Kuala Stabes [#1]

Sepoi angin laut berhembus di Dermaga Kuala sore itu, di sebuah bangku panjang dermaga seorang lelaki tua paruh baya duduk gelisah. Matanya memandang jauh, kosong, deburan ombak di bawah kakinya menyapa namun tak juga ia hiraukan. Wancik Munzir, panggilan lelaki itu, termenung memikirkan setiap kejadian yang melibatkan dirinya akhir – akhir ini. Sebuah pertanyaan besar menggema di kepalanya, mengapa setiap yang ia lakukan belakangan ini selalu salah. Lupa mengontrol Supri untuk melakukan pemolesan mold release wax berakibat perahu jukung berbahan fiber produksi mereka melekat pada cetakan dan tak bisa dilepaskan, sehingga terpaksa Bang Asep memotong bagian tengah perahu supaya bisa ditarik paksa. Salah melakukan perhitungan pada dudukan gading – gading perahu sehingga lagi – lagi  Bang Asep terpaksa membongkar perahu yang seharusnya sudah selesai. Kemudian, yang baru saja terjadi, sebetulnya hanya kejadian kecil tapi berakibat fatal, sangat fatal. Wancik Munzir lupa mematikan kran air kamar mandi sehingga air meluber dan membanjiri gudang persediaan material. Akibatnya, dua gulung woven roving dan satu gulung chopped strand mat fiberglass kuyup terendam air. Dua kesalahan sekaligus di sini, membiarkan gulungan serat kaca di lantai dan lupa mematikan kran air. Wancik Tonga tengadah, ia melihat gelayut rendah mendung bergeser perlahan. Titik air ada yang bercecer dari arakan awan itu, memercik di mukanya.

“Cik harusnya paham, wancik itu sudah tua, sudahlah minta ia pulang ke Jakarta, ia bisa banyak bermain bersama cucunya, sudah. Ia tak cakap lagi bekerja”

“Kau tak paham Fik, Cik bisa bangun usaha ini berkat wancik, ia yang dulu mendorong Cik untuk berani berusaha sendiri, Ia pula yang dulu kasih pinjam modal sama Cik”

“Ah itu cakap Cik saja, Cik sendiri paham itu cuma jalan yang dikasih Tuhan pada Cik melalui Wancik. Berfikirlah sehat Cik, jika terus – terusan wancik buat salah bangkrut kita”

“Aku belum temukan waktunya Fik, belum”

“Atau kita pindahkan saja Wancik ke kantor, minta beliau urus surat menyurat kita”

“Mana mau dia Fik, berpuluh tahun ia bekerja di belakang meja mengurus usahanya, dari nol Fik, sampai menjadi besar, jauh lebih besar dari usaha kita ini”

“Aku tahu Cik, paham. Tapi ini sekarang tentang kita, usaha kita bukan lagi usaha Munzir Mustopa. Usaha wancik sudah turun ke anaknya, kenapa ia tak pensiun total, urus badan sendiri saja ia sudah tak kuat”

“Cukup Fik, nanti kita bicarakan lagi”

Fikri bungkam, tapi mukanya tetap masam menghitung kerugian akibat kesalahan wancik beberapa hari terakhir. Fikri Paham sepaham – pahamnya jika wanciknya itu pengusaha sukses, bahkan hingga saat ini usaha galangan kapalnya masih menjadi salah satu galangan paling ramai di Indonesia. Tapi mengapa saat memutuskan pensiun ia malah memilih untuk menyingkir kemari. Daerah pesisir yang sepi dan sunyi, hanya nelayan dan petani yang ramai di sini. Mengapa wanciknya malah meminta ciknya untuk mempekerjakannya di gudang kecil mereka ini, gudang yang memproduksi perahu jukung berbahan fiberglass dengan kapastias maksimal hanya 15 – 20 jukung per bulan. Fikri berlalu, ia kembali ke gudang dan berharap tak ada kesalahan lagi yang dibuat wanciknya.

 

Arif menghela nafas panjang, kejadian seperti ini jauh dari perkiraannya saat pertama kali memutuskan untuk menerima permintaan wanciknya. Arif berharap banyak masukan yang bisa didapat dari pengalaman puluhan tahun wanciknya, tapi kenyataan berbanding terbalik. Wancik Munzir seharusnya pensiun total. Arif terkenang obrolan bersama wanciknya beberapa waktu lalu. Sebuah permintaan sederhana yang dianggap Arif sebagai gurauan.

