan April mop bukan hari ulang tahunnya ataupun Rena, bukan hari jadi perkawinan mereka, Desta coba merunut semua kemungkinan bahwa ini hanyalah lelucon, atau mimpi atau sebuah kejutan dari Rena. Tapi Desta tidak menemukan alasan apapun.

***

Mata desta mengerjap, sinar matahari yang menelusup masuk dari tirai jendela kamara tidurnya menerpa langsung wajahnya. sisi ranjang Rena sudah kosong, tidak ada suara gemericik air dari kamar mandi. Desta berdiri dan menuju dapur, Ia hafal kebiasaan istrinya di hari minggu. Lima tahun menikah, hampir setiap minggu pagi Rena selalu “berperang” di dapur, sekedar menyiapkan sarapan pagi atau mencoba resep kue. Minggu pagi adalah satu – satunya waktu dimana Rena bisa merasa menjadi “ibu rumah tangga” selain itu, semua urusan rumah Bik Romlah yang atur dari sarapan pagi, menyiapkan pakaian kerja kedua majikannya, meyiapkan makan malam dan beres – beres rumah. Pagi minggu itu dapur kosong, sarapan sudah sedia di meja tapi tidak ada Rena di sana. Bik Romlah yang muncul dari pantry menyapa Desta dan berlalu ke ruang tengah. Pintu belakang terbuka, sepoi angin pagi masuk ditemani gemerisik daun pohon angsana di seberang beranda belakang rumah ini. Desta menemui istrinya duduk sendirian di beranda belakang, duduk di kursi kayu memeluk kedua kakinya sambil menggenggam mug hitam.

“Pagi sayang”

Rena menoleh dan tersenyum melihat Desta menghampiri dan mengecup kening serta ubun – ubunnya.

“Pagi, tumben hari minggu bangun jam segini? udah sarapan?”

“Minggu pagi itu biasanya istriku tercinta yang nyiapin sarapan, kok hari ini Bik Romlah?”

Rena hanya tersenyum dan mengalihkan pandangannya dari tatapan genit Desta yang kemudian memeluk dan kembali mencium ubun – ubunnya untuk kemudian berlalu ke dapur.

***

“Kamu yakin ini ide bagus?”

“As I notice, yes”

“As you notice? what are you, dumb? Desta? Hey, as I notice he isn’t your kind of guy”

“Dunia aja bisa berubah Wit, masa aku gak bisa”

“Rena, are you sure you wanna spent the rest of your life with the man who doesn’t even know what coldplay is?”

“Sahabatku Deswita yang cantik, usia kita sudah hampir tiga puluh dan kamu masih berfikir kayak anak usia belasan, oh c’mon give me a break! he figured it out what coldplay is, anyway”

Rena menghisap rokoknya menuang air putih dan meminum habis isi gelasnya, Ia menatap Deswita.

“He is a good looking guy you know, having a good position in a good firm, my parents like him for we’ve been friend since high school, what else? aku gak peduli dia gak tau coldplay, bahkan kalo dia gak tau Jacko pun aku rela”

“I see that you just cooking in up, honey. Aku cuma takut kamu terlalu terburu – buru, 27 and single bla bla bla”

“Hey, it isn’t about that. yes I am a single 27 years old girl, so what?”

“Sorry, I didn’t mean it, though”

Deswita membenamkan kepalanya ke dalam bantal. Sesaat kemudian ia bangkit menyalakan laptop dan memutar lagu  twisted logic Coldplay.

“……

Created, then drilled and invaded
If somebody made it
Someone will mess it up

…..”

Penggalan #3

Aku tidak sedang bahagia, tidak sedang berbunga – bunga apalagi sedang jatuh cinta! jauh! bahkan aku menganggap setiap lagu berbahasa romantis yang berputar di playlist komputerku sebagai sindiran! personal assault, personal harrasment, bahkan mungkin personal insult! separah itukah? mungkin, karena ini persoalan personal maka hanya saya yang bisa tau rasanya.

Semua berawal dari rasa kesepian, tepat rasa kesepian! kamu kesepian dan aku kesendirian -hedeh- mungkin kamu hanya memasang tanda “lonely” di pintu apartemenmu, tapi untuk aku, tanda “alone” sudah setahun lebih bahkan mungkin sudah mulai berdebu menggantung di semua celah yang memungkinkan untuk dilihat orang lain. Pintu, jendela, jika saja kecoak mengerti bahasa manusia, mungkin aku juga akan memasang tanda kesendirian di setiap celah yang ada di dinding untuk mengabarkan bahwa saya sudah terlalu lama sendirian dan rela menerima para kecoak untuk bepesta bersama – sama. huh sounds desperate eehh, mau bagaimana lagi, terakhir memiliki pasangan setahun yang lalu (kurang lebih, mungkin lebih, tapi saya tidak mau terdengar terlalu lama :p) itupun hubungan jarak jauh, bukan cuma pisah kota atau selat, kami terpisah pulau terpisah negara! dengan kesempatan bertemu hanya satu tahun sekali, satu tahun sekali, bisa dibayangkan sepeti apa hubungan kami?

Sementara kamu, juga berhubungan jarak jauh tapi hanya terpisah selat, itulah kenapa aku ibaratkan kamu hanya memasang tanda “lonely”. Aku tau bagaimana rasanya terpisah dari pasangan, tapi kalian memiliki kesempatan bertemu yang lebih banyak dan lebih mudah, liburan akhir pekan saja sudah cukup untuk kalian saling bertemu. Empat puluh lima menit perjalanan udara dan kalian sudah bisa saling bergandeng, saling mendekap aaaahh aku iri membayangkannya.

Maafkan aku Tuhan, sekali lagi aku ingin bilang -mungkin- saat itu Engkau sedang iseng dan mempertemukan kami berdua, dua orang dengan status berhubungan jarak jauh, dalam sebuah acara yang mengharuskan kami berdua tampil sebagai orang yang berada dalam spotlight. Aku dan dia berada dalam satu meja, sebagai dua orang keynote speaker dalam sebuah workshop. Adalah hal yang wajar jika selesai acara para panitia menjamu para pembicara dalam perjamuan yang informal, yang artinya, ada banyak kesempatan untuk saling bicara, melempar wacana, berbagi ide bahkan bercanda, dan di sela – sela itu semua kita sempat berbagi kontak pribadi, maksudku bukan hanya nomor ponsel atau alamat twitter, tapi kontak melalui tatapan mata, beberapa kali.

Jauh setelah acara, kita tidak saling kontak walaupun aku akui sesekali aku suka melihat – lihat garis masa twitter-mu, suka membaca postingan di blog-mu, dan aku akui kamu adalah orang yang sangat menarik perhatianku -tepokjidat- kita berdua berada di satu kota, kita berdua sama – sama mempunyai pasangan di seberang lautan. Aku sempat berpikir iseng, ya seandainya kamu juga memiliki pikiran yang sama, why dont we take this chance?