Lingkaran

Pada sebuah lingkaran, terdapat tiga buah jarum yang secara konstan selalu berotasi dengan titik sumbu pada bagian tengah lingkaran. Jarum berbentuk panjang tipis bergerak paling aktif dan cepat di antara yang lain. Pada tiap satu putaran yang dilalui jarum panjang tipis tersebut, jarum panjang yang berbentuk lebih tebal menempuh jarak satu perenampuluh bagian lingkaran itu. Sementara, satu jarum lain yang lebih pendek dari dua rekannya tampak bergerak paling malas. Ia hanya bergerak satu perduabelas bagian dari total lingkar jelajah, setelah jarum panjang yang tebal berputar penuh satu lingkaran atau setelah jarum panjang yang tipis menempuh jarak enampuluh putaran!
Selain ketiga jarum itu, pada lingkaran tersebut juga terdapat angka satu hingga duabelas yang secara berurutan dan serasi mengambil tempat dengan jarak yang sama sepanjang garis bujur lingkaran. Disetiap jeda antar angka berjejer empat buah garis yang membagi ruang itu menjadi lima bagian sama rata.

###

Kursi rotan dengan motif anyaman bambu di teras rumah itu, masih betah menyangga tubuh redi yang telah membenamkan dirinya di sana sejak setengah jam lalu. Sepatu kanvas berwarna cokelat lusuh itu belum diikat namun telah menghuni sepasang kaki redi yang bergoyang – goyang pelan. Asap kembali mengepul, rokok kretek dengan kemasan hijau kekuning – kuningan yang dihisap redi makin memendek. Telepon seluler CDMA redi tiba – tiba bergetar.
“halo”
“………”
“masih dirumah…”
“……….”
“ooo…. Ya udah, tar aku liat lagi deh”
Sebuah percakapan telepon yang dingin dan terkesan tanpa intonasi berlangsung singkat. Redi masih belum beranjak dari kursi rotan itu.
Dari kejauhan terdengar raungan sepedamotor bermesin dua tak mendekat. Redi dapat melihat jelas kedatangan motor itu dari tempat duduknya yang berada di bagian teras rumah sederhana ini. Sang pengendara motor membuka helm dan menyapa redi setelah mematikan mesin dan memarkir motornya. Percakapan terjadi antara redi dan sang pengendara motor, namun obrolan tersebut tidak berlangsung lama. Sang pengendara motor kembali meraungkan kendaraannya dan berlalu setelah menyalakan clacksound dua kali sebagai salam.
Kursi rotan itu masih tidak bergeming. Satu jam sudah pemuda berkacamata minus itu terduduk di atasnya. Andai saja sang kursi adalah makhluk bernyawa dan dapat bicara, mungkin saja telah terjadi percakapan panjang antar mereka berdua. Namun, rekan setia bagi si kursi adalah meja yang terletak tepat di samping kanannya. Meja itu terbuat dari kayu dengan taplak meja dari bahan lateks berwarna kuning gading. Kombinasi tiga benda mati ini merupakan ornamen yang menjadi ciri khas kediaman keluarga Bapak Rafik. Sebuah keluarga ideal yang lahir dari rahim orde baru.
Bayangan yang dihasilkan matahari kini sudah lebih pendek dari subyek aslinya. Jalan yang tadi ramai dipadati pelalu lalang dengan berbagai seragam kini mulai lengang. Bahkan, sebagian anak – anak kecil berseragam putih merah sudah mulai melalui jalan depan rumahnya dari arah yang berlawanan. Redi dan kursi rotan itu masih berdiam diri. Wangi parfum yang ia semprotkan sehabis mandi mulai kehilangan intensitas aroma. Sesaat malah bulir kecil keringat mulai keluar dari pori – pori redi. Rambut redi kini tidak lagi lembab.

***
Adzan ketiga hari ini telah berkumandang lima belas menit yang lalu, adik perempuan redi berseragam putih abu – abu baru saja pulang. Sambil berlalu ia mengucapkan salam dan dijawab dengan lirih oleh Redi. Samar di dalam rumah bercat hijau muda ini mulai terdengar suara televisi. Tidak ada yang berubah di bagian teras, tubuh redi masih tertahan di atas kursi rotan bermotif anyaman bambu itu. Tetap dengan meja kayu bertaplak lateks warna kuning gading. Sudah sejak beberapa jam yang lalu tidak ada lagi asap yang terkepul. Cuaca yang tidak lagi terik mulai mengundang para penjaja makanan keliling mendorong gerobak mereka melalui setapak – setapak perkampungan menjaring rezeki dari penduduk yang mulai berkumpul dan beraktifitas bersama.
“kak udah makan blom?” ringan suara itu berbas basi menanyakan salah satu perkara “keharusan” bagi manusia sebagai makhluk hidup.
“blom, knapa?” datar dan tanpa tekanan.
“bagi duit sih kak, buat jajan” intonasi bergeser kearah bujukan manja adik kepada kakak
Selembar sepuluh ribuan berpindah dari dompet redi ke penguasaan sang adik.
Ufuk barat perlahan mulai jingga, rona gelayut sinar matahari diantara awan – awan kelabu membentuk berkas sinar kemerahan. Kedua orangtua redi telah berada dirumah. Walau hanya pegawai negeri sipil, kedua orangtua redi termasuk tipikal orang yang rajin, rajin cari penghasilan tambahan maksudnya. Tak heran, ketika banyak pegawai negeri lain sudah berada dirumah saat matahari baru sedikit tergelincir dari titik kulminasinya. Kedua orangtua redi memilih untuk tidak berada di rumah, mereka memilih tetap berada di kantor atau mendatangi rumah rekan kerja sambil menawarkan bisnis sampingan yang membutuhkan banyak downline sebagai kaki – kaki dalam piramida bisnis berantai. Tapi sayangnya janji dari upline mereka belum terbukti.
Redi dan kursi tetap mesra, masih berbagi ruang dan waktu. Adzan maghrib terdengar lantang. Sang ayah berteriak memanggil redi masuk. Kepatuhan anak terhadap ayah akhirnya mampu memisahkan cerita romantis redi dan kursi rotan bermotif anyaman bunga. Dengan sedikit kesal redi kembali menanggalkan sepatu cokelat lusuh dari kakinya dan masuk ke dalam rumah.
“gulungan listrik tuh diberesin” nada tegas dan intimidatif dari sang ayah mengembalikan tubuh redi ke arah teras, namun kali ini bukan untuk membenamkan dirinya kembali ke atas kursi rotan. Setengah hati redi menggulung kembali kabel yang sejak siang tadi digunakan untuk mengisi tenaga telepon seluler GSM miliknya. Dengan menenteng gulungan listrik redi melewati sang ayah yang menatap nanar anaknya, selintas sang ayah melirik kearah telepon selular GSM redi yang sedari tadi tidak lepas dari genggaman si anak. Sekilas terbaca “facebook.com”.

_______

ditulis akhir 2008 saat facebook menjadi hip dimana – mana. diposting pertama kali di blog pribadi bulan agustus 2009.

Advertisements