“Wancik sudah terlalu lelah dengan semua hingar bingar kota Rif. Wancik suka di sini, laut dekat, pantai bersih, gunung dekat, udara bersih, malam senyap cuma ada suara jangkrik”

“Jika Wancik memang kerasan di sini dan mau kerja di tempat seperti ini Saya tidak keberatan menerima Wancik, sungguh”

“Tapi Wancik tak mau kau taruh di kantor Rif, wancik ingin banyak bergerak” Wancik berseloroh sambil meregangkan tangannya, senyumnya lebar diiringi tawa keduanya.

“Kebetulan Wancik. Fikri ingin aku fokuskan di marketing, supaya kita bisa ambil pembeli dari luar daerah. Nah Wancik bisa ambil posisi Fikri di pengawas produksi, nanti Fikri yang jelaskan sedikit kerjanya”

“Baguslah kalau begitu”

 

Bersambung…..

 

catatan kaki:

– cik : kakak termuda. Panggilan anak bungsu untuk kakak di atasnya. Beda dengan panggilan Encik/Encek

-Wancik : Paman. Adik lelaki ibu atau bapak

[Outline #1]

“Kamu makin cantik”

“Dan Kamu makin tua”

Keduanya tersenyum, tubuh keduanya makin merapat berpelukan dalam kamar tidur yang hening. Sepuluh tahun menikah dan belum memiliki keturunan tidak meyurutkan cinta keduanya. Pasangan yang berpaut usai lima belas tahun itu masih tetap setia, saling membangunkan saat subuh, siapapun yang bangun lebih dulu selalu menyiapkan sarapan untuk pasangannya. Perasaan keduanya tetap sama seperti saat pertama kali mereka mengucapkan ijab dan kabul.

Mata pasangan itu terpejam, perlahan mereka larut masuk ke alam mimpi masing – masing. Jauh masuk ke dalam kenyataan mimpi.

***

“Rum, sini ini kenalin Kak Tyo yang Bantuin mama di perkebunan. Ini Ningrum, anak bontot tante Yo masih kelas tiga SMP tapi sudah sok dewasa dah gak mau lagi di peluk – peluk” Tawa renyah Ibu Surtini diiringi langkah tergopoh Ningrum dengan wajahnya yang cemberut

“Rum, Kak Tyo ini pinter loh, klo kamu ada tugas matematika, biologi apa aja deh tar minta ajarin dia aja. Kalo dia gak mau tar bagian kebun dia mama potong” lagi – lagi Ibu Surtini tertawa lebar.

“Asal jangan cuma bisa ngajarin masalah alat reproduksi manusia aja ma” Ketus ningrum sambil berlalu.

Ibu Surtini menggeleng

“ya begitu itu nak kelakuannya, tante sampe ampun, guru – guru privat gak ada yang sanggup sama ningrum”

Tyo tertawa

“Oiya, jadi gimana kebun yang di Batuputu? kabarnya ada beberapa pohon yang patah kena angin kenceng kemaren y?”

………………

***

kak krmh ada pr

sender: Ningrum

pr apa?

sender: Tyo

matik

sender: Ningrum

Jam 7 krmh

sender: Tyo

 

“Rum, kalo tiap hari kamu minta kak Tyo ke rumah, nanti lama – lama dia minta mama bayar per jam. Lebih – lebih dari guru privat”

“Kan dulu mama yang nyuruh, kalo dia minta bayar gak pa pa, biar sekalian ningrum minta ajarin maen gitar”

. . . . . . . . . . . . . .

“Jadi lanjut SMA ke Jogja?”

“Iyalah, selesai ujian langsung berangkat”

“Kenapa gak SMA di sini aja rum?”

“yeee takut kangen y?”

“Dasar anak kecil, orang ngomong serius. Di sana siapa yang ngurusin kamu? bangun aja masih diteriakin dari pintu weee…”

“Bilang aja Kak Tyo takut kalo kangen kejauhan”

“koplak!”

.      .     .     .     .     .     .     .    .    .     .    .    .

hei anak kecil koplak, aku lagi di Jogja

sender: Tyo

ngapain?

sender: Ningrum

eh kmren yg triak2 ditelp nyrh kjogja siapa y?!

dijgja cm mmpir kok, mau ke sby bntr lg jlan

sender: Tyo

yeee gitu ya, awas kalo gak mampir!

sender: Ningrum

hahaha bcnda, gk kmn2 kok di jogja aja

sender: Tyo

aseek, plg sklah jemput y

sender: Ningrum

Males!

sender: Tyo

gitu y! y udah gk usah mampir

sender: Ningrum

haha udah ddpan sklh kok :p

sender: Tyo

>:D< (y)

sender: Ningrum

.              .                      .                     .                      .                      .                        .                .

