Bapak

Adzan ashar baru saja berkumandang, Galih sudah sejak tadi berada di masjid, ia sedang bergembira bapaknya baru saja pulang. Walau tidak banyak oleh – oleh yang dibawa bapak untuknya, ia tetap saja bergembira sangat bergembira. Setidaknya ia bisa menyelusup diantara emak dan bapak saat tidur malam nanti, aroma tubuh bapak selalu bisa membuat ia tertidur pulas, sudah hampir tiga tahun hidungnya tidak mencium bau bapak yang bekerja ke kota, tapi ia masih sangat ingat bau itu. Bahkan dulu saat bapaknya berangkat merantau, emaknya sengaja tidak mencuci satu sarung bapak yang digunakan untuk menyelimuti si anak semata wayang mereka. Bau sang bapak selalu membuat anak – anak merasa aman begitu kepercayaan masyarakat sekitar. Tapi Galih tidak menemui bapaknya diantara para jemaah lain sore ini, dulu sebelum berangkat ke kota, bapak selalu berada diantara orang – orang di shaf depan.

Seusai sholat galih menemui bapaknya masih berada di rumah, masih duduk di muka jendela, masih dengan posisi semula saat ia berangkat ke masjid. Apakah bapak tidak sholat ke masjid? apakah bapak sholat di rumah? apakah bapak tidak mendengar suara adzan? apakah bapak tidak melihat Galih berangkat ke masjid? banyak pertanyaan yang berputar di kepala bocah berusia delapan tahun itu. Galih menghampiri bapak, bapak tersenyum dan mengangkat Galih ke pangkuannya. Saat itu, galih menyadari ada yang berbeda dari bapak, mata bapak tidak lagi berbinar seperti dulu, tidak ada cahaya yang dulu selalu menghangatkan Galih. Walaupun bapak tersenyum, Galih bisa merasakan ada kegetiran di balik senyum itu, dan Galih semakin merasa asing dengan Bapak.

“sholat dulu pak”

Suara emak pelan mengingatkan bapak dari belakang punggungnya, bapak menoleh dan menyahut kemudian menurunkan Galih dari pangkuannya. Bapak berjalan ke belakang, sesaat kemudian kembali masuk dan menggelar sejadah. Galih memerhatikan itu semua, Galih seperti kehilangan kegembiraan, kehilangan niat untuk menyelusup di antara bapak dan emak nanti malam, Galih melihat bapak sholat, tapi tidak melihat seperti sholat bapak dulu. Bahkan dulu sebelum bapak pergi, Galih ingat bapak yang selalu mengingatkan emak dan dirinya untuk sholat, tapi hari ini, saat kembali dari kota emak yang mengingatkan bapak. Mungkin bapak masih lelah setelah perjalanan jauh dari kota, Galih berharap mudah – mudahan maghrib nanti ia bisa menemui bapak kembali di barisan shaf terdepan.

“mak, galih maen sama fahri ya, salamoalaekom”

Galih pamit dengan salam sekenanya, menemui Fahri yang sudah menunggu di bawah. Rumah kampung sini rata – rata rumah kayu berbentuk panggung, hanya beberapa rumah saja yang dibangun dari bata atau batako seperti rumah pak lurah atau rumah pak Idris juragan sapi di kampung ini. Galih bercerita ke Fahri tentang kepulangan bapaknya, tentang oleh – oleh dan beberapa barang asing yang di bawa bapak dari kota. Galih dan Fahri kemudian hanyut bermain bersama teman – teman sebaya mereka di lapangan balai kampung.

Bapak telah kembali duduk di muka jendela, menatap keluar dengan tatapan kosong. Emak datang membawakan segelas kopi panas dan sepiring gorengan pisang. Bapak menatap dalam ke arah emak, menatap dengan penuh rasa cinta kepada wanita yang akhirnya memberikan keturunan setelah sepuluh tahun menikah. Tidak terasa ada tetesan tetesan kecil mengalir dari mata bapak, emak tersenyum dan menyodorkan kopi ke hadapan bapak.

“Maaf Inah, tiga tahun seperti percuma, sebelum berangkat aku banyak berjanji padamu, pada galih. Aku berjanji saat pulang kau tidak akan lagi menyadap getah – getah damar, kau tidak akan lagi berpanas – panas ke ladang”

hening

“Aku berjanji akan mengajak serta galih dan kau ke kota, galih akan bersekolah di tempat yang bagus, akan menjadi orang yang lebih pintar dari anak – anak lain dikampung ini, aku gagal nah, aku gagal sebagai bapak, aku gagal sebagai suami”

Tetesan bulir air mata kini juga membasahi pipi emak, wanita itu sesungguhnya rapuh, namun ia harus bisa sedikit bertahan untuk tidak ikut dalam kesedihan suaminya.

“sudahlah pak, kehidupan kita di sini juga masih bagus, Galih masih bisa bersekolah bersama anak – anak yang lain. Yang terpenting kami masih memiliki Bapak di sini, Bapak mungkin hanya mantan pekerja pabrik di kota, tapi tidak akan pernah menjadi mantan bapak untuk galih. Galih sangat mencintaimu pak, ia selalu bercerita tentang mimpi – mimpinya bersama bapak, emak yakin kegembiraan terbesar Galih adalah bisa berkumpul kembali bersama Bapak dan emak di sini, di kampung ini, di rumah kita sendiri”

“salamelekoomm”

Sedikit berlari Galih menaiki tangga kayu dan masuk ke rumah, bocah kecil sedikit ingusan itu melihat emak dan bapak sedang tersenyum ke arahnya. Bapak memanggil dirinya, dan Galih dapat melihat ada cahaya kembali benderang di mata bapak, bapak memeluk Galih dan emak erat, lebih erat dari yang pernah bapak lakukan kemudian mencium satu – satu kening kedua orang yang ia cintai itu.

Advertisements

6 Comments

  1. Sukaaaa
    Inget bapakku jadinya
    Yg suka memandang jauh kelangit
    (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)

    • waduh maaf klo ceritanya terlalu bertele – tele, tapi ini ditulis spontan sktr 15 menit, kejer tenggat jam 10 tadi hehehe saya suka postingan kamu #mantan, lucu, ironi tapi banyak kejadian di dunia nyata 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s