Rumah

Ruslan masih berdiri mematung di depan gerbang rumah itu, dari sejak di bangun hingga akhirnya sekarang berpenghuni, rumah ini memang tidak pernah membuka gerbang depannya selebar ini, atau mungkin baru kali ini Ruslan melihatnya. Rumah ini terletak di pinggiran bukit dekat perkebunan tempat bapak dan emak Ruslan bekerja. Sejak rumah ini dibangun, Ruslan sedikit berterimakasih, separuh jalan setapak dari rumah menuju sekolahnya kini berbalut aspal. Ruslan dapat melihat seekor anjing dengan tinggi setengah tubuh orang dewasa dengan bulu berwarna hitam kecoklatan menatapnya tajam dari balik kandang. Ruslan juga bisa melihat mang Gani, yang bekerja sebagai tukang kebun, sibuk menyiram bunga di halaman yang luas itu. Ruslan akhirnya melanjutkan perjalanannya menuju sekolah, langkahnya ringan dijalan beraspal itu.

Hingga lepas adzan isya, bayangan rumah yang ia lihat tadi pagi masih membekas di benak Ruslan, belum pernah ia melihat rumah sebesar itu. Ruslan membayangkan ia dapat bermain petak umpet, gobak sodor bahkan bermain bola di halaman rumah itu. Belum lagi pagar yang tinggi menjulang, semuanya terbuat dari kayu dan batu. Ruslan membandingkan dengan rumahnya, andaikan rumahnya dibongkar habis dan dijadikan pagar, Ruslan yakin rumahnya tidak mampu mengisi penuh satu sisi saja dari keseluruhan pagar rumah ini. Malam sudah terlalu larut untuk anak seusianya, Ruslan menguap dan terlelap berselimut sarung.

***

Hari ini minggu, dan bukan hari libur bagi anak – anak seusia Ruslan di kampung ini. Mereka akan ikut orangtuanya ke perkebunan, membantu orangtua mereka mengangkat karung berisi pucuk – pucuk teh, membantu menimbang dan mengangkut karung – karung itu ke truk milik perkebunan. Setelah itu, anak – anak seperti Ruslan tidak tahu lagi kemana karung – karung itu dibawa. Di tempat penimbangan, Ruslan melihat seorang bapak yang berada di teras rumah besar itu kemarin pagi. Bapak itu berperawakan tambun berkulit bersih, sangat menonjol berada diantara pemetik teh yang sedang bicara padanya. Ruslan melihat bapaknya sedang bicara kepada bapak bertubuh tambun itu, Ruslan menghampiri, ia kemudian dikenalkan pada bapak bertubuh tambun itu. Fuad, begitu namanya.

Dari cerita bapak, Ruslan baru tahu kalau ternyata pak Fuad adalah pemilik rumah besar bepagar tinggi di pinggir bukit, bukan hanya itu, ternyata pak Fuad juga adalah pemilik perkebunan ini, dan rumah besar itu adalah rumah peristirahatan untuk pak Fuad dan keluarganya. Istilah ini aneh bagi Ruslan, bukankah rumah memang tempat beristirahat untuk para penghuninya? Ia, bapak, emak dan kakak – kakaknya selalu beristirahat di rumah setelah pulang sekolah atau bekerja. Ruslan semakin tidak mengerti ketika bapaknya bilang bahwa pak Fuad memiliki beberapa rumah lain selain di sini, bahkan ada beberapa lagi di luar kota. Otak kecil Ruslan mencoba mencerna, untuk apa pak Fuad memiliki rumah sebanyak itu? apakah di antara rumah – rumah itu ada rumah untuk bekerja? apakah ada rumah tempat bermain? karena rumah pak Fuad yang di dekat perkebunan ini hanya rumah peristirahatan. Tanpa sadar Ruslan kembali terlelap berbalut sarung, tak terasa sudah pukul sepuluh malam, ia harus sekolah besok pagi.

Advertisements

6 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s