“Kapan masuk sekolah?”

“minggu depan, semester akhir tar lagi lulus, gak berasa ya kak”

“Kuliah di mana? tetep di jogja?”

“maunya sih ke luar, boleh gak?

“Lah kok nanya saya, yang bayarin emakmu, yang kuliah kamu kok nanya saya”

“Ke Australi aah, biar makin jauh dari orang yang nyebelin”

“siapa?”

“nih yang di samping”

. . . . . . . .               . . . . . . .               . . . . . . .               . . . . . . .                 . . . . .. .           . . . . . . .

“Ma, kalo ningrum pacaran sama kak tyo gimana ya?”

“walah ningrum, usia kamu sama dia itu beda jauh, lah pacar kamu sekarang emang kenapa”

“Masih kelakuan abege banget ma, males”

“lah kamu juga kan masih SMA, rum. Gimana sih”

“cuma nanya sih ma”

“Lagian juga Tyo kan nganggep kamu udah adek sendiri, dia juga kalo nyari pacar ya yang sama – sama dewasa, yang siap nikah”

“cuma nanya maaaa, dah gak usah dibahas”

…………  ………….. ……….. ….. …………. ….. …………… ………. ….. ………………

anakkecilbawel

BUZZ!!!

BUZZ!!

wwooooiiiiiiiiii makkhhlukkk aneehhhh

Arestyo_profarm

wwooii

anakkecilbawel

paggeeeee dah sarapan blom?

Arestyo_profarm

sarapan palamu peyang, jam berapa ini?!

anakkecilbawel

stgh 7

Arestyo_profarm

kurangin 2 jam dodol

anakkecilbawel

oiya lupa :p dah tdr lg sna eh blm tdr y?

Arestyo_profarm

-_-‘

……………………….    ………………..   ………………………………   ……………………..   …………….   ……………   ……….

“Saya terima nikahnya, Ningrum binti Adiwiguna dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai”

“Bagaimana saksi – saksi?”

“sah”

“Sah”

“Alhamdulillah…..”

*****

“Pagi sayang, subuh, bangun “

Tyo mengerjap, tubuhnya masih lemah. Penyakit hati yang ia idap kembali kumat kemarin, semua urusan kebun terpaksa diserahkan ke mandor kepala, Pak Rahmat, orang kepercayaan Tyo. Ningrum membawa sebaskom air hangat untuk menyeka tubuh suaminya yang belum kuat berdiri.

“mau sarapan apa?”

senyum Tyo mengulas simpul, mata keduanya bertemu. Rasa cinta itu masih menggebu di hati keduanya. Ningrum mengecup pelan dahi suaminya. Mata lelaki 66 tahun itu berkaca – kaca

*****

“Kamu makin keriput”

“Tapi kamu masih cinta kan”

tubuh pasangan itu merapat seperti kedua mata mereka, mencoba untuk terlelap. Mata yang merapat dan cinta mereka yang makin tak terhingga. Subuh nanti salah satu dari mereka akan menyiapkan sarapan dan membangunkan pasangannya dengan kecupan lembut di dahi. Tidak mudah untuk tetap menjaga cinta selama 38 tahun menikah dan tetap tak mendapat keturunan.

—-

“Pagi sayang, mau sarapan apa?”

Tyo mengecup lembut dahi Ningrum, tubuh istrinya dingin. Tyo memejamkan mata, duduk terkulai lemas di samping kasur menggenggam tangan istrinya yang mulai kaku. Ningrum wafat dalam pelukannya, dengan senyum manis yang selalu Tyo ingat sejak pertama menikah.

Dingin angin subuh berdesir di antara daun – daun cendana yang tumbuh mengitari rumah. Rumah mereka yang dibangun di tengah kebun cendana yang sunyi semakin lengang, jangkrik mengeriyap nyaring, memberitakan kedukaan. Langit di ufuk timur mulai memerah.

****

Para pelayat telah lama meninggalkan rumah, beberapa orang tampak sibuk membereskan halaman depan rumah. Tyo merebahkan badan di kasur kamarnya, matanya terpejam, Ia mendekap erat foto Ningrum. Perlahan komposisi Moonlight Sonata dari Beethoven yang di putar Tyo mengalun di dalam kamar itu. Komposisi itu adalah kesukaan Ningrum, Ia suka mendengarkannya di teras belakang rumah setiap sore sambil menuggu suaminya pulang. Tiap sore pula seteko teh hangat menemani Tyo dan Ningrum di teras belakang, menyatukan cinta dan semua harapan mereka.

