Bingkisan berwarna biru

Hujan deras sepanjang hari ini membuat jalanan di daerah rumah Tio tergenang, setapak kecil bertanah merah basah. Hujan sudah tidak terlalu deras, Tio, lelaki kecil kelas lima sekolah dasar itu berlari kecil melompati genangan – genangan air, menyusur jalan kampung menuju sebuah rumah bercat putih di tengah kampungnya. Ia terlihat tergesa, air hujan tidak menyurutkan semangatnya.

Rumah yang ia tuju tepat berada di seberang kantor kelurahan, bercat putih dengan pagar kayu setinggi lutut. Taman bunga mengisi hampir seluruh bagian depan halaman rumah itu. Rumah itu lengang, pintunya tertutup, tirai – tirai jendela yang biasanya terbuka kini rapat tertutup. Tio mematung berdiri di depan pintu pagar rumah itu, ia berharap ada seorang gadis kecil duduk menonton hujan di depan jendela.

Astri, begitulah nama si gadis kecil teman sekolah Tio. Mereka sering berangkat sekolah bersama, bermain bersama, mengaji bersama. Kemarin pagi, di sekolah Astri bercerita bahwa keluarganya akan pindah ke kota hari ini. Seperti sebuah cerita epik perpisahan pangeran dan putrinya, Tio mendengar cerita itu dengan hati yang patah berteman hujan yang sejak subuh sudah mengguyur. Bagi Tio, Astri bukan lagi sekedar sahabat, bukan hanya teman sekolah yang cerdas atau teman yang pintar mengaji, Astri sudah merasuk menjadi sebagian jiwanya, separuh hidup yang membuat ia selalu berlari riang di pagi hari menuju sekolah. Semangat sore menuju surau kampung untuk mengaji demi dapat terus bersama dengan Astri.

Tio memberanikan diri membuka pagar dan melangkah masuk. Lelaki kecil itu mengetuk pintu, memberi salam. Hingga salam ketiga masih tidak ada jawaban dari dalam rumah. Tio terhenyak, terduduk di depan pintu rumah bercat putih itu, ia tidak paham apa yang ia rasakan, ia tidak mengerti arti cinta, ia tidak tahu arti kehilangan. Ia hanya paham bahwa mulai maghrib nanti ia akan berjalan sendiri ke surau, besok pagi ia akan berlari – lari sendiri menuju sekolah, ia akan sendirian menyebebrangi sungai dengan rakit kecil yang mereka buat berdua.

Tetesan air hujan yang membasahi badannya tidak cukup untuk membasuh semua ingatan bersama Astri. Tio berharap tadi pagi ia masih akan bertemu Astri, Tio berharap masih ada kesempatan bagi mereka untuk bertemu sebelum kepindahan keluarga Astri, berharap masih ada waktu untuknya memberikan bingkisan kecil berwarna biru ini.

“Aku sisipkan rindu untukmu di sini”

Lirih suara Tio terbawa hujan.

Advertisements

2 Comments

  1. Terima kasih atas kunjungannya dan komentarnya di blog saya. Saya suka tulisan ini. Puisi dengan bentuk prosa, sebuah mixing yang cukup hebat dan memang saat ini sedang “in” di kalangan pecinta sastra. Semangat.. πŸ™‚

  2. saya juga terimakasih mas, iya nih ternyata sekarang rata2 nulis pake gaya sprti ini hehe
    sama2 semangat mas πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s