Satu

Tekad lelaki itu telah bulat. ia berjalan menuju pintu, pada punggungnya terpanggul sebuah ransel besar, sepertinya ia hendak bepergian jauh. saat itu jarum pendek jam dinding kamarnya masih menunjuk angka empat.

###

Gemericik air sungai yang terdengar jelas dari rumah Fahri seolah menjadi irama buaian yang meninabobo-kan bocah kecil ingusan itu. Seorang lelaki tampak bergegas berjalan melewati halaman rumahnya. Tak lama kemudian terdengar lantang suara adzan membangunkan semua penghuni kampung untuk mengucapkan rasa syukur, sekaligus bentuk kepatuhan menghadap sang khalik. Di bagian lain kampung itu seorang bocah kecil lain baru saja melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Ia memakai sarung kotak – kotak dengan peci bulat berwarna kelabu, langkahnya mantap menuju ke arah surau yang berada di bagian tengah kampung mereka, dekat alun – alun desa. Anak itu adalah Galih sahabat Fahri.

Fahri terbangun setelah sang ibu berkali kali menarik kakinya. Ia memang tidak pernah bisa bangun sendiri untuk melaksanakan sholat subuh. Fahri bergegas mencuci muka, mengambil air wudhu, mengambil sarung dan kopiah hitamnya kemudian ia bergegas berlari kecil menuju surau. Di tengah perjalanan ia berhenti, ia melihat keramaian yang tak lazim di halaman rumah guru bahasa inggris mereka, rumah ibu isna. Pada birunya kegelapan langit subuh ia melihat sang sahabat, Galih sudah berdiri diantara keramaian yang sebagian besar merupakan bapak – bapak separuh baya yang bersiap menuju surau. Belum sempat Fahri menghampiri sang sahabat, dari jauh terdengar suara sirene polisi mengaung ngaung di sunyinya udara subuh kampung itu. serentak semua kepala menolehkan mukanya menuju ke arah sirene, dan keramaian itu memberikan jalan kepada sebuah mobil ambulans dan beberapa mobil polisi yang memasuki pekarangan rumah yang berada dekat dengan alun – alun desa itu.

Sehabis sholat subuh, Galih dan Fahri bergegas kembali ke rumah ibu Isna. mereka ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Setibanya di rumah itu mereka hanya menemui beberapa orang berpakaian seragam coklat dengan perut sedikit buncit berlalu – lalang di sekitar rumah itu, tidak ada siapa – siapa lagi. Pita berwarna kuning dari plastik tampak dilingkarkan pada seluruh bagian rumah itu, plastik itu bertuliskan dengan bahasa inggris, Galih dan Fahri yang baru duduk di kelas empat SD itu hanya berfikir bahwa itu adalah dekorasi baru untuk rumah ibu Isna, dan karena ibu Isna adalah guru bahasa inggris maka pita itu juga menggunakan bahasa inggris pula. Mereka pun memutuskan pulang dan berharap dapat bertemu dengan ibu Isna di sekolah pagi ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s