Moonlight sonata terus mengalun pelan, Tyo seperti merasakan kehadiran istrinya, mendekap hangat tubuhnya yang renta. Menggenggam tangannya yang keriput dengan erat. Bulir air mata Tyo menetes, sebaris doa keluar semoga Tuhan menyatukan mereka kembali dalam hadiratnya kelak, dan tetap bisa menyatukan cinta mereka nanti di surga-Nya.

Obrolan #1

Pembicaraan ini terjadi antara dua orang temen kantor, tempatnya di kantin. Disarikan dan ditulis ulang dari yang saya ingat 🙂

Temen 1 :Mengutuk, membenci, menghujat itu sudah menjadi kepandaian semua orang, kalo tidak mau disebut sebagai salah satu sifat dasar manusia. Mengutuk macet tapi sendirinya nyetir mobil yang ditumpangi sendirian. Macem bawa badan selebar jalan tapi marah sama bis yang dimuati lebih dari empat puluh orang. Gak kalah lucu pemerintahnya, panjang lebar ngomong mengatasi macet tapi regulasi penjualan kendaraan bermotor bukannya diperketat tapi dipermudah, malah menaikkan target penjualan setiap tahun. Ambivalen!. Kota asalmu juga, lucu, tiap tahun ribut banjir makin tinggi tapi daerah resapan ditimbun buat jadi perumahan.

Temen 2 :surprise, surprise, kaya yang ngomong paling bersih sendiri aja, kamu sadar gak semua yang kamu pake itu produknya kapitalis tapi ngakunya anti kapitalisme, anti kemapanan? knock knock knock.. rokokmu itu, memang merek lokal tapi tau kan klo sembilan puluh persen sahamnya sudah dimiliki asing? trus di kamar apartemenmu, air galon yang kamu minum tiap hari itu sudah bertentangan dengan UUD 45 apalagi dengan paham marxismu itu, tau? just admit that liberal economic system suits you, fits you exactly like a gear, baamm just like that, tolong garemnya dong. Bicara menolak tapi secara sadar  mengiyakan, apa itu namanya? bukan paradoks tapi munafik. and just like you said, mengutuk, menghujat, membenci itu sudah sifat dasar manusia, termasuk kamu.

Temen 1 : Aku sadar, sadar sesadar sadarnya yang kamu bilang tentang aku itu benar, i admit that! but, i lived inside the system without the ability to fight back, to resist and I have no allies. so the only thing i could do is spread the words, share the thought. build awareness around me setidaknya kalo kesadaran orang – orang di sekitarku sudah membaik, perlahan akan ada resistensi dari mereka minimal untuk hal – hal kecil, mengkritisi kebijakan pemerintah misalnya. Enak juga mi ayamnya.

Temen 2 : resistensi, resistensi, ujung – ujungnya ngomongin resureksi iya kan? serius, omonganmu sekarang makin gak bermutu. Nah sekarang klo kamu mau membangun kesadaran orang – orang di sekitar kamu trus apa yang sudah kamu lakukan selain ngoceh? dari dulu kamu selalu bilang kesadaran sosial muncul dari keadaan sosial terus apa lagi? perjuangan yang kamu elu elukan itu sekedar propaganda kosong teman, sekedar pengen eksis dibilang cerdas dan progresif, iya kan? akui saja.

Temen 1 : wo … wo woo… who the hell are you to judge me? ini tentang prinsip sodaraku, sikap hidup, hasilnya tidak terlihat dalam waktu sekejap.

Temen 2 :Benar! butuh waktu lama tapi setidaknya ada aksi nyata yang kamu lakuin selain ngomong sana ngomong sini, contoh, Ernesto Guevara tergugah hatinya setelah melihat kenyataan kondisi ekopol Amerika selatan saat perjalanannya mengelilingi benua itu, setelah itu ia menjadi orang yang sama sekali berbeda dari sebelumnya sampe mampu membangun perlawanan di sepanjang amerika latin dan sampe sekarang dikenal sebagai tokoh revolusioner. Mao pun seperti itu, dan kalo mau tau aslinya prinsip, tuh liat perseteruan dia dengan Liu Shaoqi soal garis revolusi itu baru soal prinsip, nah kamu? sekedar berteori kosong ngaku punya prinsip, prinsip yang mana? teori aja dapetnya dari buku.

Temen 1 : Ya kan setidaknya tidak manut saja, ada sikap kritis, percaya gak, dari obrolan kecil seperti ini saja, revolusi bisa terjadi kawan. yakinlah.

