Hujan turun sebentar lagi

“Aku bisa mencium baunya, mak”

Itu kata – kata terakhir yang bisa diingat oleh Emak sebelum Tayak pergi meninggalkan kampung itu di satu sore yang mendung. Setelah pertengkaran hebat, Emak tidak bisa lagi membendung keinginan kuat anaknya untuk merantau, pergi meninggalkan kampung tempat ia dibesarkan, meninggalkan sahabat – sahabatnya, meninggalkan Vina, gadis seberang rumah yang jelas – jelas menaruh hati padanya. Meninggalkan sepetak sawah yang Bapak berikan untuknya.

Bapak sudah tidak lagi bicara padanya sejak pertama kali Tayak menyatakan keinginan untuk merantau, Bapak tidak pernah setuju. Sebagai orangtua, Bapak selalu berharap Tayak mau melanjutkan menggarap sawah yang sudah menjadi sumber penghasilan keluarga ini turun temurun. Bapak selalu berharap suatu hari Tayak mengenalkan seorang gadis untuk dipinang, seorang gadis dari kampung mereka sehingga Bapak bisa dengan jelas mengetahui asal – usulnya.

“Hujan turun sebentar lagi”

Suara Bapak mengisi kekosongan, ia kembali bicara kepada Tayak, Bapak tidak sanggup lagi untuk bungkam, ia terlalu mencintai anak bungsunya itu, Bapak terlalu mengkhawatirkan keadaanya nanti. Merantau jauh ke kota, berada di tempat yang asing, bising dan tidak bersahabat bagi pendatang. Meskipun Bapak tahu hujan tidak akan menyurutkan langkah Tayak, tetap saja Bapak berharap kali ini Tayak akan sedikit menunda kepergiannya.

“Tidak Pak, meskipun mendung sudah menggelayut, hujan tidak akan turun sore ini, aku bisa mencium baunya”

Bapak dan Emak sangat mengenal tabiat Tayak, pantang surut langkah jika tekad sudah membulat, tabiat keturunan dari Bapaknya. Tayak mengucapkan salam, mencium tangan kedua orangtuanya, mengangkat ransel dengan mantap dan melangkah pergi. Namun, kali ini Bapak benar, belum hilang tubuhnya di ujung jalan, air dari langit tumpah, ruah sejadi – jadinya. Emak bisa melihat tayak terus berjalan, dan sesekali berlari kemudian menghilang di balik belokan, emak menatap bapak yang memejamkan mata, sebuah doa terbang ke langit dan air mata emak turun bersama hujan sore itu.

Advertisements

10 Comments

  1. Aku seperti Tayak. Ngeyel kalau ingin sesuatu. ^^

    Enak membaca tulisan ini. Bagus.

    • terimakasih mas, blognya juga bagus.
      kyknya klo jadi anak laki memang mesti keras mas, klo gak keras gk bisa jadi kepala keluarga πŸ™‚

  2. Selalu berat untuk memulai sebuah perantauan. Oiya, kenapa saya berasa settingnya di minangkabau ya πŸ™‚

    • hahaha perasaannya bener mas, tayak itu nama panggilan temen saya yang memang asli dari padang πŸ™‚ tapi cerita ini fiktif kok hehehe

  3. cerita-nya bagus2an Gan.. sudah di publish ke buku lum? jadi inget pas Opa masih ada dulu (udah lama banget) sering bercerita di sore hari, ama malem hari…

    • mudah-mudahan ada yang mau publish jadi buku mas, tapi k lo sekarang dibilang cerpen terlalu pendek, mau dibilang sekedar prosa maknanya terlalu dangkal. mudah2an suatu saat bisa nulis cerita beneran jadi buku amin πŸ™‚ terimakasih sudah mampir mas πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s