Temen 2 : Revolusi mbahmu, revolusi itu muncul dari tindakan sobat, T I N D A K A N. Revolusi tidak terjadi dari kasur. Revolusi dulu kebiasaan buruk lo, revolusi dulu diri lo baru ngomongin revolusi yang laen.

Latah bahasa #1

Celaka … celaka … kebiasaan mengganti PIN ATM tidak selamanya berdampak baik! Kartu saya ditelan tanpa basa basi oleh mesin ATM di kawasan Salemba pagi ini. Sudah menjadi kebiasaan bagi saya untuk selalu mengubah PIN ATM tiap satu bulan sekali, tapi pagi ini seolah – olah pikiran saya dikosongkan dan tanpa sadar memasukkan PIN lama tiga kali berturut turut sambil mengutuk mesin ATM yang tidak juga menerima akses kartu saya. Setelah tanda peringatan muncul dan kartu tertelan, saya tersadar baru saja kemarin malam melakukan penggantian PIN pada mesin di kawasan tempat saya tinggal.  Apa mau dikata, satu – satunya kartu ATM tersisa yang saya miliki lenyap karena kebodohan diri sendiri, untung saja di kantong masih ada selembar uang kertas sepuluh ribuan dan hanya butuh  dua kali naik angkot untuk tiba di apartemen.

Saat berada di dalam angkot kepala saya terus memikirkan ATM … ATM … ATM … anjungan tunai mandiri … automated teller machine … anjungan tunai mandiri … automated teller machine, betapa saya kagum dengan para pakar bahasa yang menemukan istilah yang pas sebagai padanan kata automated teller machine sehingga singkatan ATM tetap digunakan dalam bahasa Indonesia. Bayangkan saja jika saya yang disuruh mencari padanan katanya, mungkin yang terpikirkan adalah Mesin Kasir Otomatis, sehingga kita menyingkatnya menjadi MKO hehehe Jadi jika suatu saat kita bertemu orang asing dan mereka bertanya soal ATM kita akan kebingungan karena terbiasa dengan istilah MKO hahaha. Bukan perkara gampang menemukan padanan kata yang pas seperti itu, sayangnya sampai saat ini saya tidak mengetahui siapa orang yang berhasil memadankan dan membakukan istilah tersebut.

Dibalik kekaguman terhadap padanan kata itu, ada keresahan yang saya alami. Betapa saat ini kita, terutama kelas menengah yang hidup di kota – kota besar, sangat gemar menyelipkan istilah – istilah asing atau kosakata asing dalam percakapan sehari – hari. Bukan hal yang aneh lagi jika kita mendengan ada yang berkata – kata

“Harganya sih affordable

atau

“kayaknya proyek yang lu ajuin itu gak feasible

atau…

“sayangnya sampe saat ini belum available di sini”

apa susahnya mengganti kata affordable dengan terjangkau, feasible dengan kata layak dan available menjadi tersedia? Memang sudah rahasia umum jika penguasaan bahasa asing masih menjadi gengsi tersendiri di negeri kita, maklum saja jangankan bahasa internasional lain seperti Mandarin, Jerman atau Rusia, penguasaan Bahasa Inggris saja di Indonesia masih tergolong rendah. Jadi dengan menyelipkan sedikit kosakata asing seperti menjadi tanda bahwa yang berbicara fasih berbahasa asing.  Tapi sayangnya ternyata pengguna kosakata asing itupun ternyata penguasaan bahasa asingnya masih rendah, bahkan ada beberapa yang Bahasa Indonesia-nya saja masih kalang kabut hehehe. Sekedar menaikkan gengsi itu saja, sungguh di sayangkan ckckck.

Memang kita sadari atau tidak, dalam percakapan sehari – haripun kita tidak menggunakan Bahasa Indonesia dengna baik dan benar,bahkan dalam penulisan blog inipun saya akui tidak sepenuhnya berbahasa dengan baik dan benar. Begitu banyak terselip kata – kata daerah dan kosakata asing yang sudah seperti terbakukan ke dalam bahasa pergaulan sehari – hari. Namun, jika saja kita tidak awas dalam berbahasa, ada ketakutan dalam diri saya bahwa suatu hari Bahasa Indonesia akan semakin memudar, bukan saja karena kita terlalu latah berbahasa asing namun juga karena kebanggaan terhadap Bahasa Indonesia yang makin menurun. Mungkin ini salah satu penyakit laten pada diri bangsa ini, entah ada kaitannya atau tidak dengan lamanya penjajah bercokol di negeri kita, bangsa ini pengidap penyakit (maaf harus menggunakan bahasa asing hihihi) inferiority complex akut bin parah! selalu saja beranggapan diri ini tidak sesuai dengan standar masyarakat dunia. Segala sesuatu yang datang dari luar selalu dianggap lebih baik daripada apa yang dimiliki. Bukan sekali dua kali saya mengalami harus malu diajak teman yang terlalu antusias untuk ngobrol dengan “bule”, seolah – olah orang asing yang mereka lihat itu berderajat lebih tinggi dan pasti lebih dalam segala hal dibanding diri mereka sendiri, mental bangsa – bangsa jajahan, dan saya harus cengar cengir menerjemahkan pertanyaan – pertanyaan konyol mereka hahaha.

Syukurlah belakangan ini pemerintah sepertinya cukup tanggap dalam hal ini, makin banyak kosakata asli Indonesia yang diperkenalkan sebagai padanan kosakata asing. Misal unduh untuk kata download dan unggah untuk kata upload, cukup geli jika dulu kita sering mendengar ada teman yang minta fotonya di unggah ke jejaring sosial dengan menggunakan kata upload

“tolong aplotin (upload) foto kita kemaren ya” 🙂

sebetulnya kata – kata macam unggah dan unduh sudah ada sejak dulu dalam kosakata kita namun penggunaannya belum maksimal.

Kalo berkhayal atau memikirkan sesuatu dalam perjalan memang membuat waktu terasa berjalan sangat cepat. Angkot yang membawa saya sudah berada di depan kawasan apartemen tempat saya tinggal (bukan punya sendiri, biaya bulanan juga dibayarin hehehe), tersisa lima ribu rupiah di kantong cukuplah buat indomie rebus malam ini, besok ngantor nebeng temen terus minta anterin ke bank buat tarik uang tunai dan berharap dalam minggu ini punya waktu luang buat ngurusin ATM ke Palembang pphheewwwww

Di dalam unit, saya teringat sebuah proyek dari national geographic yang sangat ingin saya ikuti hingga saat ini. JIka saya tidak salah, proyek tersebut menelusuri punahnya sebuah bahasa di salah satu bagian afrika, saya lupa nama proyeknya. Bahasa saja bisa punah ckckck saya bergidik ngeri jika suatu hari nanti ternyata proyek tersebut dilakukan di Indonesia, meneliti punahnya Bahasa Indonesia hhiiiiii, semoga saja tidak akan pernah terjadi. wallahu’alam.

Pulau Pisang #1

Dingin, sampe subuh tadi Jakarta disiram air dari langit habis – habisan. Kata orang Februari memang puncak curah hujan, buat sebagian yang lain puncak kegalauan soalnya gak ada pasangan yang ngasih coklat pas tanggal empat belas hehehe. Hari ini baru tanggal tiga, dompet temen kantor masih tebel, keliatan dari roman mukanya waktu masuk ke kubikel masing – masing, plong, trus paper cup rame serakan di atas meja. Kalo tanggal mulai belasan dijamin kubikel pagi begini masih pada kosong, rame ngumpul deket mesin potokopi di seberang pantry ngaduk minuman panas racikan sendiri, entah kopi item, teh manis nyaris gak keliatan paper cup (Indonesianya apa y?) cafe yang isinya racikan kopi ala eropa kayak pagi ini. Kalopun ada paper cup nangkring di kubikel pagi pagi paling punya Adisti, tiap pagi dia emang selalu nenteng paper cup yang isinya coklat panas dari cafe deket kantor. Kalo aku pribadi, selalu bawa termos kopi sendiri lebih hemat dan panas sepanjang hari hehe.

Kantor ini isinya belasan orang, dijamin semuanya saling kenal, dari yang duduk paling pojok sampe yang posisinya paling strategis. Posisi strategis ditentukan dari sudut pandang menghadap Adisti, itu saja titik hehehe aku gak perlu jelasin maksud sudut pandangnya tapi yang jelas sepanjang hari kerja gak bakal terasa capek kalo bisa liat Adisti terus, dan posisi itu dimiliki oleh, beruntunglah orang itu, saya hahaha. Sebetulnya tidak ada yang terlalu istimewa dari Adisti, tapi berhubung cewek di kantor ini cuma tiga orang dan dua selain Adisti kadang – kadang lebih laki dari para lelaki di kantor maka ratu ruangan ini jelas jatuh secara mutlak ke Adisti. Dua orang cewek lagi selain Adis adalah Lupi dan Fie, terkadang bingung kalo harus membedakan cara memanggil dua makhluk ini, satu teriakan “ppiiii..” dijamin dua – duanya noleh, dan bukan kebetulan pula kalo keduanya lulus dari kampus yang sama dan sama – sama penggila kegiatan luar ruangan.

“buat elo” amplop coklat lebar yang di lemparkan lupi meleset, mulus mendarat di muka Rodi yang kebetulan lewat.

satu lagi makhluk ghaib yang bekerja di sini, dari nama saja kita bisa kenali kalo dia sudah gentayangan sejak jaman Belanda masih menjajah Indonesia.

“gue?” Rodi membolak balik amplo itu

“bukan ente bung, buat Tyo” Lupi menarik amplop besar itu dan menyerahkan ke pada yang bernama Tyo, hoho itulah aku. Makhluk paling kecil di sini, tapi dengan keberuntungan selebar langit hehehe

“Mantap” mukaku langsung sumringah begitu melihat isi amplop

“Pulau Pisang, Lampung, jatah Lo” senyum Lupi masih kalah cantik dibanding senyum pantai dari leaflet yang aku pegang.

“Ssiiaapp berangkat Bu Bos!”

kata kata dari Lupi udah gk ku gubris lagi, pikiranku langsung terbang ke Pulau Pisang. hoho macem castaway ke pedalaman, biar masih deket – deket dan gak terlalu eksotis tetap saja kesempatan mengasingkan diri ke Pulau terpencil jadi macem berkah untuk kami. Makhluk – makhluk yang biasa bebas dan karena jatah mesti masuk ke dalam kubikel di lantai dua puluh ditengah belantara Jakarta.

Amplop itu berisi penugasan seperti biasa, apa yang mesti dilakuin, apa yang mesti diambil apa yang mesti disiapkan siapa kontak selama di sana dan kepada siapa mesti ngelapor sekaligus dengan detil akomodasi dan segala tetek bengeknya. Mataku tiba – tiba melotot melihat tanggal pemberangkatan, 28 Juni 2013.

“Tidak secepaat itu anaaak mudaaa” Lupi terkekeh “Masih empat bulan lagi, jangan seneng dulu hahaha”

gak biasanya penugasan dengan masa tunda selama ini, biasanya paling lama dua bulan untuk persiapan tapi ini empat bulan hheewww

Tunggu dikau pulau pisang, kita akan segera berjumpa hehehe

Jalan #1

Cuaca siang itu sangat terik, sangat terik! mungkin perlu penekanan dengan tanda kutip, cetak miring dan garis bawah untuk menegaskan bahwa siang itu matahari mengerahkan sedikit tenaga ekstra untuk membuat siapapun yang berdiri tanpa pelindung di luar ruangan akan merasa seperti sedang di sangrai hidup – hidup. Saya bersama beberapa orang lain sedang berdiri menunggu bis AKDP yg biasa melewati jalan lintas di daerah Lampung Selatan ini. Saya sedang berada di daerah Masgar, sekitar 60 menit dari Kota Tanjung Karang, Lampung. Lima belas menit berdiri, sebuah bis AKDP tampak di kejauhan, tangan perempuan berjilbab di depan saya melambai bis pun memelankan lajunya dan berhenti tepat di depan kami. Suasan di dalam bis sudah penuh sesak, isinya rata – rata adalah orang keturunan Jawa yang sudah menetap sebagai transmigran di Lampung, maka tak heran klo percakapan di dalam bis di dominasi dengan logat totok bahasa Jawa. Yang tersisa kosong hanyalah lorong tengah antara kursi penumpang, empat orang yang baru saja naik, termasuk saya, mengisi lorong tersebut, berdiri sambil memegang batang besi bulat yang memanjang sepanjang atap bis.

Sekitar lima menit berjalan, bis masuk ke sebuah SPBU, mengantri di belakang pick up colt diesel. Seorang penjaja es berteriak – teriak menjajakan es krim produksi rumahan yang di kemas dalam gelas plastik sambil bergelantungan di pintu bis, seorang bapak berteriak dari balik pintu memanggil tukang es, segelas es krim bertukar tempat dengan selembar dua ribuan dari tangan si bapak. Sejenak hanya terdengar obrolan – obrolan dari para penumpang dan desah nafas ibu – ibu yang tertidur di pojok belakang bis, tiba – tiba pundak saya disentuh dengan tepukan pelan, saya menoleh ke belakang, seorang pemuda usia belasan meminta izin untuk lewat, ia kemudian berdiri di depan pintu bis tanpa turun, memanggil si tukang es yang mulai berjalan menjauh. Selintas saya melihat ke arah si pemuda, jeans hipster sedikit melorot dengan tutup kantong belakang dengan ukuran yang menurut saya sangat ekstrim, jaket hoodie berwarna dasar hitam dengan pola berulang berwarna hijau. Saya sebentar tertegun dan membayangkan diri saya dalam pakaian itu, saya bisa membayangkan betapa tersiksanya saya, bayangkan, dengan t-shirt tipis, jeans dengan potongan regular fit dan sendal jepit seperti ini saja saya sudah mengutuk – ngutuk hari dengan panasnya yang tidak bersahabat, apalagi jika saya harus menggunakan tambahan jaket hoodie yang entah terbuat dari bahan apa, sangat tidak terbayang jika ternyata jaket tersebut terbuat dari bahan polyester yang sangat tidak bersahabat bagi cuaca tropis. Plus celana hipster yang sangat ketat di bagian bawah, gerah dan pasti risih. Saya tersadar saat si pemuda sudah berbalik badan dan memegang segelas es krim produksi rumahan itu. Ia kembali meminta izin lewat menuju kursinya.

Mata saya tertuntun untuk melihat si pemuda, saya bisa melihat ia bersama seorang teman, saya tidak bisa jelas melihat pakaian sang teman, tapi dari kesamaan gaya rambut mereka yang menyembul di balik sandaran kursi bis, saya bisa menebak klo gaya berpakaian mereka serupa. Gaya rambut mereka berpotongan seperti Andhika (vokalis Kangen Band) berwarna sedikit kemerahan, entah warna tersebut dihasilkan dari pewarna rambut atau akibat dari terjemur matahari. Mereka berbincang – bincang, tertawa kecil. Bis yang kami tumpangi kembali berjalan, si ibu di pojok terbangun karena bis menghentak lubang yang ada di jalan keluar SPBU. Perhatian saya masih tertuju ke arah si pemuda bersama temannya, terlihat sangat percaya diri dengan semua atribut yang melekat pada tubuhnya, tidak perduli banyak yang beranggapan gaya itu sering diasosiasikan dengan gaya dandanan yang norak atau kampungan.

Irama monoton laju mesin yang sesekali di selingi suara derak dan decit tiba – tiba berganti, sang supir menyalakan tape dek yang dipasang tepat di atas kepalanya. Saya tau lagu ini, saya tau siapa penyanyinya, saya tau video klip musiknya bahkan saya sangat jelas mampu mengingat wajah sang vokalis. Sekilas saya melihat si pemuda bersama temannya menggoyang – goyangkan kepala tanda mereka menyukai dan sangat familiar dengan musik yang diputar si sopir. Musik berirama mendayu dengan lirik yang seadanya dan komposisi musik secukupnya. Musik yang juga diasosiasikan dengan gaya dandan si pemuda, juga di asosiasikan sebagai musik kampungan. Bahkan banyak musisi – musisi lain yang menilai musik seperti ini hanyalah sampah, musik tak layak dengar dan sebagainya, belum lagi para analis yang menilai bahwa musik seperti ini dibuat hanya utuk memenuhi keinginan industri. Okelah saya tidak ingin terlalu jauh bicara tentang musik ini itu dan tetek bengeknya, saya bukan musisi, hanya penikmat yang tidak fanatis terhadap satu aliran musik saja. Saya hanya merasa kasian kepada orang – orang seperti si pemuda, dicap kampungan (dengan konotasi yang jelek, walaupun pada dasarnya memang orang kampung, sayapun juga orang kampung) bahkan sekarang diberi label alay dengan segala definisinya (sejauh yang saya baca tidak ada definisi positif untuk alay) siapa kita yang berhak untuk menilai orang lain? atas dasar apa kita boleh menilai perilaku seseorang? atas dasar apa kita bisa mengatakan bahwa kita jauh lebih superior dibanding orang – orang tersebut?

Tiba di terminal rajabasa, saya kembali melihat beberapa orang dengan dandanan persis seperti pemuda di dalam bis tadi. Tiba – tiba saja rasanya tubuh saya seperti berada di dalam oven membayangkan pakaian mereka di cuaca yang seterik ini. Tapi mereka terlihat santai, berjalan melintasi terminal yang gersang sambil membawa beberapa tas dengan ukuran lumayan besar. Ingin rasanya saya tawarkan minuman botol ber-ion milik saya kepada mereka, saya takut mereka dehidrasi 🙂 tentu saja niat itu tidak saya lakukan. Mata saya melirik jam tangan, pukul empat lewat dua puluh sore hari, saya harus bergegas. Bis yang akan membawa saya menyebrang selat sunda menuju tempat penugasan yang baru di daerah Jakarta Timur akan berangkat pukul lima sore ini. Semua yang berawal akan berakhir, dan setiap akhir akan membawa awal baru. Semoga.